Kenapa Omzet Perusahaan Sulit Naik? 5 Kebocoran Sales yang Sering Tidak Disadari Manajemen

Kenapa Omzet Perusahaan Sulit Naik

5 Kebocoran Sales yang Sering Tidak Disadari Manajemen

Perusahaan sudah mengeluarkan budget marketing. Leads terus masuk. Tim sales juga terlihat aktif melakukan prospecting dan follow-up.

salesuniversity

Namun ketika laporan bulanan dibuka, pertanyaan yang muncul justru:

“Kenapa omzet perusahaan belum tumbuh sesuai target?”

Situasi seperti ini sering membuat manajemen mengambil keputusan yang sama: menambah leads, meningkatkan budget iklan, memperbanyak salesperson, atau memberikan target aktivitas yang lebih tinggi.

Padahal, ada kemungkinan masalahnya bukan pada jumlah aktivitas.

Bisa jadi terdapat kebocoran di dalam proses penjualan yang membuat peluang yang sudah dimiliki perusahaan tidak berubah menjadi omzet.

nlp

Bayangkan perusahaan memiliki 1.000 leads per bulan.

Jika hanya 50 yang masuk tahap proposal dan hanya 5 yang menjadi customer dengan rata-rata transaksi Rp20 juta, maka omzet yang dihasilkan adalah sekitar Rp100 juta.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana mendapatkan lebih banyak leads?”

Tetapi:

“Berapa banyak potensi omzet yang sebenarnya hilang di sepanjang proses penjualan?”

pastiprestasi

1. Apakah Perusahaan Terlalu Fokus Mengejar Jumlah Leads?

Ketika target penjualan tidak tercapai, menambah leads memang terlihat seperti solusi paling mudah.

Marketing diminta mencari lebih banyak prospek.

Sales diminta melakukan lebih banyak cold call.

Database diperbesar.

Iklan ditambah.

Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan:

Tidak semua leads memiliki potensi yang sama untuk menjadi revenue.

Bayangkan perusahaan mendapatkan 1.000 leads.

Tetapi sebagian besar tidak memiliki kebutuhan yang kuat, bukan pengambil keputusan, tidak memiliki budget, atau belum memiliki urgensi untuk membeli.

Sales akhirnya menghabiskan banyak waktu mengejar prospek yang kemungkinan closing-nya rendah.

Aktivitas terlihat tinggi.

Tetapi omzet tidak bergerak sebanding.

Di sinilah perusahaan perlu mulai melihat kualitas proses lead qualification dan needs discovery, bukan hanya jumlah database.

Sales perlu mampu menemukan:

  • Apa sebenarnya masalah customer?
  • Seberapa besar dampaknya bagi customer?
  • Seberapa penting masalah tersebut diselesaikan?
  • Apa konsekuensinya jika tidak diselesaikan?
  • Dan apakah solusi perusahaan memang relevan?

Pendekatan seperti ini membuat percakapan sales tidak berhenti pada:

“Customer mau beli atau tidak?”

Tetapi mulai masuk ke:

“Seberapa besar kebutuhan customer terhadap solusi yang kita tawarkan?”

Salah satu pendekatan pembelajaran yang relevan dengan fondasi tersebut adalah Excellent Selling di Pasti Prestasi, yang mencakup materi seperti membangun rapport, menemukan kebutuhan, teknik SPIN, presentasi solusi, handling objection, hingga closing.

Namun, mendapatkan leads berkualitas saja belum cukup.

Karena masih ada kebocoran berikutnya.

2. Apakah Sales Terlalu Cepat Menawarkan Produk?

Coba bayangkan seorang sales mendapatkan kesempatan berbicara dengan calon customer.

Belum banyak pertanyaan diajukan.

Belum memahami kondisi customer.

Belum mengetahui masalah utama yang sedang dihadapi.

Tetapi sales sudah mulai menjelaskan:

“Produk kami memiliki fitur A, B, dan C.”

Kemudian dilanjutkan dengan harga, promo, bonus, dan berbagai keunggulan.

Sales merasa sudah memberikan presentasi yang lengkap.

Tetapi customer justru menjawab:

“Saya pikir-pikir dulu.”

Mengapa?

Karena sales menjelaskan solusi sebelum customer benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan.

Dalam situasi seperti ini, customer lebih mudah membandingkan:

Harga A vs Harga B.

Padahal yang seharusnya dibangun adalah:

Masalah → Dampak → Kebutuhan → Value Solusi.

Inilah salah satu perbedaan antara pendekatan transactional selling dengan pendekatan consultative selling.

Dalam penjualan konsultatif, salesperson tidak hanya bertugas menjelaskan produk.

Sales perlu memahami kondisi customer terlebih dahulu.

Karena semakin jelas masalah yang dirasakan customer, semakin mudah perusahaan menunjukkan relevansi solusi yang ditawarkan.

Pasti Prestasi juga memiliki kelas Consultative Selling yang secara khusus berada dalam kategori Selling. Kelas ini dapat menjadi salah satu referensi pembelajaran bagi salesperson yang ingin memperdalam pendekatan penjualan berbasis kebutuhan customer.

Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting:

Bagaimana jika customer sebenarnya sudah tertarik, tetapi akhirnya tetap tidak membeli?

Di sinilah kebocoran berikutnya sering terjadi.

3. Apakah Tim Sales Terlalu Mudah Memberikan Diskon?

“Pak, harganya masih terlalu mahal.”

Kalimat sederhana ini bisa membuat seorang salesperson langsung mengeluarkan jurus yang sangat familiar:

“Kalau begitu saya coba kasih diskon.”

Customer meminta harga lebih rendah.

Sales memberikan potongan.

Customer meminta tambahan.

Sales melakukan negosiasi lagi.

Transaksi akhirnya mungkin terjadi.

Tetapi perusahaan harus membayar harga lain:

margin yang semakin kecil.

Masalahnya, kalimat “mahal” belum tentu benar-benar berarti customer tidak punya uang.

Bisa saja customer:

  • belum memahami value;
  • belum melihat urgensi;
  • masih membandingkan alternatif;
  • belum percaya;
  • atau belum melihat konsekuensi jika masalahnya tidak diselesaikan.

Jika sales langsung menjawab objection dengan diskon, percakapan dapat berubah menjadi perang harga.

Padahal yang perlu dibangun justru persepsi value.

Sales perlu mampu membedakan:

“Customer keberatan terhadap harga”

dengan:

“Customer belum melihat alasan mengapa harga tersebut layak dibayar.”

Perbedaannya terlihat kecil.

Tetapi dampaknya terhadap margin dan omzet perusahaan bisa sangat besar.

Karena itu, kemampuan handling objection dan closing bukan sekadar kemampuan menjawab pertanyaan customer.

Ini adalah kemampuan menjaga agar peluang transaksi tidak hilang ketika customer mulai ragu.

Untuk kebutuhan pembelajaran tersebut, Pasti Prestasi juga menyediakan Mastering Objection & Close the Sale, yang secara khusus berada pada kategori Selling.

Tetapi lagi-lagi, training objection handling bukan jawaban untuk semua masalah.

Karena ada kebocoran yang lebih dalam.

4. Apakah Masalahnya Sebenarnya Ada pada Konsistensi Tim?

Bayangkan perusahaan sudah memberikan training kepada sales.

Mereka sudah mengetahui teknik prospecting.

Sudah mengetahui cara melakukan presentation.

Sudah pernah belajar objection handling.

Sudah memahami teknik closing.

Tetapi beberapa minggu kemudian, pola kerja kembali seperti sebelumnya.

Sales kembali terlalu cepat pitching.

Follow-up kembali tidak konsisten.

Customer yang menolak langsung dianggap tidak potensial.

Dan ketika target mulai mendesak, sales kembali mengandalkan diskon.

Di sinilah perusahaan perlu membedakan antara:

“Sales pernah mengikuti training.”

dan:

“Sales benar-benar menerapkan kompetensi tersebut dalam aktivitas penjualan.”

Keduanya adalah hal yang berbeda.

Training memberikan pengetahuan dan keterampilan.

Tetapi perusahaan tetap membutuhkan proses penerapan, coaching, monitoring, feedback, dan evaluasi.

Karena tujuan akhirnya bukan membuat salesperson mampu menjawab soal setelah training.

Tujuannya adalah membuat perubahan tersebut terlihat dalam aktivitas penjualan.

Dan kemudian pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting:

Apakah perubahan aktivitas tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap angka bisnis?

5. Apakah Perusahaan Sudah Menghubungkan Sales Activity dengan Omzet?

Ini bagian yang sering terlewat.

Perusahaan biasanya memiliki banyak angka:

  • jumlah leads;
  • jumlah follow-up;
  • jumlah meeting;
  • jumlah proposal;
  • jumlah transaksi;
  • omzet;
  • dan target penjualan.

Tetapi terkadang angka-angka tersebut berdiri sendiri.

Sales sibuk mengejar jumlah follow-up.

Marketing sibuk mengejar leads.

Management sibuk mengejar omzet.

Padahal seharusnya semuanya terhubung dalam satu funnel:

Leads → Qualified Prospects → Meeting → Proposal → Negotiation → Closing → Revenue

Misalnya:

1.000 leads → 100 qualified prospects → 50 meeting → 30 proposal → 10 transaksi → Rp200 juta omzet

Sekarang bayangkan conversion pada salah satu tahap meningkat.

Misalnya dari 10 transaksi menjadi 12 transaksi dengan average transaction value tetap Rp20 juta.

Maka:

10 × Rp20 juta = Rp200 juta

menjadi:

12 × Rp20 juta = Rp240 juta

Ada potensi tambahan Rp40 juta dari jumlah leads yang sama.

Tentu saja ini hanyalah simulasi.

Dalam kondisi nyata, omzet dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kualitas leads, harga, produk, kondisi pasar, kompetisi, sales cycle, kemampuan salesperson, repeat order, dan faktor lainnya.

Namun angka sederhana tersebut menunjukkan sesuatu yang penting:

Perusahaan tidak selalu harus mendapatkan lebih banyak leads untuk mendapatkan potensi omzet yang lebih besar.

Terkadang perusahaan perlu memperbaiki conversion pada funnel yang sudah dimiliki.

Dan di sinilah pengembangan kemampuan tim sales mulai memiliki hubungan yang lebih jelas dengan tujuan bisnis.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Perlu Diperbaiki Perusahaan?

Jika omzet tidak mencapai target, jangan langsung menyimpulkan:

“Sales kurang pintar.”

Atau:

“Marketing kurang banyak mencari leads.”

Perusahaan perlu melakukan diagnosis lebih dahulu.

Apakah masalahnya berada pada:

Lead Quality?

Qualification?

Needs Discovery?

Value Presentation?

Objection Handling?

Negotiation?

Closing?

Follow-up?

Atau justru pada konsistensi eksekusi tim?

Setiap titik memiliki konsekuensi yang berbeda terhadap revenue.

Karena itu, memilih perusahaan pelatihan sales juga seharusnya tidak dimulai dari pertanyaan:

“Training sales apa yang paling bagus?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah:

“Masalah performa sales apa yang sedang menghambat target omzet perusahaan?”

Setelah jawabannya ditemukan, barulah perusahaan dapat menentukan kompetensi apa yang perlu dikembangkan.

Apakah Training Sales Bisa Langsung Menaikkan Omzet?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Training bukan tombol ajaib yang otomatis mengubah omzet perusahaan.

Namun training dapat menjadi salah satu intervensi untuk memperkuat kompetensi yang memang menjadi bottleneck dalam proses penjualan.

Misalnya perusahaan menemukan bahwa:

Leads cukup → meeting cukup → proposal cukup → tetapi closing rendah.

Maka kebutuhan pengembangan mungkin berbeda dengan perusahaan yang masalahnya:

Leads banyak → tetapi qualified prospect sangat rendah.

Begitu pula dengan perusahaan yang memiliki closing cukup baik tetapi average transaction value rendah.

Artinya:

Diagnosis bisnis harus datang sebelum pemilihan training.

Inilah alasan program pengembangan sales yang baik seharusnya tidak hanya membahas materi, tetapi juga mempertimbangkan konteks bisnis, karakter customer, proses penjualan, kompetensi tim, dan indikator performa yang ingin diperbaiki.

Lalu, Dari Mana Perusahaan Bisa Memulai?

Jika perusahaan ingin memberikan pembelajaran mandiri kepada salesperson, Pasti Prestasi menyediakan berbagai kelas digital dalam format video yang dapat dipelajari sesuai kebutuhan.

Untuk memperkuat fundamental selling, Excellent Selling dapat menjadi salah satu pilihan karena mencakup rapport, needs discovery, SPIN, presentasi solusi, objection handling, dan closing.

Untuk memperkuat pendekatan penjualan berbasis kebutuhan customer, perusahaan juga dapat mengeksplorasi Consultative Selling.

Sedangkan ketika bottleneck berada pada tahap keberatan dan closing, Mastering Objection & Close the Sale dapat menjadi salah satu pilihan pembelajaran dari kategori Selling.

Tetapi sekali lagi:

kelas hanyalah salah satu bagian dari proses.

Jika kebutuhan perusahaan sudah menyangkut keseluruhan tim, target revenue, sales funnel, leadership, dan perubahan perilaku kerja, pendekatannya tentu perlu lebih terstruktur.

Sudah Tahu Di Mana Kebocoran Omzet Perusahaan Anda?

Coba buka data penjualan tiga bulan terakhir.

Jangan hanya lihat angka omzet.

Lihat juga:

Berapa leads yang masuk?

Berapa yang benar-benar qualified?

Berapa yang berhasil meeting?

Berapa proposal yang dikirim?

Berapa yang berhasil closing?

Berapa rata-rata nilai transaksinya?

Kemudian cari satu titik dengan penurunan conversion paling besar.

Karena bisa jadi, di situlah terdapat peluang peningkatan revenue yang selama ini tidak terlihat.

Dan jika titik tersebut ternyata berkaitan dengan kompetensi tim sales, barulah perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan bentuk pengembangan yang dibutuhkan.

Bukan sekadar:

“Kita perlu training sales.”

Tetapi:

“Kita perlu memperbaiki kompetensi X karena saat ini berpotensi menjadi bottleneck pada tahap Y yang berdampak terhadap target revenue.”

Itulah perbedaan antara training sebagai aktivitas dan training sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis.

Dan mungkin, pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Berapa biaya training sales?”

Tetapi:

“Berapa potensi omzet yang sedang hilang jika kebocoran ini tidak diperbaiki?”


META DATA

Meta Description:
Kenapa omzet perusahaan sulit naik? Kenali 5 kebocoran sales yang dapat menghambat conversion, closing, dan potensi pertumbuhan revenue.

Slug:
kenapa-omzet-perusahaan-sulit-naik

Focus Keyphrase:
perusahaan pelatihan sales

Kategori:
Sales

Tags:
perusahaan pelatihan sales, pelatihan sales, training sales, meningkatkan omzet perusahaan, sales performance, sales funnel, conversion rate, strategi penjualan

Internal Link yang disarankan:

CTA soft-selling:

Jika perusahaan Anda sedang mencari cara untuk meningkatkan performa tim sales dengan pendekatan yang lebih terarah pada target bisnis, Korpora Consulting dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan tim dan kompetensi yang relevan dengan proses penjualan perusahaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let’s Schedule Time to Talk.

Segera dapatkan solusi dengan menjadwalkan pertemuan virtual dengan tim expert kami!

Company Profile

"*" indicates required fields

COPYRIGHT @2020 – PT. KORPORA TRAININDO CONSULTANT, ALL RIGHTS RESERVED

sales university
sbcc