korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Ekplorasi Agenda Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Bila Anda baru belajar dasar-dasar ketrampilan coaching, biasanya topik yang diajukan coachee akan langsung Anda jadikan acuan sebagai tujuan di sesi coaching tersebut.

 

Cara ini sudah oke. Dan bagaimana bila Anda bisa memfasilitasi coachee untuk menyelami agendanya lebih dalam? Dan bagaimana jika hal itu akan lebih memberdayakan coachee?

 

Hal ini dijelaskan di kompetensi inti ICF Coaching Agreement. Di sana dijabarkan bahwa coach perlu melakukan eksplorasi lebih dalam terhadap agenda coachee. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan:

 

  1. *Mengkonfirmasikan sasaran sesi coaching.*

“Berdasarkan apa yang Anda ceritakan tadi, apa yang Anda ingin dapatkan dari sesi kita hari ini?”

  1. *Menggali berbagai intensi yang mendasari sasaran coaching.*

“Mengapa mencapai sasaran ini begitu penting untuk Anda?”

  1. *Mendapatkan ukuran keberhasilan sesi coaching.*

“Apa yang menjadi ukuran keberhasilan sesi coaching kita hari ini?”

  1. *Memastikan apakah sesi coaching berjalan menuju sasaran.*

“Apakah sejauh ini percakapan kita masih sesuai demgan tujuan Anda?”

 

Dengan melakukan beberapa tips di atas, kita bisa lebih memastikan bahwa sesi coaching memberikan nilai buat coachee untuk meraih tujuannya.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Generalisasi [2]

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Dalam sesi coaching, seorang Coach musti mampu mengidentifikasi pernyataan coachee yang dia yakini sebagai kebenaran absolut, terutama yang tidak efektif untuk mendukungnya mencapai goal.

 

Pernyataan seperti itu bentuknya adalah gemeralisasi. Ciri-ciri kalimatnya adalah menggunakan kata-kata seperti semua, tidak sama sekali, selalu, tiap orang, tak seorang pun, tak satu pun, dll.

 

Contohnya, apabila goalnya adalah mencapai target penjualan dan dia punya keyakinan bahwa “tak seorang pun tertarik dengan produknya”, tentu ini tidak akan membuatnya mencapai tujuan tsb kan?

 

Lalu bagaimana selanjutnya? Tugas Coach adalah men-challenge pernyataan di atas, apakah itu adalah kebenaran absolut atau tidak. Caranya adalah salah satu dari berikut ini:

 

  1. “Tak seorang pun? Tidak ada sama sekali?”
  2. “Bagaimana Anda tahu bahwa tak seorang pun tertarik dengan produk Anda?”
  3. “Mungkinkah ada orang yang awalnya tidak tertarik, dan akhirnya dia membeli produk Anda?”
  4. “Apakah pernyataan Anda itu akan membantu Anda untuk mencapai target penjualan?”

 

Tentu apa pun jawaban coachee terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas perlu ditindaklanjuti lagi.

 

Berbagai contoh challenge di atas akan membantu coachee untuk melihat situasinya dengan lebih realistis lagi. Ada bentuk generalisasi yang merupakan keyakinan yang lebih mendalam lagi sehingga bentuk challenge di atas tidak begitu mempan. Ini bisa diatasi dengan bentuk pertanyaan reflektif yang polanya lebih rumit lagi.

 

Belajar Coaching Skill ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Generalisasi [1]

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Teman-teman, pernah tidak terpikir bagaimana kita bisa tahu bahwa yang kita lihat di jalan itu adalah mobil? Walaupun bentuk, ukuran, suara klakson, dan warnanya berbeda-beda, kok kita yakin bahwa semua yang kita lihat itu adalah mobil? Lalu kenapa ada yang kita sebut bus, motor, atau truk? Kok kita bisa yakin bahwa semua itu tadi bukan termasuk mobil?

 

Salah satu cara otak kita memproses informasi adalah generalisasi. Generalisasi artinya adalah ketika satu atau beberapa peristiwa dianggap mewakili keseluruhan. Jadi beberapa hal disamaratakan bahwa hal-hal lain pun sama. Ini dikarenakan ketika pertama kali belajar mengenali beberapa peristiwa yang sama, otak kita mengidentifikasi ada ciri-ciri yang sama. Sehingga, ketika melihat peristiwa lain yang punya ciri-ciri yang sama, maka otak kita langsung menyimpulkan bahwa itu sama dengan peristiwa yang pertama kali dia kenali.

 

Oke, kalau jadi bingung, silahkan baca lagi dan cerna paragraf di atas pelan-pelan ya, hehe..

 

Dengan generalisasi kita bisa tahu dari sekian banyak kendaraan yang lewat itu adalah mobil, karena semua punya ciri yang sama, yaitu rodanya empat. Ketika ada kendaraan beroda tiga lewat, otak kita agak bingung, “eh, ini mobil bukan ya?” Lalu menyimpulkan, “ah mobil juga kok, karena digerakan mesin dan ada ruang di dalamnya tempat supirnya duduk,” Nah, otak kita ternyata menemukan ciri-ciri lain yang ada di seluruh mobil ^_^

 

Sebetulnya proses generaliasi ini berguna. Kalau tidak ada proses ini, kita pasti kerepotan karena setiap kendaraan itu kita anggap gak ada kesamaan sama sekali sehingga kita harus memberi nama yang berbeda beda terus. Ribet kan hidup seperti itu?

 

Bagaikan dua sisi mata uang, ternyata generalisai juga bisa tidak berguna, bahkan membatasi hidup kita. Karena hanya dari satu atau beberapa kali peristiwa, kita bisa menganggap itu menjadi sebuah kebenaran absolut. Terutama bila peristiwa tersebut adalah yang menimbulkan emosi negatif.

 

Contoh, karena seorang wanita pernah dikecewakan pacarnya, dia langsung menyimpulkan semua laki-laki buaya, hehe. Semakin kuat emosi negatifnya, semakin menyamaratakanlah kita terhadap kejadian atau hal tertentu.

 

Gemeralisasi yang seperti ini menggunakan kata-kata seperti semua, tidak sama sekali, selalu, tiap orang, tak seorang pun, tak satu pun, dll.

 

Dalam konteks coaching, seorang Coach musti mampu mengidentifikasi pernyataan generalisasi coachee yang dia yakini sebagai kebenaran absolut, terutama yang tidak efektif untuk mendukungnya mencapai goal. Apabila goalnya adalah mencapai target penjualan dan dia punya keyakinan bahwa tak seorang pun tertarik dengan produknya, tentu ini tidak akan membuatnya mencapai tujuan tsb kan?

 

Lalu bagaimana selanjutnya? Tugas Coach adalah men-challenge pernyataannya tersebut, apakah itu adalah kebenaran absolut atau tidak. Caranya akan akan saya jabarkan di tulisan berikutnya ya.

 

Belajar Coaching Skill ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Follow Through

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Sebuah program coaching pasti terdiri dari beberapa rangkaian sesi hingga coachee mencapai tujuannya. Biasanya di akhir sebuah sesi coaching, coachee akan merumuskan action plan. Agar coachee tetap ‘on track’ terhadap tujuannya, seorang coach perlu memastikan hasil-hasil action plan tsb.

 

Kemampuani ini disebut Managing Progress and Accountibility, yang merupakan satu dari sebelas kompetensi inti dari ICF. Dalam hal ini, seorang coach musti mampu menindaklanjuti pelaksanaan rencana-rencana coachee. Istilahnya adalah ‘follow through.”

 

Model yang saya ajarkan di program ACSTH 66 Jam untuk melakukan follow through adalah *FEELING*. Ini adalah sebuah singkatan, sbb:

 

  1. *FACTS.* Pada sesi berikutnya, coach menggali fakta-fakta mengenai apa yang coachee sudah atau belum berhasil  lakukan atau selessikan semenjak sesi sebelumnya;
  2. *EMOTIONS.* Cek emosi atau perasaan coachee mengenai fakta-fakta di atas;
  3. *ENCOURAGE.* Puji usaha coachee. Hargailah perubahan yang dia telah buat. Akui tantangan yang dia hadapi saat menjalankan action plan tsb;
  4. *LEARNING.* Cek pelajaran apa yang coachee dapatkan saat mengerjakannya. Fokuskan pada perilaku barunya;
  5. *IMPLICATIONS.* Setelah itu dapatkan implikasi dari apa yang coachee telah pelajari. Bantu dia untuk melebarkan pelajaran atau perilaku barunya ke konteks yang lebih luas;
  6. *NEW GOAL.* Akhirnya, temukan sasaran baru untuk coachee fokuskan. Lakukan coaching terhadap hal ini, sebagai agenda coachee di sesi ini.

 

Dengan menjalankan model di atas, bukan hanya sesi-sesi coaching tetap ‘on track’, juga coachee akan mengalami kesadaran baru mengenai dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Mind Reading

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apakah Anda pernah mendengar istilah “mind reading”? Wah, sepertinya keren ya bila punya semacam kemampuan untuk bisa membaca pikiran orang lain. Sayangnya kekuatan seperti itu hanya ada di film-film fiksi superheroes.

 

Bagaimana kenyaannya? Apakah ada orang-orang biasa seperti saya dan Anda yang melakukan mind reading? Istilah mind reading di dunia nyata tentulah bukan tentang kekuatan super. Istilah ini terjadi dalam konteks komunikasi.

 

Ada dua bentuk mind reading dalam konteks komunikasi. Seseorang melakukan mind reading ketika:

 

  1. Dia mengaku tahu, tanpa bukti langsung, apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Misal:

“Atasan saya tidak pernah peduli dengan hasil pekerjaan saya.”

 

  1. Dia yakin orang lain memahami pikiran, perasaan, atau keinginannya tanpa perlu dia kasih tahu. Contoh:

“Dia seharusnya paham dong alasan saya musti mengambil keputusan ini.”

 

Konsekuensi ketika melakukan mind reading, seseorang bisa salah paham dan dia akan mengambil tindakan yang keliru dan bisa memperparah keadaan.

 

Ketika kita mengidentifikasi coachee melakukan mind reading, kita musti membantunya untuk mengklarifikasi pola pikirannya itu.

 

Cara melakukan klarifikasinya bagaimana?

 

Gunakan pola pertanyaan pembuka sbb: “Bagaimana [Subyek] tahu …?”

 

Contoh klarifikasi untuk mind reading di atas jadinya seperti ini:

 

  1. “Atasan saya tidak pernah peduli dengan hasil pekerjaan saya.” Pertanyaan klarifikasi: “Bagaimana Anda tahu bahwa atasan Anda tidak peduli dengan hasil pekerjaan Anda?”

 

  1. “Dia seharusnya paham dong alasan saya musti mengambil keputusan ini.” Pertanyaan klarifikasi: “Bagaimana dia tahu alasan Anda untuk mengambil keputusan ini?”

 

Coaching bicara tentang membuka potensi diri, dan terkadang hal ini dilakukan dengan men-challenge proses berpikir coachee sehingga mendapatkan kesadaran baru yang lebih memberdayakan dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Leading Questions

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Proses coaching yang sesuai dengan kode etik dan kompetensi inti ICF adalah dalam bentuk percakapan yang menuju pada agenda yang ditentukan oleh coachee. Jadi, sebagai coach, tugas kita adalah memfasilitasi coachee untuk mencapai tujuan yang dia inginkan, bukan yang coach inginkan.

 

Adakalanya kondisi di atas bisa terganggu yang disebabkan tanpa disadarinya coach mengarahkan coachee untuk mengikuti apa yang coach inginkan. Ini istilahnya adalah *leading*. Bentuk leading yang paling sering coach lakukan tanpa dia sadari adalah yang dalam bentuk pertanyaan, atau *leading questions*.

 

Contoh:

 

“Sudahkah Anda membicarakan hal tersebut kepada atasan?”

“Sepertinya, kita perlu membahas tentang kasus A dulu kan?”

 

Kalau kita perhatikan ciri utama leading questions berdasarkan kedua contoh di atas adalah pertanyaamnya dalam bentuk closed questions. Yaitu jenis pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.

 

Ketika coachee ditanya dengan closed questions, besar kemungkinan dia akan menangkap ide yang tersembunyi di pertanyaan tersebut, dan ide tersebut bukan dari diri dia. Lalu dia cenderung menganggap ide tersebut benar dan dia terima. Semua ini terjadi di luar kesadarannya. Akhirnya, dia jadi mengikuti agenda coach.

 

Lalu bagaimana agar pertanyaan coach tidak jadi leading? Triknya sederhana, yaitu mengubah pertanyaan tersebut menjadi open questions, yaitu jenis pertanyaan yang membutuhkan pemikiran dari coachee.

 

Jadi kedua contoh pertanyaan di atas menjadi:

 

“Apa saja yang Anda sudah lakukan berkaitan dengan hal tersebut?”

“Dari kedua kasus yang Anda telah ajukan, yang mana yang Anda ingin kita bahas terlebih dahulu?”

 

Ketika menggunakan open questions, maka akan memancing coachee untuk memikirkan kondisinya dengan proses kreatif, dan tetap fokus pada agenda dia.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Interupsi

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apa kabar?

 

Setelah membaca tulisan saya sebelumnya, seorang teman bertanya, “Apakah memotong pembicaraan coachee selalu dilarang? Adakah bentuk interupsi yang diijinkan?”

 

Hmmm, menarik ya. Dan jawabannya adalah YES, ternyata ada bentuk interupsi yang diperbolehkan.

 

Ketika pertama kali mengadakan pertemuan dengan calom coachee, kita sebetulnya punya banyak kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang dia. Bukan hanya tentang kondisi atau tantangan yang sedang dia hadapi, kita seharusnya juga memperhatikan kebiasaan dia saat berbicara.

 

Apakah dia termasuk orang yang pendiam, bicara yang singkat-singkat dan seperlunya saja? Atau malah sebaliknya, dia tipe orang yang aktif berbicara, tidak bisa tutup mulut walau hanya sedetik, atau istilahnya ‘cerewet’? Apakah dia berbicara secara urut dan teratur, atau melompat-lompat dari satu topik ke topik berikutnya?

 

Nah dari situ kita bisa mengamati bila dia termasuk pembicara yang ramai, topiknya lompat-lompat, atau bahkan sampai melebar sehingga kita sulit untuk memahami apa inti pembicaraannya.

 

Dan di saat inilah interupsi diperbolehkan. Semangatnya tetap sama, yaitu kita menjaga dan memastikan agar tujuan coachee untuk coaching tetap menjadi fokus utama.

 

Walaupun diijinkam, kita tetap musti melakukannya dengan cara yang elegan. Agar coachee tidak sampai tersinggung, kita bisa melakukan setting the frame di awal sesi coaching.

 

Comtohnya seperti ini:

 

“Agar sesi coaching kita hari ini bisa efektif dan bisa membantu mencapai tujuan Anda semaksimal mungkin, ketika mercakapan kita dirasa sudah melebar, saya mohon ijin sebelumnya untuk menginterupsi ya. Sekali lagi hal ini tujuannya agar sesi coaching kita bisa memenuhi harapan Anda sebesar mungkin.”

 

Ketika kita sudah melakukan setting frame seperti di atas, coachee tidak akan tersinggung ketika kita menginterupsi percakapannya. Hal ini karena dia tahu bahwa kita melakukan itu demi kepentingan dia juga, sehingga trust dan intimacy tetap terbangun.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Tips untuk tidak Interupsi

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apa kabar?

 

Interupsi dalam percakapan coaching adalah perilaku yang sangat dihindari oleh seorang Coach. Karena ketika seorang Coach menginterupsi, dia berpotensi tidak memenuhi paling tidak 3 kompetensi inti ICF, yaitu Establishing Trust and Intimacy, Coaching Presence, dan Active Listening.

 

Bukan hanya membuatnya tersinggung serta merusak trust dan keakraban, namun interupsi bisa menghambat proses berpikir kreatif seorang coachee.

 

Berikut adalah beberapa tips agar kita sebagai Coach tidak menginterupsi coachee:

 

  1. Jaga presence dan active listening kita. Ketika coachee sedang berbicara, fokus pada key words yang dia ucapkan. Jangan memikirkan pertanyaan apa yang akan kita ajukan berikutnya karena hal ini bisa menggoda kita untuk menyela ucapannya. Percayakan pada intuisi Anda untuk menuntun bertanya berdasarkan berbagai key words yang kita tangkap.

 

  1. Ketika suara kita dan coachee ‘tabrakan’, segera berhenti, beri kesempatan coachee berbicara. Apabila coachee tidak bicara, persilahkan dia melanjutkan ucapannya.

 

  1. Ketika kita selesai bertanya dan coachee tetap diam, jangan berasumsi apa-apa. Biasanya dia terdiam karena sedang memproses pertanyaan tsb. Toh bila memang coachee bingung dengan pertanyaan kita, dia pasti akan bertanya. Nah, barulah kita bisa mengulangi pertanyaan tsb atau menggunakan pertanyaan lain yang bisa dia pahami.

 

Mulai sekarang silahkan berlatih menerapkan tips di atas untuk menghilangkan kebiasaan interupsi kita.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Interupsi

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apa kabar?

 

Teman-teman, di saat Anda sedang mengatakan sesuatu, pernahkah mengalami tiba-tiba seseorang memotong omongan Anda sebelum selesai? Gimana rasanya? Sebagian besar pasti bilang rasanya gak enak ya. Bahkan mungkin ada yang sampai tersinggung.

 

Di dalam percakapan coaching, memotong atau menghentikan coachee yang sedang berbicara bisa berdampak besar.

 

Ketika seorang Coach menginterupsi, dia berpotensi tidak memenuhi paling tidak 3 kompetensi inti ICF, yaitu Establishing Trust and Intimacy, Coaching Presence, dan Active Listening. Bukan hanya membuatnya tersinggung serta merusak trust dan keakraban, namun bisa menghambat proses berpikir kreatifnya.

 

Lalu interupsi seperti apa saja yang bisa terjadi saat proses coaching?

 

  1. Interupsi yang paling jelas adalah ketika coachee sedang berbicara, tiba-tiba coach-nya menyelanya sehingga coachee berhenti. Mungkin coach-nya itu terlalu fokus pada pertanyaan yang dia ingin ajukan sehingga dia lupa untuk fokus pada coachee-nya.

 

  1. Interupsi yang lain adalah ketika coachee selesai berbicara lalu di saat coach-nya mulai bertanya, coachee juga melanjutkan bicaranya tadi sehingga suara coach dan coachee seperti ‘tabrakan’. Bukannya berhenti, suara coach-nya malah ‘ngegas’ terus bicara yang akhirnya membuat coachee mengalah dan berhenti bicara.

 

  1. Jenis interupsi ketiga adalah ketika coach selesai bertanya namun coachee-nya tetap diam beberapa saat sehingga coach bicara lagi, dengan asumsi coachee tidak mengerti dengan pertanyaan sebelumnya. Padahal belum tentu coachee tidak paham dengan pertanyaan coach. Lebih besar kemungkinan saat coachee diam dia sedang memproses pertanyaan tsb. Ini seperti sebuah search engine yang masih memproses namun tiba-tiba kita stop sehingga tidak memunculkan informasi yang lengkap.

 

Nah, dengan mengetahui ketiga jenis interupsi di atas, mulai sekarang silahkan berlatih untuk lebih mengendalikan diri untuk tidak melakukannya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – 7 Fasa Percakapan Coaching

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ada seseorang yang belajar coaching bertanya kepada saya, “adakah sebuah alur coaching yang sederhana, namun bukan dalam bentuk kompetensi yang terpisah-pisah tapi dalam bentuk urut-urutan proses atau yang semacamnya?”

 

Saya berpikir, “menarik juga.” Maka saya mulai menemukan beberapa versi urut-urutan tsb. Saya tidak mengklaim bahwa semuanya itu sudah perfect, pasti perlu banyak penyempurnaan.

 

Salah satu versinya adalah yang saya namakan *7 Fasa Percakapan Coaching*. Saya membagi sebuah proses coaching menjadi 7 fasa percakapan. Berikut saya jabarkan setiap fasa tersebut:

 

  1. *Fasa Pembuka.* Ini adalah percakapan yang mengawali proses coaching. Contoh:

“Sesi kita akan berjalan selama kurang lebih 45 menit. Apakah siap?”

“Apakah ada hal lain yang Anda perlu selesaikan dulu sebelum kita mulai?”

 

  1. *Fasa Peninjauan.* Selanjutnya adalah bentuk percakapan yang menindaklanjuti hasil dari sesi sebelumnya. IMisalnya:

“Hal-hal apa saja yang pening untuk kita bahas sejak pertemuan terakhir kita?”

“Apa saja yang sudah terjadi berkaitan dengan goal Anda?”

 

  1. *Fasa Topik.* Sekarang adalah saatnya Anda menggali apa yang paling berarti bagi coachee Anda untuk dibahas:

“Apa yang Anda ingin bahas sekarang?”

“Mengapa hal itu begitu penting buat Anda untuk kita bahas?”

“Apa kaitan hal ini dengan goal besar Anda?”

 

  1. *Fasa Perubahan Baru.* Ini adalah percakapan yang akan memfasilitasi perubahan baru bagi coachee di sesi ini. Prosesnya diawali dengan pertanyaan seperti:

“Apa yang Anda ingin dapatkan di akhir coaching kita hari ini?”

“Apa yang menjadi bukti bahwa percakapan hari ini memberi nilai tambah buat Anda?”

“Apa tandanya bahwa Anda sudah mendapatkan tujuan dari percakapan ini?”

 

  1. *Fasa Tindakan Nyata.* Setelah coachee mendapatkan perubahan penting di dirinya, kini saatnya menggunakannya untuk semakin mewujudkan goal besar di akhir program coaching dalam bentuk berbagai tindakan. Bentuknya adalah:

“Langkah realistis apa yang Anda akan lakukan selanjutnya?”

“Apa yang Anda akan lakukan untuk semakin mendekatkan diri ke goal besar Anda?”

“Dalam bentuk apa Anda akan memanfaatkan pemahaman baru Anda ini untuk mencapai sasaran?”

 

  1. *Fasa Pemastian.* Berikutnya Anda perlu memastikan agar coachee benar-benar akan melaksanakan rencana tindakan tsb. Contoh:

“Apa yang mumgkin bisa menghambat rencana tersebut? Apa antisipasi Anda?”

“Bagaimana memastikan bahwa Anda akan melakukan semua rencana ini?”

 

  1. *Fasa Check Point.* Ada kalanya Anda perlu memastikan agar percakapan coaching selalu sesuai dengan agenda coachee. Caranya adalah:

“Apakah sejauh ini percakapan kita masih sesuai dengan harapan Anda?”

“Apakah menurut Anda kita masih on track dengan tujuan Anda hari ini?”

“Apa yang sebaiknya kita musti bahas selanjutnya?”

 

Ketujuh fasa percakapan coaching di atas adalah struktur yang bisa digunakan terus untuk memastikan agar fluiditas coaching menjadi efektif.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.