Coaching 101 – Ownership

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ketika menghadapi suatu situasi atau masalah, seorang coachee seringkali menyalahkan orang lain atau keadaan. Seakan seluruh masalahnya tsb adalah gara-gara mereka atau keadaan eksternal, dan dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk memperbaikinya. Secara tidak sadar, dia memposisikan dirinya sebagai korban. Istilahnya adalah “playing victim.” Dengan melakukan itu dia mendapat semacam kepuasan semu.

korpora coaching practitioner certification program

Dalam kondisi seperti itu, dia tidak akan mungkin mencapai goal atau sasarannya. Dan sesi coaching tidak akan berjalan dengan efektif. Untuk itu kita perlu memfasilitasinya agar dia kembali ke posisi ownership.

 

Kita dapat men-challenge coachee dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

 

  1. “Bagian mana yang menjadi kontribusi Anda terhadap masalah ini?”
  2. “Seandainya Anda punya kemampuan untuk memperbaikinya, apa yang akan dilakukan?”
  3. “Seandainya dia gak mungkin berubah, dan satu-satunya yang bisa memperbaikinya adalah Anda, apa yang Anda akan lalukan?”
  4. “Pura-puranya Anda diberi wewenang penuh, apa ide Anda?”
  5. “Jadi menurut Anda, emosi Anda, pikiran Anda, dan perilaku Anda di bawah kendali orang lain? Dan Anda tidak punya kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali?”

 

Hati-hati untuk menggunakan challenge yang terakhir. Kita baru bisa menggunakannya bila sudah terjalin rapport dan trust yang sudah dalam dengan coachee.

 

Coaching adalah suatu metode untuk melatih seseorang untuk bersikap ownership terhadap kehidupannya. Dengan menggunakan contoh-contoh di atas, maka akan membuat coachee semakin terlatih untuk bertanggung jawab 100% atas dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *