Coaching 101 – Maksud Positif

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Teman-teman, saya meyakini bahwa di balik perilaku ada maksud positif yang mendorong perilaku tersebut. Positif di sini bukan tentang benar atau salah, namun lebih kepada ada bagian tertentu dari diri kita yang terpenuhi ketika melakukan perilaku tersebut.

 

Contoh sederhana adalah merokok. Semua juga tahu, bahkan yang merokok itu pun tahu, bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan. Lalu apa yang membuat dia tidak menghentikan kebiasaan tsb? Karena ada bagian dari diri dia yang terpenuhi dengan merokok. Mungkin dia menjadi lebih relaks, lebih fokus, sakit kepala hilang, dll. Bila digali lebih dalam, akan sampai ke value tertentu yang dia capai melalui merokok.

Misal value ketenangan, fokus, kenyamanan, dll.

 

Begitu pula dengan coachee. Ketika dia kesulitan menghentikan atau mengubah perilaku tertentu, bisa jadi karena bila berhenti atau berubah, ada value yang dirugikan, dan ini lebih mempengaruhi dia secara bawah sadar.

 

Cara yang efektif menangani hal ini adalah:

 

  1. Bantu dia untuk *mengidentifikasi maksud positif dan value* di balik perilakunya tersebut. Sesuatu hal baru kita bisa kendalikan bila pertama kita mengetahui hal tsb apa. Contoh pertanyaannya:

“Apa maksud positif dari merokok?”

“Apa yang Anda dapatkan dengan merokok?”

“Apa yang penting dari hal itu?”

Gali terus hingga dia menemukan maksud positif tertinggi atau value-nya.

 

  1. Pastikan dia menyadari bahwa *bukan perilakunya tsb yang penting, tapi maksud positif atau value-nya tsb yang sebetulnya penting* untuk dia:

“Jadi, sebetulnya mana yang penting untuk Anda: apakah merokoknya, atau supaya fokus berpikir?”

 

  1. Bila perlu ajak dia *memikirkan alternatif perilaku yang tetap memenuhi maksud positif* yang dia kejar:

“Apa yang musti Anda lakukan supaya tetap bisa fokus berpikir walaupun tidak merokok?”

 

Pastikan juga perilaku baru tersebut selain akan memenuhi maksud positif yang dia ingin dapatkan, juga akan memenuhi value-value dia yang lain. Semakin banyak value yang terpuaskan dari perilaku barunya, semakin kuat dan sanggup dia untuk mengubah perilaku lamanya ke yang baru.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Hambatan

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Seorang coachee yang masih bingung terhadap solusi bisa jadi karena dia belum mengidentifikasi hambatan yang sebenarnya. Untuk itu dia musti mengetahui dulu hambatan yang masih tersembunyi agar bisa mengatasinya.

 

Hambatan itu bisa berasal dari luar dirinya, misal waktu atau sistem, dan bisa juga berasal dari dalam dirinya seperti rasa takut atau keyakinan dirinya. Seringkali apa yang pada awalnya merupakan hambatan dari luar ternyata berasal dari hambatan di dalam dirinya.

 

Menemukan hambatan yang sebenarnya ternyata merupakan sebuah bentuk kesadaran baru juga buat seorang coachee.

 

Bagaimana supaya dia bisa menemukan hambatan-hambatan tersebut?

 

Berikut beberapa contoh menggali hambatan coachee:

 

*Hambatan luar*

 

  1. “Apa yang menghalangi/ menghentikan Anda untuk mencapainya?”
  2. “Apa yang Anda butuhkan yang belum Anda miliki untuk mendapatkannya?”
  3. “Sumber daya apa yang bila Anda miliki akan membuat perbedaan?”

 

*Hambatan dalam diri*

 

  1. “Apa yang terjadi di dalam diri Anda ketika sedang memikirkan tujuan ini?”
  2. “Apa yang Anda dapatkan bila Anda tidak meraih impian Anda?”
  3. “Apa yang Anda tidak dapatkan bila Anda mencapainya?”
  4. “Apa yang mendorong diri Anda untuk tidak melakukannya?”
  5. “Apa yang terlintas di pikiran/hati Anda berkaitan dengan menjalankan impian Anda?”

 

Apabila dia sudah menemukan hambatan yang sebenarnya, Anda bisa memulai memfasilitasinya untuk menentukan apa yang dia akan lakukan selanjutnya. Misal, dia bisa mereframing apa hambatannya tersebut, seperti tulisan saya sebelumnya yang¬† berjudul “Reframing terhadap Membatasi Diri.”

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Ownership

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ketika menghadapi suatu situasi atau masalah, seorang coachee seringkali menyalahkan orang lain atau keadaan. Seakan seluruh masalahnya tsb adalah gara-gara mereka atau keadaan eksternal, dan dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk memperbaikinya. Secara tidak sadar, dia memposisikan dirinya sebagai korban. Istilahnya adalah “playing victim.” Dengan melakukan itu dia mendapat semacam kepuasan semu.

 

Dalam kondisi seperti itu, dia tidak akan mungkin mencapai goal atau sasarannya. Dan sesi coaching tidak akan berjalan dengan efektif. Untuk itu kita perlu memfasilitasinya agar dia kembali ke posisi ownership.

 

Kita dapat men-challenge coachee dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

 

  1. “Bagian mana yang menjadi kontribusi Anda terhadap masalah ini?”
  2. “Seandainya Anda punya kemampuan untuk memperbaikinya, apa yang akan dilakukan?”
  3. “Seandainya dia gak mungkin berubah, dan satu-satunya yang bisa memperbaikinya adalah Anda, apa yang Anda akan lalukan?”
  4. “Pura-puranya Anda diberi wewenang penuh, apa ide Anda?”
  5. “Jadi menurut Anda, emosi Anda, pikiran Anda, dan perilaku Anda di bawah kendali orang lain? Dan Anda tidak punya kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali?”

 

Hati-hati untuk menggunakan challenge yang terakhir. Kita baru bisa menggunakannya bila sudah terjalin rapport dan trust yang sudah dalam dengan coachee.

 

Coaching adalah suatu metode untuk melatih seseorang untuk bersikap ownership terhadap kehidupannya. Dengan menggunakan contoh-contoh di atas, maka akan membuat coachee semakin terlatih untuk bertanggung jawab 100% atas dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Reframing untuk Positive Challenge

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Kita lanjutkan membahas tentang positive challenge. Metode yang efektif melakukannya adalah dalam bentuk pertanyaan yang membuat coachee berpikir lebih dalam.

 

Selain digunakan untuk reframing, *what-if frame* bisa dipakai untuk men-challenge, karena pada dasarnya men-challenge adalah mengajak coachee untuk me-reframe persepsi yang dia masih pakai.

 

Ini contoh-contohnya:

 

  1. “Seandainya Anda sudah berada di masa depan, apa pendapat Anda dari masa depan terhadap keputusan yang Anda buat saat ini?”
  2. “Seandainya idola Anda ada di sini, apa pendapat beliau terhadap cara Anda menghadapi masalah tsb?”
  3. “Seandainya Anda sanggup meraih goal ini jauh lebih cepat, apa yang akan terjadi?”
  4. Seumpamanya mati hidup Anda tergantung dari keputusan Anda hari ini, keputusan apa yang akan anda ambil untuk menjawab tantangan itu?”

 

Jadi kegunaan what-if frame adalah tidak terbatas untuk men-challenge coachee. Yang penting kita melakukannya untuk kepentingan coachee berkaitan dengan goal atau tujuan coaching.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Positive Challenge

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Kita masih membahas tentang arti dan tujuan coaching, yaitu “membuka potensi manusia”. Coaching meyakini bahwa potensi kita sebetulnya jauh lebih besar daripada apa yang kita sudah tunjukan atau yang kita sadari ada. Hanya sebagian besar masih tersembunyi atau “tertutup”, menunggu untuk diberi kesempatan menunjukan dirinya. Oleh karena itu, dengan coaching, berbagai potensi itu “dibuka” agar kita menyadari dan memanfaatkannya untuk kepentingan positif kita.

 

Istilah lain “membuka potensi” ini adalah “push the limit” atau “enforce your boundaries”. ¬†Metode yang sangat efektif adalah men-challenge coachee. Bahkan, men-challenge adalah service yang seorang coach musti berikan kepada coachee-nya. Ini adalah kemampuan yang mampu menciptakan kesadaran baru bahwa coachee memiliki berbagai potensi yang kemudian membangkitkan motivasinya untuk melakukan tindakan yang berbeda.

 

Apa pun bentuk dan caranya, men-challenge dalam coaching memiliki syarat sebagai berikut:

 

  1. Membuat coachee untuk *bergerak maju*, bukan yang menunjukan betapa salah atau lemahnya mereka. Jadi seorang coach men-challenge agar coachee tergerak, bukannya malah membuat dia menyerah;

 

  1. Memposisikan Coach-nya sebagai *mitra mereka*, bukannya sebagai musuh atau lawan mereka. Coachee tahu bahwa coach-nya melakukan itu bukan supaya dirinya gagal, namun dengan intensi positif untuk mendukung dia mencapai tujuannya.

 

Bentuk men-challenge yang memenuhi syarat di atas saya sebut sebagai *positive challenge*. Ini akan membuat coachee menyadari blind spot-nya secara positif dan efektif, sehingga akhirnya dia mau bangkit untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi lagi.

 

Saya akan jabarkan berbagai teknik melakukan positive challenge di tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Reframing terhadap Membatasi Diri

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Pada tulisan sebelumnya kita membahas tentang membatasi diri. Apakah ini terjadi pada diri kita atau pada coachee kita.

 

Seringkali kita atau coachee membatasi diri karena terlalu fokus pada masalah sehingga kita “lupa” untuk melihat pada tujuan. Seolah masalah tersebut “menutupi pandangan” kita kepada outcome atau hasil yang kita ingin dapatkan.

 

Contohnya ketika dalam suatu percakapan coaching, coachee kita menyatakan kalimat yang membatasi dirinya seperti sbb:

 

  1. “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.”
  2. “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!”

 

Sebagai seorang Coach, kita tentu bertugas untuk memastikan agar coachee kita bergerak semakin ke arah goalnya, bukan menjauhinya. Untuk itu, kita reframing ucapannya tsb. Metode reframing yang sering saya pakai adalah *what-if frame*. Atau dalam bahasa sederhananya: *apa yang terjadi jika* atau *seandainya*.

 

Ayo kita reframe kata-kata coachee di atas, menjadi:

 

  1. “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.” *Reframing:* “Seandainya sanggup, apa yang Anda akan lakukan?”
  2. “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!” *Reframing:* “Seandainya Anda mungkin menyelesaikannya, apa yang akan terjadi dengan diri/karir Anda?” Lalu “Apa yang Anda lakukan?”

 

Lalu apakah persoalannya tiba-tiba selesai? Tentu tidak. Untuk itu coachee masih membutuhkan alternatif solusi dalam bentuk sumber daya yang dia butuhkan:

 

  1. “Apa yang Anda butuhkan / apa yang perlu ada agar Anda sanggup melakukannya / mungkin menyelesaikannya?”
  2. “Bagaimana Anda akan mendapatkannya?” Dst

 

Dengan cara-cara di atas, kita atau coachee akan lebih mungkin untuk fokus pada solusi yang dibutuhkannya.

 

Ingat: Selalu mengacu pada goal coachee untuk melakukan reframing.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Membatasi Diri

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Salah satu arti coaching yang terkenal adalah “membuka potensi manusia.” Hal ini dikarenakan masih banyak potensi kemampuan kita yang masih tersembunyi, entah memang kita tidak menyadarinya atau kita yang sengaja menutupinya.

 

Karena apa? Seringkali kita membatasi diri. Kita terlalu fokus pada masalah sehingga kita “lupa” untuk melihat pada tujuan. Seolah masalah tersebut “menutupi pandangan” kita kepada outcome atau hasil yang kita ingin dapatkan.

 

Apa tanda-tandanya kita “membatasi diri”? Kita membatasi potensi di diri kita dengan mengatakan:

 

  1. *”Saya tidak bisa/tidak mampu/tidak sanggup.”* Contoh: “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.”
  2. *”Tidak mungkin.”* Misalnya dengan berkata: “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!”

 

Ketika kita mengucapkan kata-kata yang membatasi diri, silahkan cek perasaan apa yang dominan? Sensasi apa yang badan kita rasakan? Pasti kita merasakan emosi yang tidak nyaman di tubuh.

 

Mulai sekarang, kita sudah mulai bisa menyadari saat-saat perkataan kita membatasi potensi diri.

 

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Saya akan buka di tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Sudut Pandang Lain

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, seolah dia terkunci dengan kondisinya itu. Dia seperti tidak menemukan jalan keluar. Seringkali hal ini bukan karena beratnya masalah, namun tentang bagaimana dia memandang atau mengartikan masalahnya tsb.

 

Ketika dia berhasil mengartikan kondisinya secara berbeda, atau memandangnya dari sudut pandang yang lain, bisa jadi dia menemukan solusinya.

 

Dalam proses coaching, hal ini bisa dilakukan dengan sebuah strategi yang sederhana. Tertarik?

 

Nah, proses ini dinamakan reframing. Di kompetensi inti ICF, kemampuan ini masuk ke kompetensi Direct Communication. Tujuannya adalah agar memfasilitasi coachee melihat dan memahami situasinya dalam sudut pandang yang lain sehingga dia mendapatkan makna baru yang berdampak positif.

 

Caranya bagaimana?

 

Ada dua cara reframing yang paling dasar:

 

  1. *Content Reframing.* Prosesnya adalah dengan melihat suatu keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Misalkan “Sepertinya saya tidak jadi mendapatkan project itu. Atasan saya sudah gak percaya lagi dengan saya.” Maka kita bisa reframe pandangannya tersebut dengan men-challenge seperti: “Apa lagi yang Anda bisa artikan dari kejadian itu?” atau “Dalam bentuk apa kejadian itu menjadi hal yang positif untuk diri Anda?”

 

  1. *Context Reframing.” Prozesnya adalah dengan melihat kapan dan/atau dimana lagi keadaan tsb menjadi positif. Contoh “Atasan saya terlalu pelit dalam hal keuamgan.” Maka kita bisa bantu dia dengan pertanyaan: “Di situasi seperti apa perilaku dia bisa bermanfaat?”

 

Apakah kondisinya langsung berubah? Apakah masalah dia langsung selesai? Tidak juga. Paling tidak ketika dia telah mampu melihat situasi atau problemnya dari sudut pandang yang berbeda, dia bisa mengartikannya secara berbeda pula. Hal ini akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya secara positif. Bila sudah positif, kemungkinan besar pula akan menemukan berbagai alternatif solusi.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Mengambil Keputusan (2)

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apakah Anda pernah merasa bingung dalam menentukan pilihan? Walaupun sudah ada kriterianya, Anda tetap saja tidak bisa memilih?

 

Kemungkinan besar ada 2 atau lebih kriteria yang konlik, Anda tidak tahu yang mana yang musti diprioritaskan.

 

Misal kasusnya adalah seorang coachee bingung memutuskan apakah memilih pekerjaan A atau B. Ternyata kebingungan dia karena ada dua kriteria yang dia anggap sama pentingnya, yaitu penghasilan dan waktu kerja. Pekerjaan A menawarkan penghasilan yang lebih besar namun membutuhkan waktu kerja yang juga lebih banyak. Pekerjaan B menawarkan penghasilan yang lebih kecil namun waktu kerjanya fleksibel.

 

Lalu bagaimana solusinya?

 

Prosesnya adalah mirip dengan tulisan sebelumnya yang berjudul “Konflik Batin”, yaitu sbb:

 

  1. Gali niat tertinggi dia untuk masing-masing kriterianya, yaitu niat tertinggi terhadap penghasilan, dan niat tertinggi terhadap waktu kerja. Niat tertinggi adalah dalam bentuk value, yaitu apa yang dia anggap paling penting;
  2. Bila kedua niat tertinggi sudah didapat, tunjukkan ke dia keduanya dan minta dia untuk mempertimbangkan mana yang lebih penting dalam hidupnya;
  3. Bila dia sudah memutuskan, kemhalikan lagj kepada kedua pilihan pekerjaan A dan B, yang mana pilihan dia?

 

Bila coachee sudah melakukan proses di atas, dia akan lebih mudah memutuskan pilihan pekerjaan yang mana yang dia akan ambil.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora Coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Mengambil Keputusan

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Banyak orang yang menjadi coachee memiliki berbagai tujuan. Salah satu yang paling sering adalah keinginan mereka agar bisa mengambil sebuah keputusan terhadap dua atau lebih pilihan.

 

Mengapa seseorang bingung untuk memilih? Apa yang menyebabkan dia kesulitan untuk mengambil sebuah keputusan?

 

Pada dasarnya, orang tidak bisa memutuskan terhadap beberapa pilihan karena dia tidak punya kriteria yang jelas mengenai hal tersebut. Dia tidak mengacu kepada value atau hal-hal yang penting untuk dirinya. Misal, ketika seseorang bingung apakah dia musti menerima tawaran pekerjaan A atau pekerjaan B, kemungkinan besar karena bingung kriteria atau nilai-nilai yang dia anggap penting dalam sebuah pekerjaan.

 

Jadi, bila coachee Anda sedang bingung memutuskan pilihan, berikut langkah-langkah melakukannya:

 

  1. Kembali ke contoh di atas tentang bingung memilih pekerjaan, tanyakan ke dia, apa saja yang saat ini dia anggap penting dalam konteks pekerjaan;
  2. Setelah dia menyebut beberapa kriteria yang penting tsb, minta dia memprioritaskan mulai dari yang paling penting dst sampai yang paling kurang penting;
  3. Kemudian minta dia mengevaluasi kedua alternarif pekerjaan A dan B, terhadap kriteria penting tsb. Yang manakah yang paling banyak memenuhinya?

 

Bila coachee sudah melakukan proses di atas, dia akan lebih mudah memutuskan pilihan pekerjaan yang mana yang dia akan ambil.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.