Coaching 101 – Konflik Batin

Selamat siang dan apa kabar?

 

Dalam suatu sesi pro-bono coaching di event International Coaching Week 2019, coachee saya adalah seorang mahasiswi program beasiswa. Dia sangat cerdas, dan perfeksionis. Karena itu, dia mengeluh suka terlambat menyelesaikan tugas-tugasnya. Bukan karena tidak mampu menyelesaikannya, namun dia ingin agar hasilnya sesempurna mungkin. Bila dia tidak yakin, dia akan mengulang lagi atau mendalami lebih banyak literatur-literaturnya hingga dia merasa puas. kita mesti paham sebagai coach akan permasalahannya tersebut.

coaching

Di lain pihak, dia merasa lelah dengan kebiasaanya ini. Dia sebetulnya ingin seperti teman-temannya yang bisa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, dan tidak terbebeani dengan keharusan agar hasilnya perfect.

 

Sekarang dia mengalami stres, karena di satu sisi dia ingin hasil tugas-tugasnya perfect, di sisi lain dia ingin agar bisa menyelesaikannya tepat waktu dan tidak selalu terbebani dengan keharusan agar hasilnya sempurna.

 

Sebagai seorang Coach, tugas saya adalah memfasilitasi dia untuk mendapatkan kesadaran baru terhadap kondisinya. Singkat cerita, yang akhirnya saya lakukan adalah:

 

  1. Menggali niat tertinggi dia untuk masing-masing keinginannya, yaitu niat tertinggi terhadap hasil yang perfect, dan niat tertinggi terhadap menyelesaikan tugas tepat waktu. Niat tertinggi adalah dalam bentuk value, yaitu apa yang dia anggap paling penting;
  2. Bila kedua niat tertinggi sudah didapat, saya menunjukan ke dia keduanya dan meminta dia untuk mempertimbangkan mana yang lebih penting bila dikaitkan dengan goal hidupnya;
  3. Lalu saya memfasilitasikan dia untuk mengintegrasikan kedua value tersebut, agar keduanya bisa sama-sama dipenuhi kebutuhannya;

 

Setelah melalui ketiga proses di atas, dia akhirnya menyadari sendiri bahwa kesempurnaan itu mustahil untuk dia dapatkan, yang dia bisa lakukan adalah melakukan sebaik mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Apabila hasilnya sudah memenuhi syarat dari dosennya, dia akan mengumpulkannya tanpa perlu terobsesi untuk memperbaikinya sampai dia anggap sempurna. Toh, menurut dia, nilai yang dia dapat bukan seberapa sempurnya tugas tersebut namun seberapa sesuainya terhadap kemauan dosennya.

 

Berdasarkan ilustrasi di atas, kita bisa simpulkan bahwa tugas seorang Coach jangan terjebak dengan konten atau isi dari pemasalahan coachee. Tugas kita adalah bermain di level struktur berpikirnya, yaitu memicu proses berpikir kreatif coachee sehingga dia bisa menemukan dan memilih solusinya sendiri.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *