Coaching 101 – Mind Reading

Selamat Pagi dan Apa kabar? Apakah Anda pernah mendengar istilah “mind reading”? Wah, sepertinya keren ya bila punya semacam kemampuan untuk bisa membaca pikiran orang lain. Sayangnya kekuatan seperti itu hanya ada di film-film fiksi superheroes.

 

Bagaimana kenyaannya? Apakah ada orang-orang biasa seperti saya dan Anda yang melakukan mind reading? Istilah ini di dunia nyata tentulah bukan tentang kekuatan super. Istilah ini terjadi dalam konteks komunikasi.

mind reading

Ada dua bentuk mind reading dalam konteks komunikasi. Seseorang melakukan mind reading ketika:

 

  1. Dia mengaku tahu, tanpa bukti langsung, apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Misal:

“Atasan saya tidak pernah peduli dengan hasil pekerjaan saya.”

 

  1. Dia yakin orang lain memahami pikiran, perasaan, atau keinginannya tanpa perlu dia kasih tahu. Contoh:

“Dia seharusnya paham dong alasan saya musti mengambil keputusan ini.”

 

Konsekuensi ketika melakukan mind reading, seseorang bisa salah paham dan dia akan mengambil tindakan yang keliru dan bisa memperparah keadaan.

 

Ketika kita mengidentifikasi coachee melakukan mind reading, kita musti membantunya untuk mengklarifikasi pola pikirannya itu.

 

Cara melakukan klarifikasinya bagaimana?

 

Gunakan pola pertanyaan pembuka sbb: “Bagaimana [Subyek] tahu …?”

 

Contoh klarifikasi untuk membaca pikiran di atas jadinya seperti ini:

 

  1. “Atasan saya tidak pernah peduli dengan hasil pekerjaan saya.” Pertanyaan klarifikasi: “Bagaimana Anda tahu bahwa atasan Anda tidak peduli dengan hasil pekerjaan Anda?”

 

  1. “Dia seharusnya paham dong alasan saya musti mengambil keputusan ini.” Pertanyaan klarifikasi: “Bagaimana dia tahu alasan Anda untuk mengambil keputusan ini?”

 

Coaching bicara tentang membuka potensi diri, dan terkadang hal ini dilakukan dengan men-challenge proses berpikir coachee sehingga mendapatkan kesadaran baru yang lebih memberdayakan dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Strategi Penjualan – Belajar selling dari film Avengers:Endgame (4)

 

Apa yang akan kita bahas pada kali ini? Tentunya adalah strategi penjualan. Kepada siapa kita menjual, kapan waktu yang tepat, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana cara menjualnya, dan dimana kita menjualnya. Strategi penjualan merupakan hal yang cukup penting dari bagian sebuah penjualan. Tanpa adanya strategi yang benar, kita bisa berjalan tanpa arah yang jelas dalam mengarungi dunia persalesan.

 

Bila yang lalu kita membahas mengenai ide selling di film Avengers:Endgame. Pada tulisan yang lalu kita sudah berbicara mengenai ide yang sudah menjadi suatu produk dan produk yang sudah diuji coba atau test market sehingga menjadi produk yang cukup sempurna untuk terjadinya selling. Kita sebagai sales tentunya ingin bisa menjual atau selling produk yang baik tentunya. Sehingga selling bisa terjadi. Klien yang membelinya atau menggunakan pun tidak merasa dirugikan.

strategi penjualan

Who, When, What, How, dan Where.

Tentunya kita ingin apa yang dilakukan adalah tepat sasaran jangan salah target. Sehingga kita tidak membuang waktu percuma.

 

Kembali pada film Avengers:Endgame, apa yang mereka lakukan pada fase ini. Strategi apa yang mereka lakukan dalam mewujudkan terjadinya selling point? Atau bila pada film, strategi apa yang mereka lakukan supaya rencana time travel itu bisa berjalan dengan baik sehingga dunia terselamatkan dan menjadi sedia kala. Ini semua ada pada film tersebut jawabannya.

 

Seperti kita tahu, mereka di pecah menjadi beberapa Tim. Kenapa? Karena ini adalah tim work atau kerja tim. Mereka bisa membagi tugas sehingga bisa dikerjakan secara bersama dan tidak membuang waktu. Yang kita cari bukan hanya kerja keras tapi kerja pintar. Dimana bisa memanfaatkan sumber daya yang kita punyai dalam keberhasilan penjualan suatu produk atau jasa. Dimana mereka harus berjualan di tempat yang tepat dan waktu yang tepat pula, yang disesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing.

 

Kita akan bahas ini satu persatu ya teman-teman mulai dari who, where, when, how dan what nya mereka ya. Terlihat klise tapi ini yang terjadi dalam dunia film dan dunia selling. Strategi penjualan tidak lepas dari 5 poin tersebut. Kita akan bahas ini pada tulisan berikutnya ya teman-teman.

Leading Questions- Coaching 101

 

Selamat Pagi dan Apa kabar? Proses coaching yang sesuai dengan kode etik dan kompetensi inti ICF adalah dalam bentuk percakapan yang menuju pada agenda yang ditentukan oleh coachee. Jadi, sebagai coach, tugas kita adalah memfasilitasi coachee untuk mencapai tujuan yang dia inginkan, bukan yang coach inginkan. Adakalanya kondisi di atas bisa terganggu yang disebabkan tanpa disadarinya coach mengarahkan coachee untuk mengikuti apa yang coach inginkan. Ini istilahnya adalah leading. Bentuk leading yang paling sering coach lakukan tanpa dia sadari adalah yang dalam bentuk pertanyaan, atau leading question.

 

Contoh:leading question

“Sudahkah Anda membicarakan hal tersebut kepada atasan?”

“Sepertinya, kita perlu membahas tentang kasus A dulu kan?”

 

Kalau kita perhatikan ciri utama leading questions berdasarkan kedua contoh di atas adalah pertanyaamnya dalam bentuk closed questions. Yaitu jenis pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.

 

Ketika coachee ditanya dengan closed questions, besar kemungkinan dia akan menangkap ide yang tersembunyi di pertanyaan tersebut, dan ide tersebut bukan dari diri dia. Lalu dia cenderung menganggap ide tersebut benar dan dia terima. Semua ini terjadi di luar kesadarannya. Akhirnya, dia jadi mengikuti agenda coach.

 

Lalu bagaimana agar pertanyaan coach tidak jadi leading question? Triknya sederhana, yaitu mengubah pertanyaan tersebut menjadi open questions, yaitu jenis pertanyaan yang membutuhkan pemikiran dari coachee.

 

Jadi kedua contoh pertanyaan di atas menjadi:

 

“Apa saja yang Anda sudah lakukan berkaitan dengan hal tersebut?”

“Dari kedua kasus yang Anda telah ajukan, yang mana yang Anda ingin kita bahas terlebih dahulu?”

 

Ketika menggunakan open questions, maka akan memancing coachee untuk memikirkan kondisinya dengan proses kreatif, dan tetap fokus pada agenda dia. dan berikan coachee dalam pikirannya sehingga akan mendapat pencerahannya sendiri. jangan diganggu pada saat coachee berpikir, karena dengan mengganggu akan menjadi masalah baru yang muncul nantinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Interupsi – Coaching 101

Selamat Pagi dan Apa kabar? Apa kabar? Setelah membaca tulisan saya sebelumnya, seorang teman bertanya, “Apakah memotong pembicaraan coachee selalu dilarang? Adakah bentuk interupsi yang diijinkan?”

interupsi

Hmmm, menarik ya. Dan jawabannya adalah YES, ternyata ada bentuk interupsi yang diperbolehkan.

 

Ketika pertama kali mengadakan pertemuan dengan calom coachee, kita sebetulnya punya banyak kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang dia. Bukan hanya tentang kondisi atau tantangan yang sedang dia hadapi, kita seharusnya juga memperhatikan kebiasaan dia saat berbicara.

 

Apakah dia termasuk orang yang pendiam, bicara yang singkat-singkat dan seperlunya saja? Atau malah sebaliknya, dia tipe orang yang aktif berbicara, tidak bisa tutup mulut walau hanya sedetik, atau istilahnya ‘cerewet’? Apakah dia berbicara secara urut dan teratur, atau melompat-lompat dari satu topik ke topik berikutnya?

 

Nah dari situ kita bisa mengamati bila dia termasuk pembicara yang ramai, topiknya lompat-lompat, atau bahkan sampai melebar sehingga kita sulit untuk memahami apa inti pembicaraannya.

 

Dan di saat inilah interupsi diperbolehkan. Semangatnya tetap sama, yaitu kita menjaga dan memastikan agar tujuan coachee untuk coaching tetap menjadi fokus utama.

 

Walaupun diijinkam, kita tetap musti melakukannya dengan cara yang elegan. Agar coachee tidak sampai tersinggung, kita bisa melakukan setting the frame di awal sesi coaching.

 

Comtohnya seperti ini:

 

“Agar sesi coaching kita hari ini bisa efektif dan bisa membantu mencapai tujuan Anda semaksimal mungkin, ketika mercakapan kita dirasa sudah melebar, saya mohon ijin sebelumnya untuk menginterupsi ya. Sekali lagi hal ini tujuannya agar sesi coaching kita bisa memenuhi harapan Anda sebesar mungkin.”

 

Ketika kita sudah melakukan setting frame seperti di atas, coachee tidak akan tersinggung ketika kita menginterupsi percakapannya. Hal ini karena dia tahu bahwa kita melakukan itu demi kepentingan dia juga, sehingga trust dan intimacy tetap terbangun.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Tidak Interupsi – Coaching 101

Selamat Pagi dan Apa kabar? Apa kabar? Interupsi dalam percakapan coaching adalah perilaku yang sangat dihindari oleh seorang Coach. Karena ketika seorang Coach menginterupsi, dia berpotensi tidak memenuhi paling tidak 3 kompetensi inti ICF, yaitu Establishing Trust and Intimacy, Coaching Presence, dan Active Listening. mampu kah kita sebagai seorang coach untuk tidak interupsi dalam sebuah percakapan coaching.

tidak interupsi

Bukan hanya membuatnya tersinggung serta merusak trust dan keakraban, namun interupsi bisa menghambat proses berpikir kreatif seorang coachee. seorang coach harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan interupsi.

 

Berikut adalah beberapa tips agar kita sebagai Coach tidak menginterupsi coachee:

 

  1. Jaga presence dan active listening kita. Ketika coachee sedang berbicara, fokus pada key words yang dia ucapkan. Jangan memikirkan pertanyaan apa yang akan kita ajukan berikutnya karena hal ini bisa menggoda kita untuk menyela ucapannya. Percayakan pada intuisi Anda untuk menuntun bertanya berdasarkan berbagai key words yang kita tangkap. biarkan coachee menyelesaikan perkataannya atau jawaban yang kita ajukan kepadanya.

 

  1. Ketika suara kita dan coachee ‘tabrakan’, segera berhenti, beri kesempatan coachee berbicara. Apabila coachee tidak bicara, persilahkan dia melanjutkan ucapannya. dengan begitu seorang coach juga akan makin terlatih dalam menahan diri untuk tidak buru-buru atau segera menanyakan hal yang baru kepada coachee. berikan jeda waktu sekian detik dalam setiap memberikan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. karena bisa jadi coachee masih ada hal-hal yang ingin disampaikan.

 

  1. Ketika kita selesai bertanya dan coachee tetap diam, jangan berasumsi apa-apa. Biasanya dia terdiam karena sedang memproses pertanyaan tsb. Toh bila memang coachee bingung dengan pertanyaan kita, dia pasti akan bertanya. Nah, barulah kita bisa mengulangi pertanyaan tsb atau menggunakan pertanyaan lain yang bisa dia pahami. kesabaran dan kepekaan seorang coach akan terlatih dengan sering melakukan coaching.

 

Mulai sekarang silahkan berlatih menerapkan tips di atas untuk menghilangkan kebiasaan interupsi kita.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Test Market – Belajar selling dari film Avengers:Endgame (3)

Apakah teman-teman sudah membaca tulisan yang sebelum nya? Bila belum silahkan baca dulu ya, 2 tulisan sebelumnya. Kita akan belajar selling melalui film Avengers:Endgames. Bila pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas bagaimana suatu ide itu bisa menjadi produk yang bisa menjadi nilai jual atau bisa terjadi selling. 2 pembahasan kemaren adalah bagaimana suatu ide akhirnya bisa terwujud menjadi produk yang siap jual. Bukan hanya ide atau angan-angan tapi sudah berbentuk produk yang bisa dilihat, dipegang, disentuh dan lainnya. Sudah ada nilai jual, selling point nya sudah ada. selanjutnya adalah test market

Kita akan masuk ke tahap selanjutnya, tahap ke 3.

Apakah produk tersebut sudah bisa kita jual? Bisa jawabnya. Tapi apakah sudah benar siap? Jawabnya belum, karena belum teruji produk tersebut. Apakah sudah layak jual dan “aman”. Pada tahap ini kita harus uji coba, atau test market produk tersebut. Misal produk yang mau kita jual itu adalah makanan, kita coba makanan tersebut sendiri atau bisa dibagikan ke tetangga atau teman. Kita bisa Tanya pendapatnya, bagaimana rasa nya atau mungkin bentuknya, packaging nya, dan lain sebagainya. Apakah sudah bisa dilakukan selling? Apa yang kurang dari produk tersebut harus kita perbaiki sehingga menjadi produk yang lebih baik. Jangan sampai produk kita luncurkan dengan bentuk yang asal. Maksudnya jangan sampai pelanggan kecewa akan produk tersebut. Pikirkan efek yang akan terjadi pada perusahaan tempat kita bernaung.

Kembali pada film Avengers:Endgame.

Apa yang dilakukan tim avengers setelah produk atau time machine buatan Bruce banner bisa dibuat berdasarkan ide Ant Man? Yaitu mereka melakukan uji coba / test market terlebih dahulu sebelum benar melakukan “selling” atau action untuk mengalahkan Thanos bila pada film ini.

test market

Apa yang terjadi saat uji coba / test market ? Produk tersebut bisa bekerja, tapi tidak sempurna karena waktu yang dibutuhkan tidak cukup. Dengan adanya masalah tersebut, artinya produk tersebut belum dapat di selling. Kembali mereka mencari tahu bagaimana memperbaikinya. Siapa yang membuat produk ini menjadi lebih baik dan bisa berfungsi? Iron Man yang menjadi kunci selanjutnya. Dia akhirnya bersedia bekerja sama dengan yang lainnya. Ide Antman yang sekedar wacana saja, bisa diwujudkan dengan kerja sama tim yang baik, antara Hulk dan IronMan.

Dan akhirnya produk tersebut siap untuk di jual. Selling bisa terjadi. Time travel bisa dilakukan, dan dunia bisa terselamatkan. Tapi pada tahap ini saja belum cukup untuk melakukan selling yang terbaik. Apa yang harus dilakukan pada tahap selanjutnya? Kita akan bahas ini pada tulisan selanjutnya. Sabar ya.

Belajar tanpa henti

Siapa pun yang hidup didunia ini pasti akan mengalami tahap belajar, tidak pernah berhenti selama kita hidup. Hanya orang yang sudah meninggal yang tidak akan belajar lagi. Artinya bila kita sudah berhenti akan belajar. Bisa dibilang sebentar lagi kita akan meninggal. Mungkin terlihat extreme ya kalimatnya. Tapi itu lah yang terjadi di dunia ini.

Mulai dari bayi kita belajar.  Minum susu, makan, berdiri, berjalan dan lain sebagainya. Disini kita belajar dari orang tua, ibu dan ayah kita. Mereka lah guru pertama kita. Begitu masuk umur sekolah kita belajar di sekolah.  Mulai membaca, menulis dan berhitung. Di umur sekolah inilah kita banyak menyerap ilmu pengetahuan dari bapak / ibu guru di sekolah. Selanjutnya kita di perguruan tinggi, disana para dosen mengajari kita sesuai dengan jurusan yang kita pilih. Untuk modal kita mendapat pekerjaan di perkantoran nanti atau untuk berbisnis sendiri.

belajar tanpa henti

Begitu memasuki dunia pekerjaan , kita juga mendapat ilmu dari para senior yang sudah lebih dahulu memahami akan pekerjaan yang akan kita jalani nantinya. Bila kita ingin mengembangkan ilmu yang kita punyai kita akan mencari segala informasi di luar sana di berbagai tempat. Banyak tempat pelatihan yang menawarkan berbagai hal yang bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Kita ingin mendapatkan mengenai apa? Para trainer dan pelatih lah yang akan memberikan informasi yang mereka punyai untuk kita serap.

Selain itu kita juga tetap belajar dari pengalaman yang kita dapat. Baik itu pengalaman yang baik dan buruk. Akan ada selalu hikmah yang didapat untuk kelak kita manfaatkan di masa depannya. Tinggal kita yang mengalaminya, melihatnya dari sisi positif atau negatif. Seburuk apapun hal yang terjadi, pasti ada hal positif yang bisa diserap. Umur berapapun kita, belajar hal yang terus harus kita alami.

Kita akhirnya bisa menjadi guru untuk orang lain nantinya. Kita akan mulai menurunkan ilmu yang kita pelajari selama ini untuk orang lain. Siapa orang lain ini? Bisa dilihat siklus hidup akan terus berputar. Kita akan menjadi orang tua, mengajarkan kepada anak-anak kita. Akan mengajarkan kepada bawahan atau karyawan kita dalam pekerjaan. juga mengajarkan banyak hal kepada sesama. Hal yang bermanfaat untuk mereka tentunya.

Itulah siklus hidup,  belajar adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Belajar untuk diri sendiri dan akhirnya kita lah yang akan memberikan ilmu yang kita punyai untuk orang lain.

Coaching 101 – Interupsi

Selamat Pagi!

 

Apa kabar?

 

Teman-teman, di saat Anda sedang mengatakan sesuatu, pernahkah mengalami tiba-tiba seseorang memotong omongan Anda sebelum selesai? Gimana rasanya? Sebagian besar pasti bilang rasanya gak enak ya. Bahkan mungkin ada yang sampai tersinggung.

korpora coaching practitioner certification program

Di dalam percakapan coaching, memotong atau menghentikan coachee yang sedang berbicara bisa berdampak besar.

 

Ketika seorang Coach menginterupsi, dia berpotensi tidak memenuhi paling tidak 3 kompetensi inti ICF, yaitu Establishing Trust and Intimacy, Coaching Presence, dan Active Listening. Bukan hanya membuatnya tersinggung serta merusak trust dan keakraban, namun bisa menghambat proses berpikir kreatifnya.

 

Lalu interupsi seperti apa saja yang bisa terjadi saat proses coaching?

 

  1. Interupsi yang paling jelas adalah ketika coachee sedang berbicara, tiba-tiba coach-nya menyelanya sehingga coachee berhenti. Mungkin coach-nya itu terlalu fokus pada pertanyaan yang dia ingin ajukan sehingga dia lupa untuk fokus pada coachee-nya.

 

  1. Interupsi yang lain adalah ketika coachee selesai berbicara lalu di saat coach-nya mulai bertanya, coachee juga melanjutkan bicaranya tadi sehingga suara coach dan coachee seperti ‘tabrakan’. Bukannya berhenti, suara coach-nya malah ‘ngegas’ terus bicara yang akhirnya membuat coachee mengalah dan berhenti bicara.

 

  1. Jenis interupsi ketiga adalah ketika coach selesai bertanya namun coachee-nya tetap diam beberapa saat sehingga coach bicara lagi, dengan asumsi coachee tidak mengerti dengan pertanyaan sebelumnya. Padahal belum tentu coachee tidak paham dengan pertanyaan coach. Lebih besar kemungkinan saat coachee diam dia sedang memproses pertanyaan tsb. Ini seperti sebuah search engine yang masih memproses namun tiba-tiba kita stop sehingga tidak memunculkan informasi yang lengkap.

 

Nah, dengan mengetahui ketiga jenis interupsi di atas, mulai sekarang silahkan berlatih untuk lebih mengendalikan diri untuk tidak melakukannya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Memahami produk – Belajar selling dari film Avengers:Endgame (2)

Masih ingat pembahasan yang lalu? Dengan ada nya ide atau produk yang akan kita tawarkan? Itu belum menjadi sesuatu yang bisa dijual oleh para sales. Belum bisa menjadi nilai selling untuk kita. Produk tersebut belum siap. Bagaimana caranya supaya siap? Kita masuk ke pembahasan point ke 2, Memahami produk.

Apa sih point ke 2 nya?

Yaitu menyiapkan ide menjadi produk atau memahami produk yang kita punyai.

Selling tidak akan terjadi dari sekedar munculnya wacana atau adanya suatu produk. Kenapa? Karena kita belum memahami apa manfaat dari produk tersebut, atau belum mengenal produk tersebut. Kita tidak akan bisa nekad maju melakukan selling bila kita belum paham akan produk tersebut. Kita mesti paham product knowledgenya.

Cari tahu dan pelajari ide atau produk tersebut. Bagaimana caranya supaya bisa menjualnya. Kepada siapa kita pergi atau menghubungi siapa? Supaya bisa paham. Tentunya kita pergi atau berdiskusi kepada orang yang lebih paham akan produk tersebut untuk belajar.

Pada film Avengers:Endgame ini juga terjadi. AntMan mempunyai ide tapi dia tidak mampu menjalankan ide tersebut sendirian. Dia tidak punya resource untuk itu. Baik itu tenaga, tim, dan lainnya. Apa yang akhirnya dilakukannya? Dia mencari orang yang bisa di hubungi untuk berdiskusi? Siapa yang dia cari pertama kali?

Leadernya yaitu Captain America. Dia menyampaikan semua idenya. Sampai disini, apakah solve? Apakah ide atau produk tersebut bisa di jual? Apakah selling sudah bisa dilakukan?

PEMAHAMAN PRODUK

Tentunya belum. Karena Captain America juga tidak mampu menjawabnya. Secara keilmuan dia tidak bisa mengeksekusinya. Tapi sebagai leader yang baik dia menampung ide tersebut dan mencoba mencari solusi selanjutnya. Apa yang dia lakukan? Dia bersama tim nya, pergi menemui orang yang lebih ahli dalam bidangnya ini. Mereka menemui Iron Man yang secara ilmu lebih paham dan mampu menjawab.

Selesaikah masalah tersebut? Ternyata tidak, ada masalah lain yang membuat Iron Man belum mau melakukan hal tersebut. Tapi itu tidak membuat Captain America putus asa mendapatkan “penolakan” tersebut. Apa yang dia lakukan selanjutnya? Dia langsung mencari orang lain yang bisa membantu menyelesaikannya. Yaitu Bruce Banner yang ternyata sudah berbaikan dengan Hulk.

Dari Bruce Banner lah akhirnya mereka dapat mendapatkan dan mengeksuksi bisa atau tidak nya ide ini dilakukan.

Artinya ide tersebut bisa diwujudkan menjadi produk. Sekarang sudah bukan ide lagi tapi sudah menjadi produk, sesuatu yang bisa kita lihat secara visual bukan angan-angan lagi. Selling bisa terjadi.

Apa proses selanjutnya yang harus dilakukan? Sebelum melaunching nya produk tersebut?

Kita akan bahas ini pada pembahasan selanjutnya ya.

Coaching 101 – 7 Fasa Percakapan Coaching

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ada seseorang yang belajar coaching bertanya kepada saya, “adakah sebuah alur coaching yang sederhana, namun bukan dalam bentuk kompetensi yang terpisah-pisah tapi dalam bentuk urut-urutan proses atau yang semacamnya?”

 

Saya berpikir, “menarik juga.” Maka saya mulai menemukan beberapa versi urut-urutan tsb. Saya tidak mengklaim bahwa semuanya itu sudah perfect, pasti perlu banyak penyempurnaan.korpora coaching practitioner certification program

 

Salah satu versinya adalah yang saya namakan *7 Fasa Percakapan Coaching*. Saya membagi sebuah proses coaching menjadi 7 fasa percakapan. Berikut saya jabarkan setiap fasa tersebut:

 

  1. Fasa Pembuka. Ini adalah percakapan yang mengawali proses coaching. Contoh:

“Sesi kita akan berjalan selama kurang lebih 45 menit. Apakah siap?”

“Apakah ada hal lain yang Anda perlu selesaikan dulu sebelum kita mulai?”

 

  1. Fasa Peninjauan. Selanjutnya adalah bentuk percakapan yang menindaklanjuti hasil dari sesi sebelumnya. IMisalnya:

“Hal-hal apa saja yang pening untuk kita bahas sejak pertemuan terakhir kita?”

“Apa saja yang sudah terjadi berkaitan dengan goal Anda?”

 

  1. Fasa Topik. Sekarang adalah saatnya Anda menggali apa yang paling berarti bagi coachee Anda untuk dibahas:

“Apa yang Anda ingin bahas sekarang?”

“Mengapa hal itu begitu penting buat Anda untuk kita bahas?”

“Apa kaitan hal ini dengan goal besar Anda?”

 

  1. Fasa Perubahan Baru. Ini adalah percakapan yang akan memfasilitasi perubahan baru bagi coachee di sesi ini. Prosesnya diawali dengan pertanyaan seperti:

“Apa yang Anda ingin dapatkan di akhir coaching kita hari ini?”

“Apa yang menjadi bukti bahwa percakapan hari ini memberi nilai tambah buat Anda?”

“Apa tandanya bahwa Anda sudah mendapatkan tujuan dari percakapan ini?”

 

  1. Fasa Tindakan Nyata. Setelah coachee mendapatkan perubahan penting di dirinya, kini saatnya menggunakannya untuk semakin mewujudkan goal besar di akhir program coaching dalam bentuk berbagai tindakan. Bentuknya adalah:

“Langkah realistis apa yang Anda akan lakukan selanjutnya?”

“Apa yang Anda akan lakukan untuk semakin mendekatkan diri ke goal besar Anda?”

“Dalam bentuk apa Anda akan memanfaatkan pemahaman baru Anda ini untuk mencapai sasaran?”

 

  1. Fasa Pemastian. Berikutnya Anda perlu memastikan agar coachee benar-benar akan melaksanakan rencana tindakan tsb. Contoh:

“Apa yang mumgkin bisa menghambat rencana tersebut? Apa antisipasi Anda?”

“Bagaimana memastikan bahwa Anda akan melakukan semua rencana ini?”

 

  1. Fasa Check Point. Ada kalanya Anda perlu memastikan agar percakapan coaching selalu sesuai dengan agenda coachee. Caranya adalah:

“Apakah sejauh ini percakapan kita masih sesuai dengan harapan Anda?”

“Apakah menurut Anda kita masih on track dengan tujuan Anda hari ini?”

“Apa yang sebaiknya kita musti bahas selanjutnya?”

 

Ketujuh fasa percakapan coaching di atas adalah struktur yang bisa digunakan terus untuk memastikan agar fluiditas coaching menjadi efektif.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC