By Coach M. Adithia Amidjaya
Coaching – Pernahkah Anda merasa, ketika berdiskusi dengan atasan, suasananya lebih seperti sedang dikuliahi ketimbang berdialog? Atau bahkan merasa sedang “diinterogasi” dengan pertanyaan-pertanyaan yang menekan?
Bisa jadi, perasaan tersebut muncul karena jenis pertanyaan yang digunakan oleh atasan. Pertanyaan instruktif dan reflektif memiliki peran penting dalam coaching dan kepemimpinan. Kualitas pertanyaan ini menentukan arah percakapan, membuka wawasan baru, serta membantu coachee menemukan solusi secara mandiri. Pertanyaan bisa menjadi jembatan untuk membuka kesadaran, atau justru menjadi tembok yang membatasi kreativitas.
Karena itu, penting bagi seorang pemimpin, coach, atau pembimbing untuk memahami perbedaan antara pertanyaan instruktif dan reflektif.
Apa Itu Pertanyaan Instruktif?
Pertanyaan instruktif sebenarnya terdengar seperti sebuah pertanyaan, namun di baliknya tersimpan maksud untuk menggiring orang ke arah jawaban tertentu.
Ciri-ciri pertanyaan instruktif:
-
Mengandung asumsi dari si penanya.
-
Lebih terasa seperti instruksi halus daripada pertanyaan tulus.
-
Membuat lawan bicara merasa diinterogasi atau diuji.
Contoh pertanyaan instruktif:
-
“Kamu sudah coba cara A belum?”
-
“Kenapa kamu nggak mengikuti prosedur yang benar?”
-
“Bukankah lebih baik kalau kamu lakukan seperti ini?”
Jenis pertanyaan ini memang bisa mempercepat proses instruksi, tetapi efek jangka panjangnya sering negatif. Orang yang ditanya bisa merasa minder, takut salah, atau bahkan kehilangan ruang untuk berpikir mandiri. Akhirnya, mereka hanya mengikuti arahan tanpa benar-benar memahami alasan di baliknya.
Apa Itu Pertanyaan Reflektif?
Berbeda dengan instruktif, pertanyaan reflektif bertujuan membuka ruang dialog internal. Pertanyaan ini tidak berfokus pada memberi arahan, melainkan membantu orang menemukan jawabannya sendiri.
Ciri-ciri pertanyaan reflektif:
-
Netral dan tidak menghakimi.
-
Mengundang eksplorasi, bukan penilaian.
-
Membuka peluang introspeksi dan kesadaran diri.
Contoh pertanyaan reflektif:
-
“Apa yang membuat kamu memilih pendekatan itu?”
-
“Apa pelajaran yang kamu ambil dari pengalaman ini?”
-
“Bagaimana jika kamu melihat situasi ini dari sudut pandang berbeda?”
-
“Apa arti hasil ini bagi kamu secara pribadi?”
Pertanyaan reflektif membuat seseorang merasa dihargai dan didengarkan. Efeknya sangat kuat: mereka menjadi lebih percaya diri, lebih bertanggung jawab atas keputusan, serta mampu berpikir lebih mandiri.
Pertanyaan Instruktif vs Reflektif: Kapan Digunakan?
Lalu, apakah pertanyaan instruktif selalu buruk? Tidak juga. Dalam kondisi tertentu, instruktif tetap bermanfaat, misalnya saat:
-
Memberikan arahan cepat di situasi mendesak.
-
Menegaskan aturan atau prosedur yang tidak boleh dilanggar.
-
Membantu orang baru memahami kerangka kerja dasar.
Namun, jika tujuan Anda adalah mendorong pertumbuhan jangka panjang, membangun kepemilikan, dan menumbuhkan kemandirian tim, maka pertanyaan reflektif jauh lebih tepat.
Perbandingan singkat:
-
Pertanyaan instruktif → memberi arah.
-
Pertanyaan reflektif → membuka kesadaran diri.
Mengapa Pemimpin dan Coach Perlu Menguasai Keduanya?
Dalam peran sebagai pemimpin, coach, atau pembimbing, kualitas pertanyaan Anda dapat menjadi pembuka jalan bagi orang lain untuk berpikir lebih dalam. Pertanyaan instruktif mungkin cepat menyelesaikan masalah, tetapi pertanyaan reflektif membantu orang tumbuh sebagai individu yang lebih mandiri.
Seorang coach profesional tahu kapan harus mengarahkan, dan kapan harus memberi ruang refleksi. Keseimbangan inilah yang membuat percakapan lebih bermakna, sekaligus meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain.
Kesimpulan: Pertanyaan Kecil, Dampak Besar
Pertanyaan bukan hanya alat komunikasi, melainkan alat transformasi. Dengan memahami perbedaan pertanyaan instruktif dan reflektif, Anda bisa menciptakan percakapan yang lebih sehat, mendalam, dan membangun kesadaran.
Mulai hari ini, cobalah tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya sedang bertanya untuk memberi jawaban, atau untuk membantu orang lain menemukan kesadaran dirinya?”
Perbedaan kecil dalam cara bertanya bisa menghasilkan perubahan besar dalam cara orang belajar, tumbuh, dan mengambil keputusan.
Baca Juga : NLP Untuk Leader dan Supervisor: Kunci Memimpin dengan Komunikasi dan Pengaruh Positif
Temukan Program Pelatihan yang Tepat untuk Pengembangan Diri & Tim Anda
Ingin meningkatkan skill komunikasi, penjualan, atau pengembangan diri secara profesional? Kunjungi situs resmi kami untuk informasi lengkap seputar pelatihan berkualitas dan terpercaya:
Rekomendasi Situs Pelatihan dan Pembelajaran Online:
- pastiprestasi.com
Platform e-learning interaktif untuk peningkatan kompetensi dan produktivitas kerja. Cocok bagi Anda yang ingin belajar mandiri secara fleksibel dengan materi aplikatif. -
nlpleadershipindonesia.com
Pusat pelatihan Neuro-Linguistic Programming (NLP) bersertifikasi resmi di Indonesia. Cocok untuk Anda yang ingin mengembangkan skill komunikasi, coaching, dan perubahan mindset melalui pendekatan NLP otentik. -
korporaconsulting.com
Pusat pelatihan SDM yang berfokus pada program Sales, Selling, dan Coaching untuk individu dan perusahaan.
Didukung oleh trainer berpengalaman, Korpora Consulting menghadirkan solusi pelatihan untuk meningkatkan performa tim penjualan, memperkuat kemampuan negosiasi, dan mengembangkan skill coaching bagi para pemimpin tim. -
salesuniversity.id
Program pelatihan sales intensif untuk mengembangkan tenaga penjualan yang unggul, terlatih secara teknik, strategi, dan mindset. Solusi terbaik untuk meningkatkan closing rate tim Anda.




