Coaching 101 – Menciptakan Hubungan yang Setara

Apa kabar?

 

Salah satu kata kunci yang terdapat di definisi coaching berbasiskan ICF adalah “kemitraan” dengan klien. Ini artinya adalah proses coaching musti dilandasi oleh kesetaraan antara coach dan coachee. Tidak ada yang lebih berkuasa dalam prosesnya. Ini sangat penting untuk memastikan terbangunnya rasa pecaya dan keakraban di diri coachee terhadap coach-nya, sehingga terjadilah open communication yang sangat efektif untuk keberhasilan proses coaching itu sendiri.

 

Walaupun sepertinya sederhana, pelaksanaannya perlu strategi yang baik. Seorang Coach profesional musti menunjukan kesetaraannya terhadap coachee, tanpa memandang siapa yang membayar. Seorang Leader juga penting mempraktikan hal ini, seberapa tinggi posisi atau jabatannya. Jadi bagi seorang Leader, ini merupakan perubahan mindset yang cukup menantang.

 

Lalu strategi apa sajakah yang LENGKAP dan FUN untuk menciptakan hubungan yang setara antara coach dan coachee?

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang membangun kesetaraan dan kemitraan dengan coachee. Melakukan ini meliputi berbagai hal, mulai dari pola pikir, kata2 yang kita ucapkan, perilaku, bahasa tubuh, hingga suasana lingkungannya.

 

Berikut beberapa tips yang mungkin Anda bisa gunakan:

 

  1. Niatkan di kepala dan hati kita untuk menjadi mitranya dan mendukung coachee dengan tulus untuk berubah menjadi lebih baik. Nyatakan kepada coachee, tunjukan keseriusan Anda tentang hal ini;
  2. Tepat waktu sesuai kesepakatan untuk sesi coaching;
  3. Pastikan coachee siap untuk memulai sesi. Bila dia baru tiba, biarkan dia relaks dulu dan jangan buru-buru untuk memulai sesi apalagi dengan nada memerintah. Gunakan ice breaking. Humor ringan juga membantu;
  4. Praktikan active listening. Beri dia sinyal untuk terus berbicara, misal mengangguk, dengan ekspresi wajah dan eye contact yang tulus untuk menyimak. Jangan menginterupsi;
  5. Gunakan kata-kata dan jargon-jargon yang sesuai dengan dunianya, tidak menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah high level. Dan gunakan intonasi suara yang selevel juga, tidak bernada tinggi apalagi yang berkesan “bossy”;
  6. Sesekali, ucapkan acknowledgment terhadap apa yang dia ungkapkan. Misal, “saya hargai kejujuran kamu ketika menceritakan ….”, dll
  7. Mengatur tempat dan posisi duduk yang menunjukan kesetaraan. Hindari duduk di kursi kerja Anda karena di situ sudah ada anchor state “atasan”. Dan kalau bisa, hindari meja penghalang.

 

Oke. Barusan adalah beberapa tips yang menarik untuk dipraktikan. Mungkin Anda punya usul-usul lain? Mari kita diskusikan.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *