Coaching 101 – Saya sangat Sibuk

Salam Semangat!

“Coaching memang bagus, tapi saya sangat sibuk, gak punya waktu untuk coaching karyawan”

 coaching practitioner program

Pentingnya Coaching

Ini adalah pernyataan yang umum keluar dari mulut para atasan atau manajer yang berjuang menyelesaikan aktivitas kantor sehari-hari, sekarang malah disuruh untuk memberikan coaching kepada anak buahnya. Apakah Anda salah satunya?

Sebagian besar leader sebetulnya sudah tahu, bahwa mengembangkan teamnya adalah tugas mereka. Mereka juga tahu bahwa keberhasilan prestasi mereka sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam mengembangkan teamnya. Namun begitu, sepertinya sulit sekali untuk menyempatkan waktu untuk melakukan itu.

Nah, sebelum terburu-buru mengatakan “gak ada waktu untuk coaching”, ada baiknya Anda menjawab setiap pertanyaan di bawah ini, dan mempertimbangkan matang-matang pada jawabannya:

  1. Apa untungnya untuk Anda, secara pribadi dan profesional, saat berhasil meng-coaching karyawan?
  2. Sasaran coaching apa yang masih masuk akal untuk dibuat, di tengah kesibukan pekerjaan?
  3. Situasi apa sajakah yang Anda bisa manfaatkan untuk mempraktikan coaching? Misal, saat membantu masalah yang dihadapi karyawan, saat memberikan umpan balik, dll.
  4. Seberapa fleksibel karyawan Anda terhadap jadwal coaching? Contohnya jadwal yang mendadak, dll
  5. Bagaimana Anda bisa menciptakan waktu untuk coaching? Buatkan daftarnya.

Apabila Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda sebetulnya tidak ada alasan lagi untuk tidak mulai men-coaching bawahan. Jadi, ini tinggal tentang kemauan Anda saja untuk melakukannya.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Prinsip Dasar Coaching

Salam Semangat!

coaching practitioner program

Kemampuan seorang Coach

Dari banyak pengalaman melakukan coaching, saya menyadari bahwa ada beberapa mindset yang musti dimiliki oleh seorang Coach, agar proses coachingnya efektif. Mindset ini bisa juga disebut asumsi dasar, prinsip dasar, keyakinan dasar, atau apa pun. Yang jelas, bila seorang Coach sedang tidak memiliki mindset ini, kemungkinan besar coachingnya tidak efektif. Ini pernah juga saya alami.

Beberapa mungkin sudah saya sebut di tulisan sebelumnya tentang “Sikap Seorang Coach”. Dan berikut adalah tambahan-tambahannya:

  1. Berkomitmen untuk selalu mendukung coachee.
  2. Coaching dibangun berdasarkan asas kebenaran, keterbukaan, dan kepercayan.
  3. Coachee bertanggung jawab atas hasil-hasil yang dia buat.
  4. Coachee mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik dari saat ini.
  5. Fokus pada apa yang coachee pikirkan, rasakan, dan alami.
  6. Coachee mampu menghasilkan solusi yang terbaik untuk dirinya.
  7. Percakapan coaching berdasarkan kesetaraan dan kemitraan.

Bila Anda ingin menjadi seorang Coach yang berhasil, silahkan bandingkan prinsip-prinsip di atas dengan perilaku kita, mungkin ada hal-hal yang kita bisa perbaiki atau sempurnakan.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Sikap Seorang Coach

Salam Semangat!

korpora coaching certification program

Sikap Seorang Coach

Apakah Anda seorang Leader yang tertarik untuk mempelajari dan menerapkan coaching untuk mengembangkan karyawan? Mungkin Anda ingin tahu, apakah Anda cocok dengan sikap yang semestinya dimiliki oleh seorang Coach.

Atau, apakah Anda sedang mempertimbangkan untuk meng-hire seorang Coach untuk perusahaan atau pribadi? Mungkin Anda juga perlu tahu, sikap seorang Coach yang ideal itu seperti apa.

Nah, International Coach Federation, sebagai federasi coach terbesar di dunia, juga menstandarkan sikap dan perilaku seorang Coach yang profesional. Ini dituangkan ke dalam Kode Etik ICF. Tentunya saya tidak akan menuliskan kode etik tersebut satu per satu karena akan sangat banyak.

Saya akan tulis dalam bentuk kalimat yang simpel dan hanya yang berkaitan dengan interaksi langsung dengan coachee:

  1. Jujur dan terbuka. Ini termasuk menjelaskan apa itu coaching, kualifikasinya, pengalamannya, saat memberikan feedback, dll;
  2. Memperlakukan coachee merasa didengarkan, dipahami, dan dihargai. Sehingga coachee menjadi percaya dan nyaman;
  3. Positif dan semangat saat sesi coaching. Hal ini akan menular kepada coachee untuk positif dan semangat terhadap goalnya;
  4. Menghargai dan mengacu pada agenda coachee. Tidak berasumsi, tidak memaksakan apa yang menurut coach penting;
  5. Memberikan contoh. Datang tepat waktu, melaksanakan komitmen, dst;
  6. Obyektif dan tidak memihak. Tanpa prejudice, menilai, atau menghakimi;
  7. Menjaga coachee akuntabel. Memastikan agar coachee untuk selalu bertanggung jawab pada pikiran, perasaan, perbuatan, dan hasil-hasilnya.

Masih banyak sikap seorang Coach yang disyaratkan oleh ICF, mungkin beberapa yang lain sudah saya masukan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan tambahkan lagi nanti.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Akuntabilitas Coachee

Salam Semangat!

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan metode yang lengkap. Maksudnya adalah, bukan hanya sampai mendapakan kesadaran baru dan mengetahui solusi yang terbaik untuk dirinya, seorang coachee pun akan difasilitasi agar bisa merancang rencana tindakan (action plan) yang spesifik dan jelas agar solusi yang dia pilih bisa diwujudkan. Bahkan tidak sampai situ. Apakah dengan mendapat kesadaran baru dan sudah membuat action plan berarti sudah dijamin coachee pasti akan melakukannya? Belum tentu. Untuk itu, seorang coach musti memastikan agar coachee pun pasti akan melakukan rencana yang sudah dia buat.

korpora coaching practitioner certification program

Action Plan

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Managing Progress and Accountability, atau mengelola kemajuan dan akuntabilitas coachee. Seorang coach musti mampu memastikan agar coachee-nya tetap disiplin dan mau bertanggung jawab untuk melakukan apa yang dia katakan dan bertanggung jawab terhadap hasil-hasilnya.

Jadi, hal-hal apa sajakah yang seorang coach musti lakukan dalam memfasilitasi coachee agar tetap disiplin yang bertanggung jawab melakukan apa yang dia telah rencanakan? Utamanya adalah sebagai berikut:

  1. Pertama, pastikan apakah rencana-rencana tsb sangat menarik bagi coachee untuk melakukannya. Apakah dia termotivasi untuk melakukannya?
  2. Lalu pastikan juga apakah akan ada yang dirugikan bila dia benar-benar melakukannya? Apalagi terhadap dirinya sendiri. Karena bila ada, sudah hampir pasti dia tidak akan melakukannya. Oleh karena itu, coachee musti memikirkan apa antisipasinya.
  3. Cek ke coachee, siapa yang akan memantau pelaksanaannya? Bagaimana dia tahu kalau dia sudah benar-benar melakukannya? Dan bagaimana dia tahu bahwa dia sudah berhasil melakukannya?
  4. Bila perlu, fasilitasi dia untuk menentukan apa hukumannya bila dia gagal melakukan rencananya? Dan apa hadiahnya bila dia berhasil melakukan rencananya? Ingat, hukuman dan hadiah musti dari dia sendiri. Serta pastikan bahwa hukuman dan hadiah ini berkaitan dengan berhasil tidaknya dia melakukan rencana tindakannya, bukan tentang dia mencapai goal akhirnya atau tidak. Jadi fokus ke proses.

Demikian hal-hal yang musti dilakukan seorang coach untuk menjaga agar coachee tetap berkomitmen menjalankan berbagai action plan yang dia sudah tetapkan sendiri.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaja, PCC

Coaching 101 – Tetap pada Center Anda

Salam Semangat!

korpora coaching practitioner program

Tentukan Center

Tahukah Anda, bahwa di diri kita ada yang namanya “center”, atau pusat diri kita. Ini merupakan titik esensi dari siapa diri Anda. Center bukan tempat fisik, melainkan sebuah tempat yang Anda yakini ada di diri Anda. Lalu ada istilah “centering”, yang berarti menenangkan pikiran, emosi, dan pernapasan Anda, sampai ke suatu titik dimana Anda dapat “merasakan” apa yang terjadi di sekitar dan di dalam diri Anda.

Apa keuntungannya dengan berada pada “center” Anda? Pada intinya Anda akan tetap berada dalam kondisi “tenang”, apa pun yang terjadi di sekitar Anda. Apabila Anda kombinasikan dengan Learning (Hakalau) State, tentu hasilnya akan lebih efektif.

Berikut tahapan-tahapan untuk mencapai center Anda:

  1. Duduk dengan nyaman, dengan kaki menapaki lantai dan rasakan seperti menempel dengan bumi. Boleh menutup atau membuka mata;
  2. Fokus pada napas. Tarik napas selama 5 hitungan, lalu hembuskan selama 10 hitungan. Lakukan berulang-ulang;
  3. Rasakan ketika sedang bernapas punggung Anda menjadi santai;
  4. Perlahan-lahan, Anda mulai menyadari letak center di dalam tubuh Anda;
  5. Lepaskan segala pikiran, dan rasakan setiap tarikan napas masuk dan keluar di center Anda;
  6. Sambil terus melakukan tahap 5, rasakan Anda semakin terkoneksi dengan center Anda;
  7. Anda tahu bahwa Anda telah mencapai kondisi center ketika Anda merasa tenang dan damai.

Lakukan proses ini setiap sebelum sesi coaching, dan ketika memulai coaching, masuk ke kondisi learning atau hakalau. Selamat menikmati prosesnya.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Lakukan Grounding

Salam Semangat!

korpora coaching practitioner program

“Kehadiran” Coach

Semakin sering Anda melakukan coaching, baik itu kepada klien atau karyawan, Anda akan menghadapi beragam kondisi coachee, baik itu yang positif maupun yang negatif. Mungkin saja, coachee Anda memunculkan emosi yang kuat, sehingga Anda terpengaruh. Hal ini bisa jadi akan mengganggu kefektivitasan proses coaching Anda.

Salah satu dari 11 kompetensi inti ICF adalah Coaching Presence. Hal ini berarti seorang coach musti selalu hadir dan sadar sepenuhnya dalam proses coaching. Seorang coach musti menunjukan kepercayaan diri dan mampu mengendalikan diri ketika coachee-nya sedang mengeluarkan emosi yang kuat sehingga tidak terpengaruh.

Salah satu teknik yang berguna adalah “grounding”. Grounding adalah istilah yang sebagian besar digunakan untuk proses yang  berkaitan dengan energi. Grounding berarti menyingkirkan energi berlebih di tubuh Anda dan menyediakan jalan bagi energi baru yang bersih untuk masuk. Sangat penting untuk selalu memiliki aliran energi yang baik masuk dan keluar ketika melakukan aktivitas apa pun terkait dengan muatan emosi, pada khususnya proses coaching.

Bagaimana caranya melakukan grounding energi negatif yang ada di diri Anda?

Anda musti melakukan centering dan dilanjutkan dengan grounding. Ini adalah proses yang alamiah untuk melakukannya. Pertama Anda menenangkan energi, lalu Anda memindahkan energinya.

Berikut ini adalah sebuah latihan yang sangat sederhana untuk melakukan grounding, yang dapat dilakukan ketika Anda merasa tidak seimbang atau kelebihan emosi negatif di tengah-tengah sesi coaching:

  1. Lakukan proses centering seperti yang diarahkan di tulisan saya sebelumnya, tentang “Tetap pada Center Anda”;
  2. Anda tahu bahwa Anda telah mencapai kondisi center ketika Anda merasa tenang dan damai;
  3. Tarik napas Anda tetap dalam hitungan 5, lalu hembuskan dalam hitungan 10;
  4. Sembari menghembuskan napas, bayangkan ada akar-akar yang tumbuh ke bawah dari diri dan kaki Anda;
  5. Visualisasikan akar-akar ini terus tumbuh dan masuk menuju bumi semakin jauh hingga mencapai bumi di bawah Anda;
  6. Jika Anda berada di lantai yang tinggi atau lantai rumah yang lebih tinggi, Anda harus memvisualisasikannya sampai Anda merasa telah mencapai “bumi” di bawah Anda;
  7. Ketika Anda merasa terkoneksi dengan bumi, bayangkan emosi negatif di tubuh Anda bergerak turun melalui sistem akar ini dan masuk ke bumi, kemudian energi baru yang bersih masuk melalui bagian atas kepala Anda.

Hal ini akan memberikan aliran merata yang mengalir ke seluruh tubuh untuk membantu dalam proses coaching yang Anda sedang lakukan dengan coachee. Anda pun tidak akan terganggu dengan berbagai emosi negatif yang coachee munculkan.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Menghentikan Dialog Internal

Salam Semangat!

korproa coaching practitioner program

Learning State

Mungkin Anda pernah mengalami ketika sedang ngobrol dengan teman, beberapa detik pikiran Anda seolah menghilang dan Anda miss banyak kata-katanya, hingga Anda minta dia mengulangi lagi. Ini juga bisa terjadi saat proses coaching. Ketika Anda fokus menyimak apa yang coachee ceritakan, tiba-tiba pikiran Anda seolah ‘terlempar’ ke hal lain. Begitu sadar, Anda melewati banyak key words coachee. Ini artinya Anda berada dalam kondisi yang tidak ‘presence’, yaitu tidak hadir dan sadar sepenuhnya.

Untuk hal-hal seperti itu, teknik Learning State sangat berguna. Teknik ini berasal dari metode Hakalua, Hawaii. Learning State akan membantu pikiran Anda untuk relaks namun fokus, sehingga Anda bisa lebih full memberikan perhatian Anda kepada teman bicara atau coachee.

Berikut langkah-langkahnya untuk masuk ke Learning State khusus saat di sesi coaching:

  1. Ketika sudah duduk dan memulai percakapan, pastikan eye contact dengan coachee. Bila Anda sungkan menatap matanya, bisa dengan menatap titik imajiner di keningnya (area “mata ketiga”);
  2. Fokuskan semua perhatian Anda pada titik ini. bila muncul pikiran datang dan pergi, biarkan saja;
  3. Ketika Anda menatap titik ini, perluas pandangan Anda ke seluruh coachee. Terus lakukan. Anda mulai menyadari apa yang Anda mulai lihat di peripheral (sisi-sisi mata) penglihatan Anda;
  4. Sekarang berikan perhatian pada bagian peripheral penglihatan Anda lebih banyak daripada bagian tengahnya;
  5. Mulailah sadari bahwa walaupun tetap eye contact, Anda dapat mendeteksi ekspresi wajah, gerakan tubuh, tangan, bahkan kaki coachee. Semuanya tanpa menggerakkan penglihatan Anda dari titik imajiner tadi.

Ketika sering berlatih dalam kondisi ini, Anda akan merasa jauh lebih relaks, suara-suara di kepala menghilang, dan semakin banyak kata-kata kunci coachee yang Anda ingat.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Learning State

Salam Semangat!

korpora coaching practitioner program

Learning State

Teman-teman, apakah Anda pernah kesulitan untuk relaks karena pikiran sibuk terus? Atau, pernahkah sulit konsentrasi untuk mempelajari hal baru karena sedang memikirkan hal lain? Saat coaching, pernahkah Anda tidak bisa hadir sepenuhnya di sesi tersebut karena pikiran penuh?

Untuk hal-hal seperti itu, saya ingin memperkenalkan sebuah teknik yang bernama Learning State, yang berasal dari metode Hakalua, Hawaii. Learning State akan membantu pikiran Anda untuk relaks sehingga bisa mempelajari hal-hal baru dan presence sepenuhnya saat coaching.

Berikut langkah-langkahnya untuk masuk ke Learning State:

  1. Sambil menghadap lurus ke depan, pandanglah sebuah titik imajiner di dinding. Lebih baik titik tsb berada di atas ketinggian mata sehingga menghasilkan penglihatan penuh;
  2. Fokuskan semua perhatian Anda pada titik ini. bila muncul pikiran datang dan pergi, biarkan saja;
  3. Ketika Anda menatap titik ini, sebarkan penglihatan Anda. Terus lakukan. Anda mulai menyadari apa yang Anda mulai lihat di peripheral (sisi-sisi) penglihatan Anda;
  4. Sekarang berikan perhatian pada bagian peripheral penglihatan Anda lebih banyak daripada bagian tengahnya;
  5. Mulailah menyadari bahwa Anda dapat melihat sudut-sudut ruangan, langit-langit dan lantai, semuanya tanpa menggerakkan penglihatan Anda dari titik imajiner di dinding tadi.

Ketika Anda tetap dalam kondisi ini, perhatikan bagaimana perasaan Anda, karena Anda akan merasa jauh lebih relaks, dan Anda mulai lebih biasa menyadari apa saja yang dapat Anda lihat.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Tips untuk bisa Presence

Salam Semangat!

Coaching practitioner Program

Kehadiran seorang Coach amat diperlukan

Kemampuan agar selalu hadir dan sadar sepenuhnya saat proses coaching sangat penting. Berdasarkan kompetensi inti ICF, kemampuan ini disebut Coaching Presence, yaitu kemampuan untuk hadir dan sadar sepenuhnya di dalam proses coaching.

Manfaatnya adalah kita jadi mampu mempraktikan berbagai kompetensi coaching lainnya secara maksimal.

Nah, berikut adalah beberapa metode untuk melatih presence kita:

  1. Mindfulness.Ini maksudnya adalah kesadaran untuk memberikan atensi penuh pada pengalaman saat ini, di sini, tanpa penilaian. Metode ini melatih kita untuk mengamati dan menerima suatu kejadian sebagaimana apa adanya. Bentuk paling dasar dari mindfulness adalah meditasi;
  1. CenteringDi dalam diri setiap orang, ada yang namanya “Center”, yang merupakan titik esensi dari siapa diri Anda. Center bukan tempat fisik, melainkan sebuah tempat yang Anda yakini ada di diri Anda. Dengan berlatih centering, Anda akan merasa lebih stabil dan ‘firm’ walau seperti apa pun kondisi eksternalnya;
  2. Grounding. Ini adalah kelanjutan dari centering. Intinya kita berlatih untuk mengalirkan berbagai emosi negatif keluar diri kita;
  3. Learning State. Disebut juga peripheral vision atau hakalau state. Metode ini diadopsi dari Hawaii. Ini adalah suatu proses yang luar biasa untuk menempatkan diri Anda dalam keadaan di mana tidak ada emosi negatif dan Anda memiliki kesadaran penuh.

Masih banyak lagi berbagai metode untuk meningkatkan presence. Kebanyakan diadopsi dari berbagai kearifan lokal dan budaya. Mungkin Anda juga tahu. Jadi apa pun caranya asalkan nyaman dan efektif untuk Anda, silahkan lakukan.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

 

Coaching 101 – Hadir Sepenuhnya

Salam Semangat!

Coaching practitioner program

skill mendengarkan

Kali ini saya ingin cerita tentang hal yang sangat menarik tentang manfaat lebih apabila kita belajar dan mempraktikan coaching. Inilah alasan utama saya sering mengatakan bahwa coaching itu bukan hanya membuat coachee bertumbuh, namun coach-nya juga ikut bertumbuh dalam prosesnya.

Ya, mungkin Anda semua sudah paham bahwa fungsi utama coaching adalah menciptakan kesadaran baru di diri coachee. Dan ini baru terjadi bila kita sudah mampu menstimulasi proses berpikir kreatif mereka. Ini pun baru terjadi bila kita dengan luwes mampu mempraktikan pertanyaan-pertanyaan yang ampuh, dengan gaya komunikasi yang langsung dan tepat sasaran. Kedua hal ini pun sangat dipengaruhi kemampuan kita mendengarkan secara aktif. Dan apakah syarat agar kesemua hal di atas terjadi dengan efektif? Yaitu apabila kita mampu “hadir” sepenuhnya. Apa maksudnya ini?

Berdasarkan kompetensi inti ICF, kemampuan ini disebut Coaching Presence, yaitu kemampuan untuk hadir dan sadar sepenuhnya di dalam proses coaching. Manfaatnya adalah kita jadi mampu mempraktikan berbagai kompetensi coaching lainnya secara maksimal.

Apa tanda-tandanya kita tidak ‘presence’ saat melakukan coaching?

  1. Pikiran kita jadi sering nge’blank. Kita jadi kelihatan bengong di mata coachee;
  2. Fokus kita gampang teralihkan. Kita bisa larut dalam konten yang dibicarakan coachee, tahu-tahu percakapan coaching jadi melebar dan gak jelas arahnya;
  3. Pikiran kita jadi melamun, atau muncul ‘drama-drama’ di kepala yang mengganggu;
  4. Kita jadi terpengaruh oleh emosi klien, yang akhirnya peran kita menjadi tidak obyektif.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi-kondisi seperti di atas?

Ketika mulai melatih ‘presence’, saya mendapati manfaat yang bukan hanya berguna saat coaching, namun juga ke kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah:

  1. Pikiran saya menjadi lebih jernih sehingga bisa melihat sebuah kejadian dengan lebih apa adanya;
  2. Saya jadi gak gampang kehabisan ‘energi’, gak cepat lelah karena ‘roller coaster emosi’;
  3. Intuisi saya semakin tajam, seolah-olah jadi seperti punya indra keenam;
  4. Kamampuan saya dalam mengambil keputusan semakin tepat sasaran; serta
  5. Saya lebih yakin apa yang saya mau.

Wuih, banyak banget ya manfaatnya, dan kayaknya seru juga kalau diri kita semakin bertumbuh karena manfaat presence.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC