Coaching 101 – Just SPIN It…!

Salam Semangat!

Oke, Anda sudah menemui seseorang yang tertarik dengan coaching, dan Anda sudah menjelaskan definisinya, dan Anda sudah yakin bahwa dia memang cocok untuk mendapatkan program coaching. Selanjutnya gimana?Korpora Coaching practitioner program

Kali ini saya mau berbagi hal mengenai strategi apa yang musti kita terapkan, agar seseorang tertarik untuk memutuskan untuk mau mengambil program coaching kita.

Jadi, strategi apa sajakah yang kita bisa pakai supaya closing..?

Baiklah, saya akan share sebuah tahapan praktis untuk melakukannya. Saya mengadopsi strategi ini dari sebuah teknik consultative sellin, dan ternyata cocok juga dipakai di konteks coaching.

Namanya adalah SPIN, dan YES, ini adalah singkatan, yang tdd:

  1. Situation. Ini adalah tahapan pembuka, yaitu menanyakan topik apa yang dia ingin bahas;
  2. Problem. Lalu lanjut untuk menggali problemnya. Dari situasi yang dia sedang hadapi, apa yang jadi masalah? Apa tantangan terbesar?
  3. Implication. Nah, di tahap ini kita cari tahu apa dampak-dampaknya bila dia tidak berubah. Apa akibatnya ke dirinya, keluarganya, anaknya, karirnya, dll. Ini adalah pain dia bila tidak berubah; dan
  4. Need Pay-off. Tahap ini kita mengangkat pleasure apa saja yang dia akan dapatkan bila dia berubah. Apa saja keuntungan yang dia dapatkan. Semakin kuat pleasure-nya, semakin termotivasi dia untuk berubah.

Nah, silahkan Anda praktikan, mudah-mudahan akan bisa meningkatkan closing Anda dalam program coaching.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – The Speed of FORD

Salam Semangat!

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan proses percakapan yang aktif. Yang namanya percakapan tentunya melibatkan paling tidak dua orang. Agar dua orang bisa bercakap-cakap dengan lancar, mustilah diawali dengan rasa nyaman dan percaya di antara mereka.

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Establishing Trust and Intimacy, atau membangun rasa percaya dan keakraban. Proses ini musti kita bina secara terus menerus, mulai dari pertama kali kita bertemu dengan calon klien, sampai ke tiap sesi coaching.Coaching practitioner

Tentunya ada banyak cara untuk membangun rasa percaya dan keakraban kepada seseorang, yang akhirnya merasa nyaman untuk terbuka. Saya sepertinya pernah berbagi hal ini di tulisan saya sebelumnya. Yang ingin saya bagi kali ini, adalah tentang ice breaking. Esensinya, ice breaking kita gunakan sebagai pembuka, pencair suasana, sehingga klien atau coachee kita merasa nyaman dan siap untuk proses coaching.

Jadi, topik apa sajakah yang kita bisa pakai untuk bahan ice breaking? Saya menggunakan akronim FORD, yaitu Family, Organization, Recreation, dan Dream:

 

  1. Family. Anda pasti setuju bahwa ini adalah bahan yang paling umum digunakan untuk mencairkan suasana. Anda bisa mulai dari membicarakan keluarga sendiri, lalu ajak dia untuk menceritakan tentang keluarganya, biasanya topik anak sangat bagus untuk digali. Puji dia tentang keluarganya, ucapkan pengakukan, dll;
  2. Organization. Topik ini juga cukup ampuh untuk ice breaking. Ajak dia bicara mengenai pekerjaannya, tanggung jawabnya, lama bekerja, tantangan-tantangannya, dll. Puji dan akui dia tentang prestasi-prestasinya, lama bekerjanya, dll;
  3. Recreation. Nah, ada juga orang yang senang membicarakan tentang hobi, rekreasi, dan bagaimana mereka meluangkan waktu senggang. Mungkin juga kita bisa gabungkan dengan topik Family, terutama buat mereka yang sudah bekeluarga. Berikan pengakuan tentang hobi mereka. Kalau perlu, cari kesamaan dengan hobi atau tempat rekreasi favorit Anda;
  4. Dream. Nah, topik ini bisa dipakai ketika mereka sudah mulai cair dengan kita. Galilah apa yang menjadi cita-cita mereka, baik itu di karir atau di aspek kehidupan lain. Apa yang mereka anggap penting dalam hidup? Beri pengakuan tentang hal itu. Tentu kita merasa senang bila ada seseorang yang memberikan apresiasi terhadap apa yang kita hargai dan kita anggap penting kan?

 

Demikian beberapa topik yang kita bisa gunakan untuk ice breaking, yang kita singkat menjadi FORD. Silahkan Anda latihan agar semakin lancar.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Yang Menentukan Rencana Tindakan

Salam Semangat!Coaching practitioner

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan metode yang lengkap. Maksudnya adalah, bukan hanya sampai mendapakan kesadaran baru dan mengetahui solusi yang terbaik untuk dirinya, seorang coachee pun akan difasilitasi agar bisa merancang rencana tindakan (action plan) yang spesifik dan jelas agar solusi yang dia pilih bisa diwujudkan. Bahkan, proses pembelajaran coachee bukan hanya ketika dia mendapatkan kesadaran baru, bahkan saat menyusun rencana tindakan pun merupakan peluang untuk pembelajaran.

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Designing Actions, atau merancang rencana tindakan. Seorang coach musti mampu memfasilitasi coachee-nya untuk menyusun hal ini, yang memperdalam proses pembelajarannya.

Jadi, hal-hal apa sajakah yang seorang coach musti lakukan dalam memfasilitasi coachee menyusun rencana tindakan? Utamanya adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan brainsorming dengan coachee untuk menentukan tindakan apa saja agar solusi yang dia pilih bisa terealisasi;
  2. Memprovokasi coachee untuk terus mengeksplorasi berbagai ide-ide alternatif, selain dari tindakan atau sudut pandang yang selama ini dia ketahui;
  3. Mendukung coachee untuk berani mengambil tindakan-tindakan yang selama ini belum terbukti atau belum dilakukan, sebagai bentuk proses pembelajaran; dan
  4. Membantu coachee untuk mempertimbangkan potensi peluang dan resiko dari tiap tindakan yang dia rencanakan.

Demikian hal-hal yang musti dilakukan seorang coach agar coachee jelas tindakan apa saja yang dia musti lakukan, dan pembelajaran apa yang dia akan dapatkan selama proses mengerjakannya.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Goal Setting

Salam Semangat!

Hal yang penting untuk dipahami dari coaching adalah ini berfokus pada outcome atau tujuan. Namun demikian, tidak jarang terjadi klien yang datang pada awalnya akan menceritakan problem atau masalah yang dia sedang hadapi. Untuk itu, sangat perlu untuk mengarahkan mind set klien yang tadinya fokus pada masalah menjadi fokus pada goal atau tujuan yang dia ingin dapatkan.

success is target

Kompetensi Inti ICF mengenai hal ini mengharuskan coach untuk mampu memfasilitasi kliennya menyusun tujuan coaching yang dapat dicapai, dapat diukur, spesifik, dan punya tenggat waktu.

Mungkin teman-teman sudah biasa dengan istilah SMART Goal ya. Sekarang saya ingin menjabarkan SMART Goal dengan tambahan beberapa hal yang akan membantu klien:

  1. Specific. Goal klien musti dinyatakan secara spesifik, yaitu jelas dan fokus ke satu hal. “Saya ingin bahagia” tentu bukanlah goal yang spesifik. Selain itu, alangkah baiknya Goal-nya dalam kalimat yang Simple, tidak berbelit-belit dan mengandung sub goal-sub goal yang membingungkan dia sendiri;
  2. Masurable. Sangat penting untuk memiliki goal yang ada ukurannya. Semakin kuantitatif semakin baik. Hal ini membantu klien untuk memonitor progress-nya dan untuk mengetahui bila goal tsb sudah tercapai. “Saya ingin langsing” bukanlah goal yang ada ukurannya. Sebaiknya diubah menjadi “Saya ingin mencapai berat badan 65 kg”, yaitu jelas ukurannya, dalam hal ini berat badan. Selain itu, Goal klien mustilah yang Meaningful untuk dirinya. Cek mengapa goal ini begitu penting untuk dirinya, apa yang terjadi bila dia tidak mencapai goal ini, dst. Goal yang bermakna akan memotivasi dia untuk mengejarnya;
  3. Attainable. Pastikan agar goal yang klien inginkan adalah hal yang dia bisa capai, bukan hayalan dan tidak masuk di akal. Jadi goal itu adalah sesuatu yang klien bisa capai atau raih. Selain itu, goal akan semakin kuat bila dinyatakan dalam kalimat yang As if now. Nyatakanlah dalam present tense atau kalimat saat ini. Hindari kata “akan”;
  4. Relevant. Pastikan juga agar goal tersebut relevan dengan kehidupan dia secara keseluruhan, dengan visi dia, dll. Fasilitasi dia untuk memastikan agar tidak ada goalnya yang saling konflik atau tidak selaras. Dan cek juga apakah klien adalah yang Responsible untuk melakukannya. Dia yang harus bertanggung jawab mengerjakan dan mencapainya, bukan orang lain. “Saya ingin anak saya lulus ujian” bukanlah goal yang Responsible;
  5. Time-bound. Artinya, goal yang efektif adalah goal yang punya tenggat waktu. Kapan akan dimulai, dan kapan akan dicapai. Kalau perlu, pastikan tanggal, bulan, dan tahunnya. Selain itu, pastikan goal-nya adalah Toward what you want. Yaitu, goalnya menyatakan hal yang klien inginkan, bukan yang tidak diinginkan. “Saya tidak ingin gemuk” bukan yang bersifat toward what you want.

Nah, mari kita diskusi dengan mengganti goal berikut dengan goal yang SMART:

“Suatu saat, saya tidak akan miskin lagi”

Silahkan tulis di group, seharusnya ditulis seperti apa goal di atas agar menjadi SMART?

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Yang Menentukan Keberhasilan Kinerja

Salam Semangat!

Sebagai seorang Leader di perusahaan, saya yakin Anda sudah biasa menghadapi tantangan untuk mencapai kinerja. Baik itu kinerja pribadi, team, atau departemen Anda.

Untuk simple-nya, pencapaian kinerja seseorang dipengaruhi dua hal, yaitu kemauan dan kemampuan. Apakah Anda setuju? Nah dari 2 hal tsb kita bisa petakan kondisi team kita seperti apa, dan jenis intervensi apa yang cocok. Ini berkaitan dengan artikel saya sebelumnya yang berjudul “Bedanya Coach dengan Profesi Lainnya.”

Kita mulai ya. Dari sisi Kemauan, seseorang bisa Mau dan Tidak Mau. Dari sisi Kemampuan, seseorang ada yang Mampu dan ada yang Tidak Mampu. Kalo kita kombinasikan, maka akan terjadi 4 kuadran sbb:

  1. Mampu dan Mau. Ini adalah team yang ideal ya. Sebagai Leader, tugas Anda adalah memberikan delegasi kepada dia, dan bila ada kesempatan, mungkin sudah saatnya dia untuk mendapatkan promosi. Berarti Anda sudah berhasil dari sisi sebagai seorang Leader.
  2. Tidak Mampu dan Mau. Walaupun masih punya motivasi atau komitmen untuk bekerja, namun team seperti ini masih kurang kemampuannya baik itu dari sisi pengetahuan atau ketrampilannya. Artinya, dia masih perlu training untuk menambah kemampuannya, atau coaching untuk menerapkan ilmunya di tempat kerja dengan efektif. Dia mungkin juga butuh mentoring dari Anda, supaya pengalaman Anda bisa dia pelajari dan manfaatkan.
  3. Mampu dan Tidak Mau. Sebetulnya team seperti ini punya kemampuan tapi entah kenapa motivasinya atau komitmennya kok tidak ada. Mungkin dia punya masalah pribadi atau memang gak tertarik dengan tugas-tugasnya? Atau ada hal-hal lain? Sepertinya dia perlu konseling untuk menyelesaikan masalahnya. Atau dia mungkin perlu jenis coaching tertentu untuk menemukan lagi semangatnya atau motivasinya.
  4. Tidak Mampu dan Tidak Mau. Nah, seharusnya tipe yang seperti ini sudah difilter sejak tahap rekrutmen ya. Namun namanya manusia bisa saja yang tadinya di kuadran 3, 2, bahkan 1, bisa masuk ke kuadran ini. Sebagai awal, ada baiknya dia mendapatkan konseling lebih dulu, paling tidak untuk mendapatkan kemauannya. Setelah itu Anda bisa melakukan cara-cara di kuadran 2. Kalau tidak berhasil, Anda perlu mempertimbangkan untuk merotasi dia. Siapa tahu dia lebih cocok di jenis pekerjaan lain. Atau kalau gak ada pilihan, sudah saatnya dia masuk ke tahap terminasi. Karena bila kita pertahankan terus bisa jadi kita telah menghalangi rejeki dia dari tempat lain.

Nah, dengan cara sederhana di atas, sekarang Anda bisa mulai memetakan tiap team Anda kondisinya lagi di kuadran yang mana. Anda pun mulai tahu jenis perlakuan seperti apa yang cocok untuk dia.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Bedanya Coach dengan Profesi Lain

Salam Semangat!

Salah satu kompetensi inti ICF mengharuskan seorang coach bisa menjelaskan perbedaan coaching dengan metode lain, seperti training, consulting, mentoring, dan counseling. Dia musti memastikan agar calon coachee-nya paham dan sehingga bisa menentukan kebutuhannya dengan lebih baik, apakah perlu coaching atau cara lain.

Ada berbagai cara menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Kita bisa menjabarkannya dalam bentuk deskripsi, atau dengan cara lain yang lebih menarik. Misalnya dengan pendekatan flow chart. Saya seringkali menggunakan metafora. Ini terbukti menarik, FUN, dan membuat calon coachee paham dengan LENGKAP.

Nah, metafora yang saya sering pakai adalah tentang “Anda yang sedang belajar menyupir mobil”. Sebaiknya Anda menemui siapakah? Ternyata tergantunf lho.

Apabila Anda menemui seorang:

  1. Terapis, maka dia akan menggali apa yang terjadi di masa lalu Anda yang menghambat untuk sanggup menyetir mobil;
  2. Konselor, maka dia akan mendengar dan mengeksplorasi kecemasan atau kehawatiran Anda untuk menyetir mobil;
  3. Mentor, maka dia akan membagikan tips dan strategi dari bertahun-tahun pengalamannya dalam menyetir mobil;
  4. Seorang trainer, maka dia akan memberikan pengetahuan dan mengajarkan ketrampilan bagaimana menyupir mobil yang efektif;
  5. Seorang konsultan, maka dia akan memberikan beberapa pilihan tentang cara menyetir mobil, serta mobil seperti apa yang cocok untuk Anda kendarai;
  6. Seorang coach, maka dia akan memfasilitasi proses menemukan jawaban apa pun mengenai menyupir mobil dan kendaraan, yang paling sesuai dengan kondisi Anda saat ini dan di masa depan.

Silahkan temui salah satu dari tenaga profesional di atas, sesuai dengan kebutuhan spesifik Anda berkaitan dengan menyupir mobil.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Menciptakan Hubungan yang Setara

Salam Semangat!

Salah satu kata kunci yang terdapat di definisi coaching berbasiskan ICF adalah “kemitraan” dengan klien. Ini artinya adalah proses coaching musti dilandasi oleh kesetaraan antara coach dan coachee. Tidak ada yang lebih berkuasa dalam prosesnya. Ini sangat penting untuk memastikan terbangunnya rasa pecaya dan keakraban di diri coachee terhadap coach-nya, sehingga terjadilah open communication yang sangat efektif untuk keberhasilan proses coaching itu sendiri.

Walaupun sepertinya sederhana, pelaksanaannya perlu strategi yang baik. Seorang Coach profesional musti menunjukan kesetaraannya terhadap coachee, tanpa memandang siapa yang membayar. Seorang Leader juga penting mempraktikan hal ini, seberapa tinggi posisi atau jabatannya. Jadi bagi seorang Leader, ini merupakan perubahan mindset yang cukup menantang.

Lalu strategi apa sajakah yang LENGKAP dan FUN untuk menciptakan hubungan yang setara antara coach dan coachee?

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang membangun kesetaraan dan kemitraan dengan coachee. Melakukan ini meliputi berbagai hal, mulai dari pola pikir, kata2 yang kita ucapkan, perilaku, bahasa tubuh, hingga suasana lingkungannya.

Berikut beberapa tips yang mungkin Anda bisa gunakan:

  1. Niatkan di kepala dan hati kita untuk menjadi mitranya dan mendukung coachee dengan tulus untuk berubah menjadi lebih baik. Nyatakan kepada coachee, tunjukan keseriusan Anda tentang hal ini;
  2. Tepat waktu sesuai kesepakatan untuk sesi coaching;
  3. Pastikan coachee siap untuk memulai sesi. Bila dia baru tiba, biarkan dia relaks dulu dan jangan buru-buru untuk memulai sesi apalagi dengan nada memerintah. Gunakan ice breaking. Humor ringan juga membantu;
  4. Praktikan active listening. Beri dia sinyal untuk terus berbicara, misal mengangguk, dengan ekspresi wajah dan eye contact yang tulus untuk menyimak. Jangan menginterupsi;
  5. Gunakan kata-kata dan jargon-jargon yang sesuai dengan dunianya, tidak menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah high level. Dan gunakan intonasi suara yang selevel juga, tidak bernada tinggi apalagi yang berkesan “bossy”;
  6. Sesekali, ucapkan acknowledgment terhadap apa yang dia ungkapkan. Misal, “saya hargai kejujuran kamu ketika menceritakan ….”, dll
  7. Mengatur tempat dan posisi duduk yang menunjukan kesetaraan. Hindari duduk di kursi kerja Anda karena di situ sudah ada anchor state “atasan”. Dan kalau bisa, hindari meja penghalang.

Oke. Barusan adalah beberapa tips yang menarik untuk dipraktikan. Mungkin Anda punya usul-usul lain? Mari kita diskusikan.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Memastikan Proses Coaching Sejak Awal

Salam Semangat!

Oke. Anda sudah menyelesaikan dan lulus pelatihan coaching. Anda begitu takjub dengan ‘kehebatan’ coaching. Anda begitu percaya diri bahwa coaching adalah proses yang luar biasa mengagumkan untuk men-develop orang.

Tentunya Anda ingin dengan segera mempraktikannya. Anda ingin mengumpulkan jam terbang (coaching hours) secepatnya. Anda begitu yakin 100 jam bisa dikumpulkan dalam waktu maksimal 3 bulan. Lagipula coaching kan hebat, pasti banyak orang yang membutuhkannya.

Anda mulai menawarkan jasa coaching pro bono (gratis) kepada teman-dekat. Sebagai Leader di perusahaan, Anda juga langsung menerapkan coaching ke karyawan Anda. Bahkan menawarkan coaching ke karyawan rekan-rekan leader Anda.

Namun apa yang terjadi? Anda mengalami hal-hal berikut:

  1. Karyawan Anda kebingunan ketika di-coaching, bahkan mereka malah minta dikasih tahu terus solusi masalahnya;
  2. Rekan leader Anda terlalu mendikte goal coaching karyawannya, dan sebagai coachee Anda, karyawannya punya ekspektasi dan goal yamg berbeda dengan kemauan atasannya;
  3. Coachee Anda tidak mau melanjutkan sesi, katanya coaching kelamaan, ribet, bikin pusing, dll.

Pernah mengalami hal-hal seperti di atas?

Ketika mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga level PCC, saya menyadari bahwa kompetensi yang musti dikuasai oleh seorang coach berbasiskan ICF bukan hanya saat dia melakukan proses coaching, namun juga ICF menyadari bahwa persiapan awal sebelum coaching berjalan juga hal yang sangat penting.coaching pratitioner

Berbagai hal yang musti dibahas di awal adalah masuk ke kompetensi inti Establishing a Coaching Agreement, yaitu Membangun Kesepakatan Coaching. Tujuan utama kompetensi ini adalah untuk memahami tujuan klien (atasan dan coachee), membangun kesepakatan hak dan tanggung jawab masing-masing pihak, dan menjelaskan serta mensepakati proses coaching.

Jadi, untuk memastikan proses coaching berjalan lancar dan meminimalisir kegagalannya, sebelum sesi coaching ketiga pihak (atasan, coach, dan coachee) musti duduk bersama untuk:

  1. Coach menjelaskan definisi dan proses coaching, serta apakah hal ini cocok dengan ekspektasi mereka;
  2. Coach menggali kebutuhan/needs calon coachee:apakah dia sesuai untuk coaching atau malah lebih membutuhkan intervensi yang lain (misal training, mentoring, atau konseling);
  3. Ketiga pihak mensepakati sasaran dan outcome dari program coaching;
  4. Ketiga pihak mensepakati indikator dan ukuran keberhasilan program coaching, dan apa saja yang musti dilaporkan dan yang tidak.

Dengan melakukan paling tidak keempat hal di atas, akan semakin memperbesar kelancaranan program coaching dan besar juga kemungkinan tujuan coaching tercapai.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Apakah Semua Orang Cocok dengan Coaching?

Salam Semangat!

Dari sekian banyak diskusi mengenai coaching, ada pertanyaan mengenai siapa saja orang yang bisa di-coaching? Apakah hal itu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya? Bagaimana dengan tingkat kecerdasan? Atau apakah tergantung dengan jenis pekerjaan? Bahkan apakah level jabatan juga berperan?

Dari sekian banyak pengalaman saya melakukan coaching, saya punya pandangan sendiri tentang hal ini. Hingga saya menemukan ada beberapa karakteristik yang menunjukan kesiapan seseorang untuk di-coaching.

Berikut karakteristik penting apakah seseorang cocok dengan coaching:

  1. Memiliki rasa ownership (kepemilikan) yang tinggi, bertanggung jawab, dan dapat diandalkan terhadap nasib pribadi dan profesionalitasnya;
  2. Tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak memiliki banyak alasan, dan tidak suka menyangkal;
  3. Memiliki jiwa partnership (kemitraan) dan kolaborasi yang tinggi;
  4. Menghargai pandangan dan perspektif orang lain;
  5. Siap menerima umpan balik yang kuat dan membangun;
  6. Siap memberikan waktu dan tenaga yang maksimal untuk menciptakan perubahan yang sesungguhnya.

Ketika seseorang memenuhi seluruh pernyataan di atas, maka saya yakin bahwa coaching adalah metode yang tepat untuknya.

Apakah Anda termasuk?

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Model Perubahan dalam Coaching

Salam Semangat!

Salah satu tujuan utama dalam proses coaching adalah untuk membawa klien dari kondisinya yang sekarang ke kondisi yang diinginkannya. Dalam upaya kita sebagai seorang Coach memfasilitasi klien kita mencapai kondisi yang dia inginkan, kita menggunakan berbagai macam model coaching. Ada banyak sekali model coaching yang kita bisa gunakan, namun semuanya memiliki suatu kesamaan, atau yang kita sebut benang merahnya.

Berikut beberapa elemen yang kita temukan dari semua jenis model coaching :

  1. Menetapkan Kondisi yang Diinginkan. Kita perlu memastikan agar klien memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dia inginkan. Misalkan bila dia ingin menurunkan berat badannya, pastikan dia ingin mencapai berat badan berapa kilogram. Apa yang akan dia lihat, dengar, dan rasakan ketika dia sudah mencapai berat badan yang dia inginkan, kapan dia ingin mendapatkannya, dll. Bila dia sudah paham dan jelas betul apa yang dia inginkan, dia sebetulnya sudah memulai proses perubahan itu sendiri karena otaknya merupakan sebuah mekanisme sibernetis. Artinya, pikirannya akan mulai mengorganisasikan ulang berbagai perilaku yang dia butuhkan untuk mencapainya, lalu dia mulai mendapatkan umpan balik dari dirinya sendiri secara otomatis untuk membuat dia tetap dalam jalur menuju tujuannya.
  2. Menetapkan Kondisi Sekarang. Setelah klien berhasil memastikan apa yang dia inginkan, kita bisa mulai memfasilitasinya untuk mengumpulkan berbagai informasi seputar situasi dia saat ini. Dalam hal menurunkan berat badan, cek berat badan dia saat ini berapa kilogram, apa saja aktivitasnya, pola makannya, gaya hidupnya, dll.
  3. Menetapkan Sumber Daya yang Sesuai. Dengan membandingkan kondisi yang diinginkan terhadap kondisi sekarang, klien pun mulai menetapkan sumber daya apa saja yang dia butuhkan untuk mencapai kondisi yang diinginkannya. Ada dua jenis sumber daya yang mungkin dia perlukan, yaitu sumber daya eksternal dan internal. Sumber daya eksternal adalah sumber daya yang dia bisa dapatkan di luar dirinya. Sumber daya internal berupa apa yang ada di dalam dirinya seperti perilaku, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan sistem keyakinan dan nilai diri.

 

Sejauh ini, kita bisa formulasikan elemen-elemen di atas sebagai berikut :

Kondisi Sekarang + Sumber Daya = Kondisi yang Diinginkan

Sering kali, klien menemukan gangguan saat menambahkan sumber daya yang dia butuhkan. Gangguan tersebut bisa berasal dari dirinya sendiri atau dari luar dirinya. Gangguan ini bagaikan “teroris” yang berusaha menghalangi dia untuk mencapai kondisi yang dia inginkan. Tak jarang seorang Coach akan banyak memfokuskan sesi coaching-nya untuk mengatasi dan menghilangkan berbagai gangguan yang klien hadapi.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC