Lebih baik tidak tahu kalau kamu tidak tahu

Saya (coach Arif) ingat waktu mendalami Zig Ziglar dan sempat mendapat lisensi mengajar Materi Zig Ziglar yaitu bahwa lebah itu sebenarnya tidak mungkin bisa terbang menurut ahli aerodinamis. Karena sayapnya kecil tetapi badannya besar apalagi belakang tubuhnya. Untung saja lebah tidak tahu bahwa dia tidak bisa membaca dan mendengar, coba kalau bisa. Saya yakin dia tidak akan bisa terbang.

Begitu juga Andrew Wommack seorang guru yang mengajarkan Alkitab begitu polosnya karena dari desa, dia ketika ke New York dan mengikuti Bible Camp, dia jalan sendiri malam malam ke daerah Broadway yang terkenal ada beberapa Red district, dia mendekati wanita wanita dipinggir jalan tersebut dan didekati oleh “papi” Wanita tersebut dan ditawarkan wanita tersebut. Dia bingung dan tidak mengerti maksudnya. Jadi dia pulang dan bercerita kepada temannya ttg kejadian tadi dan teman temannya mengatakan “loh itu dia menawarkan kepada kamu memakai jasa wanita tersebut” Untung dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu jadi bisa tetap jalan yang benar.

Begitu juga kemaren waktu istri saya Anna Meilanny dan saya berada di makassar. Begitu baru tiba di bandara dan kami sedang menunggu barang barang kami eh troli barangnya abis. saya sampai mencari dua kali dan tetap tidak dapat. Akhirnya kami putuskan taruh 2 kardus kecil kami di atas koper. Nah saat kami mulai ke arah keluar, saya terfokus ada satu orang yang membawa 3 troli dan sy minta istri sy tolong ambil troli dan saya menjaga barangnya dan kardus tersebut. Eh istri saya malah menuju ke satu orang pakai baju merah dan ada tulisan porter yang lagi memegang 1 troli. Disamperin oleh istri saya dan sudah pasti troli itu tidaklah diberikan tetapi istri saya tetap ngomong bahwa kami kesulitan. Saya mau ngomong ke dia bahwa salah orang tapi ga bisa enak dikeramaian dan sy lihat dia begitu kekeh dan berhasil mendapat troli itu dan bapak itu pasrah sepertinya.

Untung istri sy tdk tahu bhw dia tdk tahu hihihi

Coaching 101 – Tips memberikan feedback

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Bayangkan bahwa Anda baru saja memberikan feedback kepada karyawan Anda. Anda memberi tahu dia bahwa laporannya bagus, lalu Anda juga memberi saran agar dia memperbaiki cara dia menelepon customer. Lalu Anda mengecek satu bulan kemudian, namun belum ada perubahan. Laporannya bulan ini tidak sebagus laporan sebelumnya. Dan cara dia menelpon customer semakin buruk. Ketika Anda tanya, ternyata dia tidak paham apa yang musti diperbaiki.

 

Apakah Anda pernah mengalami hal seperti ini?

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang memberikan umpan balik. Saran atau pujian, yang merupakan suatu bentuk umpan balik, ternyata musti dilakukan dengan cara yang benar sehingga memberikan dampak positif untuk team kita.

 

Mengapa? Karena memberikan umpan balik dan apresiasi merupakan sarana yang sangat bagus untuk men-develop kinerja team kita. Dan apabila team kita sudah menjadi lebih baik kinerjanya, pada akhirnya kita juga yang akan menikmati hasilnya.

 

Lalu bagaimana caranya?

 

Bila kita mengacu ke kompetensi inti yang musti dikuasai seorang Coach, memberi umpan balik adalah masuk dalam kompetensi inti Direct Communication.

 

Kompetensi Inti dari ICF ini ada 11, dan ternyata selain merupakan standar yang musti dikuasai oleh seorang Coach profesional, ternyata semuanya itu bisa lho diadopsi oleh para Leaders di perusahaan. Begitu juga tentang Direct Communication, dalam hal ini memberikan umpan balik.

 

Direct Communication pada intinya adalah sebuah kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan dampak positif yang besar.

 

Nah, artinya seorang Leader musti mampu memberikan umpan balik yang efektif dan berdampak positif yang besar untuk team-nya.

 

Efektif itu yang seperti apa?

 

Pertama, kita musti pastikan waktu dan suasananya paling tepat, jangan terlalu lama dan jangan juga saat suasana hati kita sedang panas.

 

Lalu jelaskan secara spesifik dan jelas apa yang sudah bagus dan apa yang musti ditingkatkan, sehingga team kita paham apa yang mereka musti lakukan selanjutnya. Jangan lupa untuk memberi tahu mereka mengapa itu penting dan apa dampak-dampaknya.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Monitoring Progress using the GROW Model

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Sudah banyak artikel yang membahas Model GROW dalam proses coaching. Monitoring progress sebetulnya adalah sebuah percakapan coaching juga. Oleh karena itu Model GROW juga dapat diaplikasikan dalam memantau kemajuan coachee.

 

Mungkin ada yang bertanya, kenapa pakai GROW? Kan kalau mengecek apakah coachee sudah mengerjakan rencana-rencananya tinggal tanyakan saja, simpel kan?

 

Jangan lupa, 11 kompetensi ini ICF dikategorikan dalam 4 kelompok atau kluster. Kompetensi inti Managing Progress and Accountability masuk dalam kluster Facilitating Learning and Results.

 

Ini berarti, dalam follow through pun musti ada proses pembelajaran yang coachee alami, bukan sekedar memeriksa apa yang sudah dan belum dikerjakan. Model GROW pada intinya adalah sebuah framework untuk proses pembelajaran. Jadi, pastinya model ini juga sesuai digunakan saat coach melakukan follow-through atau memantau progress coachee.

 

Jadi, bagaimana Model GROW dipakai untuk melakukan follow through atau memantau perkembangan coachee? Prinsipnya adalah timggal menggunakan pertanyaan-pertanyaan pembuka yang sesuai dalam konteks follow through, sbb:

 

*G – Goal:* “Apa yang Anda ingin dapatkan dari sesi follow through ini?”

 

*R – Reality:* “Apa saja yang sudah terjadi semenjak sesi coaching terakhir kita?”

 

*O – Options:* “Apa yang bisa dilakukan secara berbeda?”

 

*W – Will/Way forward:* “Apa yang Anda akan lakukan secara berbeda? Pelajaran apa yang Anda dapatkan?”

 

Setelah diawali dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka seperti di atas, tentunya musti dilanjutkan dengan probing atau eksplorasi lebih spesifik disertai dengan acknowledgment, parafrasing, reflecting, dll.

 

Selamat berlatih.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita

Coaching 101 – Not Knowing

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Pernahkah Anda diminta untuk melakukan sesuatu secara mendadak? Misalkan saja diminta untuk menyampaikan pidato pembukaan di sebuah event. Walaupun tahu event tsb tentang apa namun Anda tidak yakin atau bingung musti bicara apa. Lalu Anda memutuskan untuk melakukannya dan menjalani prosesnya. Yaitu Anda datang ke event tsb dengan pakaian yang sesuai, Anda bersalaman dengan host dan undangan lain, ngobrol, duduk, dan saat nama Anda dipanggil Anda maju dan berdiri di sana. Walau pada awalnya deg-degan, tiba-tiba saja Anda mengatakan sesuatu dan terus bicara hingga selesai, dan semua undangan bertepuk tangan. Nah, apa yang terjadi?

 

Di kompetensi inti tentang Coaching Presence, ada persyaratan yang mengatakan “is open to *not knowing*.”

 

Maksudnya apa ya, kok sepertinya paradoks banget kata-kata ini?

 

Di satu sisi kita kan memang sudah tahu apa itu coaching, ilmunya dan kita sudah mempelajari skill-nya. Di sisi lain kita diminta untuk *not knowing*? Aneh ya.

 

Nah, memang kita sudah tahu banyak hal tentang coaching. Yang sebetulnya kita tidak tahu secara persis adalah apa yang terbaik bagi coachee sekarang, pada saat duduk bersama dia. Yang bisa kita lakukan untuknya adalah tetap hadir sepenuhnya, menyimak, dan responsif.

 

Jadi, bersikap *not knowing* bukan berarti tidak tahu segalanya. Ini maksudnya adalah “being in the moment”. Benar-benar hanya ada di saat ini. Ini adalah sebuah mindset yang penting untuk menjadi seorang master coach. Dengan tetap berada di momen saat ini adalah posisi yang paling powerful untuk meng-coaching. Bukan di masa lalu, atau di masa depan, namun tetap di saat ini. Selanjutnya percayakan pada intuisi Anda.

 

Lalu bagaimana caranya? Silahkan baca kembali beberapa artikel saya sebelumya tentang “Tips untuk bisa Presence.”

 

Sebagai penutup, silahkan pikirkan: Seberapa nyamankah Anda untuk bersikap “not knowing”, untuk tetap berada di saat ini bersama coachee, dan bergerak menuruti irama coachee san bukannya irama Anda?

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Merefleksikan bukan Mengartikan

Selamat pagi dan apa kabar?

Coach dan coachee adalah dua manusia yang berbeda. Masing-masing memiliki pengalaman hidup, keyakinan, dan proses berpikir yang berbeda. Sehingga, masing-masing mengartikan atau memaknai berbagai peristiwa secara berbeda pula.

Ketika coachee sedang menceritakan kondisinya, seorang coach pemula bisa tergoda untuk mengartikan hal-hal tertentu dari konten ceritanya, kemudian dia akan menggali lebih jauh dengan mengacu pada apa yang dia artikan. Dia lupa bahwa coachee punya makna tersendiri terhadap kondisinya. Dan hanya makna yang dia buatlah yang berlaku, bukan makna yang coach-nya buat.

Jadi, fokuslah pada bagaimana coachee memaknai kondisinya.

Caranya bagaimana? Perhatikan apa yang coachee katakan berkaitan dengan kondisinya, dan perhatikan juga bagaimana coachee mengatakannya. Lalu refleksikan kembali ke cochee.

Mungkin contoh berikut bisa membantu memberikan pemahaman:

Coachee menghela nafas lalu berkata, “Saya harus bekerja berjam-jam hanya untuk menyelesaikan semua pekerjaan saya setiap hari.” Dia menunduk, suaranya menurun dan menghilang.

Coach berkata, “Saya mendengar Anda tadi menghela napas sebelum berbicara, lalu ketika berbicara kepala Anda menunduk lalu suara Anda menurun dan menghilang. Apa artinya itu terhadap apa yang Anda katakan tadi?”

Nah, apa yang coach lakukan adalah melakukan observasi terhadap bahasa tubuh coachee, menangkap apa yang coachee tidak katakan, merefleksikan semua itu ke coachee, dan menggali apa yang coachee artikan terhadap beban pekerjaannya. Dari sini proses coaching berjalan dengan lebih mendalam karena mengeksplorasi bagaimana coachee memproses kondisinya, bukan terjebak untuk membahas konten kondisinya.

Bila coach melakukan hal di atas, dia telah mendemonstrasikan penguasaan 2 kompetensi inti paling tidak di level PCC, yaitu:

 

  1. Coaching presence: Coach menangkap dan mengeksplorasi pergeseran energi di dalam diri coachee; dan
  2. Active listening: Coach mendengar dan mengeksplorasi nada suara dan laju bicara coachee.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – What dan Who dalam Tujuan Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Ketika kita masih baru mempraktikan coaching, kita mungkin suka bingung tentang apa yang paling penting bagi coachee untuk dicapai dalam sebuah sesi coaching.

 

Ada dua bagian yang biasanya menjadi agenda coaching yang ingin dibahas. Sir John Whitmore menyebutnya *internal reality* dan *external reality*. Carly Anderson, MCC menamakannya bagian *what* dan bagian *who*.

 

Bagian *what* dari agenda adalah tentang sesuatu yang simpel seperti ingin membuat rencana, strategi, atau hal yang masuk akal lainnya. Saya katakan simpel karena sebetulnya coachee sudah tahu jawaban-jawaban tentang hal itu, karena kebanyakan mereka sudah expert di bidangnya.

 

Bagian *who* adalah hal-hal atau kondisi dirinya berkaitan dengan bagian *what* di atas. Tentang apa yang dia pikirkan atau rasakan mengenai dirinya atau mengenai rencana atau strateginya. Dan bagian inilah yang menjadi “core issue” yang akan sangat memberikan dampak terhadap bagian *what*.

 

Bagaimana cara mengidentifikasi bagian *who*?

 

Dengarkan dengan aktif apa yang coachee ceritakan mengenai agendanya. Bila perlu lakukan probing. Kita akan menemukan beberapa kata atau frasa kunci yang menjadi petunjuk mengenai kondisi dirinya yang mempengaruhi keberhasilan mereka untuk melakukan rencananya.

 

Beberapa contoh kata atau frasa kunci:

 

“Saya khawatir saya …”

“Saya takut untuk …”

“Apa yang mungkin menghambat …” dll

 

Coachee akan memberikan beberapa petunjuk  mengenai apa yang menghalangi mereka mencapai tujuan. Perhatikan dengan seksama tentang pernyataan-pernyataan yang menggambarkan dirinya.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Bagaimana Anda Tahu Apa yang Coachee Butuhkan di Sesi Coaching?

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Mungkin Anda berpikir judul di atas adalah pertanyaan yang mudah dijawab. Ternyata, mengklarifikasi hasil sesi coaching yang coachee sebenarnya perlukan adalah kompetensi inti yang sangat menantang untuk dikuasai.

 

Karena, jika Anda tidak betul-betul mendapatkan apa yang coachee inginkan, maka Anda bisa keliru dalam proses coaching-nya.

 

Berdasarkan pengalaman saya, apa yang coachee butuhkan di sesi coaching tidak selalu dengan mudah dia ungkapkan, namun bisa ada di tengah-tengah ceritanya.

 

Berikut adalah tips agar bisa mendapatkan kebutuhan coachee yang lebih dalam dari hanya sekedar apa yang dia ucapkan. Contoh percakapan:

 

Coach: _”Apa yang Anda ingin bahas di sesi coaching hari ini?”_

 

Coachee: _”Seperti yang Anda tahu, bisnis saya sudah berjalan sangat baik, dan saya pikir sekarang adalah waktunya untuk ekspansi. Namun saya khawatir saya mungkin akan kerepotan dan sumber daya saya masih terbatas jika melakukannya sekarang karena saya sedang mengerjakan sebuah proyek yang sangat besar sehingga saya tidak tahu apakah punya waktu untuk memikirkan ekspansi ini.¬† Namun jika saya tidak segera melakukannya, saya akan kecewa dengan diri saya sendiri bahwa saya tidak melakukannya.”_ [Coachee terus saja berbicara tentang peluang bisnis, expansi, dan tentang beban kerjanya saat ini].

 

Apabila kita sebagai coach, tentu kita musti mendengarkan dengan aktif dan menangkap kata-kata kunci yang coachee ucapkan. Carly Anderson, MCC membagi dua jenis kata kunci, yaitu yang *”what”* dan yang *”who”*., yang merupakan tujuan coachee yang sebenarnya.

 

Kembali ke contoh cerita coachee di atas, yang *what* adalah: “Seperti yang Anda tahu, bisnis saya sudah berjalan sangat baik, dan saya pikir sekarang adalah waktunya untuk ekspansi.”

 

Bagian yang *who* adalah _”Namun saya khawatir saya mungkin akan kerepotan dan sumber daya saya masih terbatas jika melakukannya sekarang.”_ dan _”saya akan kecewa dengan diri saya sendiri bahwa saya tidak melakukannya.”_

 

Sepertinya juga ada konflik internal di diri coachee, yaitu antara keinginannya untuk ekspansi dan kesibukannya dengan proyek besar yang dia sedang kerjakan.

 

Nah, apakah Anda bisa membedakan kata-kata kunci yang bagian *what* dan yang *who*? Bila belum, saya akan menjelaskan di tulisan besok.

 

Kembali ke contoh, karena kata-kata kunci bagian *who* sudah didapatkan maka coach melakukan parafrasing dan refleksi sbb:

 

Coach: _”Anda tadi mengatakan bahwa Anda khawatir akan kerepotan dan sumber daya Anda masih terbatas jika melakukan ekspansi sekarang, dan juga Anda akan kecewa dengan diri sendiri jika tidak melakukannya. Tolong koreksi jika saya salah, sepertinya saya menangkap ada konflik batin di dalam diri Anda antara fokus dengan proyek yang sekarang dengan melakukan ekspansi. Jadi, apa yang Anda ingin dapatkan di akhir sesi coaching kita sekarang?”_

 

Coachee: _”saya ingin kita membahas tentang konlik batin saya ini sehingga saya bisa benar-benar mengambil keputusan yang paling tepat.”_

 

Nah, dengan demikian coachee bisa mengungkapkan apa yang dia benar-benar perlu dapatkan di sesi coaching tsb, dan kita sebagai coach akan mamou memberikan mutu coaching yang sangat bernilai bagi coachee.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Coaching Mindset

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Agar bisa melakukan coaching dengan efektif, kita musti memiliki pola pikir yang paling tepat mengenai kemampuan manusia.

 

Untuk itu, silahkan lakukan aktivitas ini:

 

Pikirkan seseorang yang sering bekerja bersama Anda, apakah itu staf atau rekan kerja Anda. Lalu coba memakai beberapa pola pikir berikut ini satu per satu. Tetap menggunakan setiap pola pikir tsb selama beberapa saat, sembari memperhatikan perasaan apa yang muncul dalam diri Anda:

 

  1. “Orang ini adalah sumber masalah”
  2. “Orang ini bermasalah”
  3. “Orang ini sulit berubah”
  4. “Orang ini sedang dalam fasa belajar dan sebenarnya penuh potensi”

 

Apa yang Anda amati mengenai setiap mindset di atas?

Emosi atau perasaan apa saja yang muncul dalam diri Anda?

Pola pikir yang mana yang cenderung Anda gunakan tiap harinya?

 

Bila kita ingin memfasilitasi perubahan positif kepada orang lain melalui coaching, kita mengubah pendapat kita mengenai orang tsb. Apa pun yang kita pikirkan tentang orang tsb maka akan tercermin dari sikap kita kepadanya, baik kita sadari atau tidak, dan hal ini akan membawa dampak yang sangat besar terhadap dia. Bagaimana Anda bisa membina orang lain menjadi lebih baik kalau pikiran Anda tentang dia sudah pesimis?

 

Pilihlah coaching mindset yang paling berguna, yang akan mendukung coachee kita untuk yakin dengan dirinya sendiri dan memotivasinya untuk berkembang.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Coaching adalah Bentuk Pelaksanaan dari Kecerdasan Emosi

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Saya yakin teman-teman sudah sangat familiar dengan istilah kecerdasan emosi (emotional intelligence). Semenjak buku Daniel Goleman tentang hal ini terbit pada tahun 1995, kecerdasan emosi menjadi diakui bahkan sampai ke tahap diharuskan dalam dunia pekerjaan dan profesional.

 

Sebelum membahas kaitan coaching dengan kecerdasan emosi lebih lanjut, silahkan lakukan latihan berikut ini:

 

Silahkan mengingat kembali seseorang yang Anda merasa nyaman dengannya. Sudah? Nah, ketika dia sedang bersama Anda:

 

  1. Apa yang dia lakukan kepada Anda?
  2. Bagaimana perasaan Anda?

 

Silahkan jawab.

 

Latihan ini sebetulnya sudah digunakan oleh Sir John Whitmore dalam memperkenalkan dan mengajarkan coaching di seluruh dunia. Dari sekian banyak jawaban, berikut adalah yang paling konsisten muncul:

 

Orang tersebut:

  1. Mendengarkan saya
  2. Mempercayai saya dengan tulus
  3. Menyemangati saya
  4. Menghargai saya
  5. Memberikan perhatian penuh pada diri saya
  6. Memperlakukan saya sederajat dengannya.

 

Sehingga saya merasa:

  1. Spesial
  2. Dihargai
  3. Percaya diri
  4. Diperhatikan
  5. Didukung
  6. Bersemangat

 

Jadi, semua jawaban di atas adalah tentang kecerdasan emosi, yaitu tentang ketrampilan sosial dan hubungan antar manusia.

 

Dan ternyata 11 kompetensi inti coaching adalah berkaitan dengan kecerdasan emosi semuanya. Silahkan Anda pelajari kembali definisi dari kesebelas kompetensi tsb, pasti pada prinsipnya adalah kecerdasan emosi.

 

Jadi coaching bukanlah sekedar teknik, ini adalah cara untuk memimpin. Bahkan, ini adalah cara untuk memperlakukan orang lain, bagaimana kita menjalin hubungan di tempat kerja, dan di kehidupan yang lebih luas lagi.

 

Dengan coaching, kita bukan hanya membina dan mengembangkan karyawan. Kita juga belajar mempraktikan kecerdasan emosi secara nyata sehingga menjadi life skill yang dibutuhkan dalam hubungan antar manusia.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Questions Continuum

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Di Kompetensi Inti ICF, salah satu kemampuan yang musti dikuasai seorang Coach adalah Powerful Questioning. Faktor utama adalah proses bertanya yang powerful, yaitu yang menciptakan AHA moment atau kesadaran baru. Selain itu, memilih kata tanya dan bentuk pertanyaan yang tepat juga sangat menentukan efektifnya coaching.

 

Mengetahui berbagai jenis dan model pertanyaan itu penting dan bagus untuk seorang coach. Dengan proses yang benar sehingga memberikan dampak yang powerful untuk diri coachee.

 

Sekarang saya memperkenalkan yang namanya *Questions Continumm*. Intinya adalah sederetan kata tanya/bentuk pertanyaan mulai dari yang sangat tidak powerful hingga yang paling powerful.

 

Silahkan lihat gambar di bawah ini:

 

Bila kita perhatikan, ujung yang paling kiri adalah bentuk closed questions, atau bentuk pertanyaan yang hanya memberikan jawaban YA atau TIDAK. Ini adalah bentuk yang dianggap sangat tidak powerful. Bukannya tidak boleh digunakan sama sekali. Tetap bisa, biasanya digunakan untuk mengkonfirmasi setelah melakukan probing.

 

Ujung yang paling kanan adalah pola pertanyaan “What if”, dan dianggap paling powerful. Seperti yang telah kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, jenis pertanyaan ini memicu proses berpikir kreatif coachee hingga dia menemukan kesadaran baru.

 

Yang menarik adalah pertanyaan “WHY” karena ada tanda bintang. Kita musti hati-hati menggunakan jenis pertanyaan ini. Bila keliru, malah akan membuat coachee defensif atau akan menjawab sesuai dengan yang dia pikir kita ingin dengar saja. Misal, apa biasanya jawaban dari pertanyaan “mengapa terlambat tiba di kantor?”

 

Bentuk WHY yang powerful adalah untuk menggali values di balik pernyataan coachee. Misal, “Mengapa mendapatkan promosi manager ini begitu penting buat Anda?”

 

Baiklah, mudah-mudahan dengan penjelasan di atas kita akan lebih efektif lagi untuk menyusun pertanyaan yang paling ampuh memberdayakan coachee. Silahkan berlatih.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.