Coaching 101 – Memastikan Proses Coaching Sejak Awal

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Oke. Anda sudah menyelesaikan dan lulus pelatihan coaching. Anda begitu takjub dengan ‘kehebatan’ coaching. Anda begitu percaya diri bahwa coaching adalah proses yang luar biasa mengagumkan untuk men-develop orang.

 

Tentunya Anda ingin dengan segera mempraktikannya. Anda ingin mengumpulkan jam terbang (coaching hours) secepatnya. Anda begitu yakin 100 jam bisa dikumpulkan dalam waktu maksimal 3 bulan. Lagipula coaching kan hebat, pasti banyak orang yang membutuhkannya.

 

Anda mulai menawarkan jasa coaching pro bono (gratis) kepada teman-dekat. Sebagai Leader di perusahaan, Anda juga langsung menerapkan coaching ke karyawan Anda. Bahkan menawarkan coaching ke karyawan rekan-rekan leader Anda.

 

Namun apa yang terjadi? Anda mengalami hal-hal berikut:

 

  1. Karyawan Anda kebingunan ketika di-coaching, bahkan mereka malah minta dikasih tahu terus solusi masalahnya;

 

  1. Rekan leader Anda terlalu mendikte goal coaching karyawannya, dan sebagai coachee Anda, karyawannya punya ekspektasi dan goal yamg berbeda dengan kemauan atasannya;

 

  1. Coachee Anda tidak mau melanjutkan sesi, katanya coaching kelamaan, ribet, bikin pusing, dll.

 

Pernah mengalami hal-hal seperti di atas?

 

Ketika mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga level PCC, saya menyadari bahwa kompetensi yang musti dikuasai oleh seorang coach berbasiskan ICF bukan hanya saat dia melakukan proses coaching, namun juga ICF menyadari bahwa persiapan awal sebelum coaching berjalan juga hal yang sangat penting.

 

Berbagai hal yang musti dibahas di awal adalah masuk ke kompetensi inti Establishing a Coaching Agreement, yaitu Membangun Kesepakatan Coaching. Tujuan utama kompetensi ini adalah untuk memahami tujuan klien (atasan dan coachee), membangun kesepakatan hak dan tanggung jawab masing-masing pihak, dan menjelaskan serta mensepakati proses coaching.

 

Jadi, untuk memastikan proses coaching berjalan lancar dan meminimalisir kegagalannya, sebelum sesi coaching ketiga pihak (atasan, coach, dan coachee) musti duduk bersama untuk:

 

  1. Coach menjelaskan definisi dan proses coaching, serta apakah hal ini cocok dengan ekspektasi mereka;

 

  1. Coach menggali kebutuhan/needs calon coachee:apakah dia sesuai untuk coaching atau malah lebih membutuhkan intervensi yang lain (misal training, mentoring, atau konseling);

 

  1. Ketiga pihak mensepakati sasaran dan outcome dari program coaching;

 

  1. Ketiga pihak mensepakati indikator dan ukuran keberhasilan program coaching, dan apa saja yang musti dilaporkan dan yang tidak.

 

Dengan melakukan paling tidak keempat hal di atas, akan semakin memperbesar kelancaranan program coaching dan besar juga kemungkinan tujuan coaching tercapai.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Posted in Artikel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *