Coaching 101 – Konflik Batin

Selamat siang dan apa kabar?

 

Dalam suatu sesi pro-bono coaching di event International Coaching Week 2019, coachee saya adalah seorang mahasiswi program beasiswa. Dia sangat cerdas, dan perfeksionis. Karena itu, dia mengeluh suka terlambat menyelesaikan tugas-tugasnya. Bukan karena tidak mampu menyelesaikannya, namun dia ingin agar hasilnya sesempurna mungkin. Bila dia tidak yakin, dia akan mengulang lagi atau mendalami lebih banyak literatur-literaturnya hingga dia merasa puas.

 

Di lain pihak, dia merasa lelah dengan kebiasaanya ini. Dia sebetulnya ingin seperti teman-temannya yang bisa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, dan tidak terbebeani dengan keharusan agar hasilnya perfect.

 

Sekarang dia mengalami stres, karena di satu sisi dia ingin hasil tugas-tugasnya perfect, di sisi lain dia ingin agar bisa menyelesaikannya tepat waktu dan tidak selalu terbebani dengan keharusan agar hasilnya sempurna.

 

Sebagai seorang Coach, tugas saya adalah memfasilitasi dia untuk mendapatkan kesadaran baru terhadap kondisinya. Singkat cerita, yang akhirnya saya lakukan adalah:

 

  1. Menggali niat tertinggi dia untuk masing-masing keinginannya, yaitu niat tertinggi terhadap hasil yang perfect, dan niat tertinggi terhadap menyelesaikan tugas tepat waktu. Niat tertinggi adalah dalam bentuk value, yaitu apa yang dia anggap paling penting;
  2. Bila kedua niat tertinggi sudah didapat, saya menunjukan ke dia keduanya dan meminta dia untuk mempertimbangkan mana yang lebih penting bila dikaitkan dengan goal hidupnya;
  3. Lalu saya memfasilitasikan dia untuk mengintegrasikan kedua value tersebut, agar keduanya bisa sama-sama dipenuhi kebutuhannya;

 

Setelah melalui ketiga proses di atas, dia akhirnya menyadari sendiri bahwa kesempurnaan itu mustahil untuk dia dapatkan, yang dia bisa lakukan adalah melakukan sebaik mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Apabila hasilnya sudah memenuhi syarat dari dosennya, dia akan mengumpulkannya tanpa perlu terobsesi untuk memperbaikinya sampai dia anggap sempurna. Toh, menurut dia, nilai yang dia dapat bukan seberapa sempurnya tugas tersebut namun seberapa sesuainya terhadap kemauan dosennya.

 

Berdasarkan ilustrasi di atas, kita bisa simpulkan bahwa seorang Coach jangan terjebak dengan konten atau isi dari pemasalahan coachee. Tugas kita adalah bermain di level struktur berpikirnya, yaitu memicu proses berpikir kreatif coachee sehingga dia bisa menemukan dan memilih solusinya sendiri.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Strategi coaching terhadap yang belum terbuka

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Setelah memberikan sesi coaching, salah seorang leader cerita kepada saya bahwa dia mengalami kesulitan karena karyawannya itu seperti menutup-nutupi permasalahannya. Dia masih belum cukup terbuka untuk menceritakan kondisinya. “Apakah karena saya atasannya ya?” Leader tersebut merenung.

 

Pernah mengalami hal yang sama?

 

Sebetulnya ada satu strategi yang cukup ampuh untuk men-coaching seseorang yang masih menyembunyikan kondisinya.

 

Seperti yang sebelumnya saya tulis, resistensi atau ketidakterbukaan seorang coachee bisa diakibatkan dua faktor:

 

  1. Coach kurang membina kepercayaan, kenyamanan dan keakraban. Dalam hal ini musti memperkuat rapport terus menerus.
  2. Coachee kesulitan untuk memverbalisasikan kondisinya. Hal ini bisa disebabkan karena dia tidak bisa menatanya dalam bentuk kata-kata. Bisa juga karena dia masih denial terhadap kondisinya, atau karena masalahnya terlalu berat untuk dia ungkapkan.

 

Kita sudah sering berdiskusi mengenai no. 1. Kali ini mari kita bahas faktor kedua.

 

Ada sebuah strategi yang cukup ampuh untuk membereskan kasus no. 2, yaitu menggunakan metafora. Maksudnya? Ya metafora atau analogi atau perumpamaan.

 

Fasilitasi coachee untuk menceritakan kondisinya dalam bentuk metafora atau perumpamaan. Misal dengan bertanya¬† “apabila kondisi Anda diumpamakan sebagai hewan, tumbuhan, atau simbol-simbol tertentu, Anda akan menganalogikannya seperti apa ya? Mohon ceritakan.”

 

Setelah dia berhasil mengumpamakannya, kita bisa mengeksplorasi metaforanya lebih lanjut. Contoh perumpamaannya adalah “bagai burung elamg yang kakinya terikat tali sehingga gak bisa terbang tinggi”, kita bisa gali, “apa yang burung elang itu inginkan? Apa yang dia butuhkan”, dll.

 

Secara tidak disadari, coachee mulai menceritakan kondisinya dalam bentuk cerita metafora, dan dia tidak kesulitan lagi atau tidak menghindar lagi untuk mengatakannya. Toh, saat ini yang di-coaching adalah si burung elang, bukan dia.

 

Ketika si burung elang tsb sudah menemukan alternatif solusi, jangan lupa kembalikan dia ke kondisi nyata: “Apabila keadaan burung elang tsb kita hubungkan dengan kondisi Anda, apa yang Anda bisa ceritakan atau simpulkan?” Dll.

 

Mudah-mudahan dengan strategi di atas, coachee kita akan semakin mudah terbuka kepada kita

Coaching 101 – Membangun Kesamaan

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Fondasi dari semua macam percakapan coaching adalah rasa nyaman dan kepercayaan di antara coach dan coachee-nya. Untuk itu, seorang coach yang efektif musti terampil dalam membamgun kepercayaan dan keakraban kepada coachee-nya. Kemampuan ini merupakan kompetensi inti ICF.

 

Saya pernah membahas satu bagian dari kompetensi ini, yaitu tentang ice breaking menggunakan metode FORD. Sekarang saya ingin membahas mengenai sisi kepercayaannya.

 

Level kepercayaan yang ditunjukan coachee dipengaruhi kenyamanan yang dia rasakan terhadap coach-nya. Jadi intinya, seorang coach musti membamgun kenyamanan terlebih dahulu. Ini biasanya disebut rapport.

 

Jadi apa yang membentuk rapport? Sudah banyak penelitian membuktikan bahwa rapport mudah terjadi ketika ada tingkat “kesamaan” yang tinggi diantara dua orang. Secara bawah sadar, kita merasa lebih nyaman dengan orang yang ada “kesamaan” dengan kita, sehingga kita menjadi lebih santai dan terbuka kepada dia.

 

Hal-hal apa sajakah yang kita bisa “samakan” sehingga membangun rasa nyaman? Ada beberapa aspek yang bila kita “samakan” dengan coachee maka akan meningkatkan derajat kenyamanan, yaitu:

 

  • Penampilan fisik/pakaian;
  • Bahasa tubuh/gestur fisik;
  • Kualitas suara;
  • Gaya bahasa/kata-kata yang digunakan, lalu
  • Keyakinan dan nilai diri

 

Kesemua hal di atas akan meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan coachee kepada kita, sehingga dia akan membuka diri untuk bercerita tentang kondisi dirinya.

 

Saya akan membahas beberapa aspek di atas di tulisan-tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Coach yang Profesional

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Coaching memang hingga kini masih merupakan ilmu dan ketrampilan profesional yang sifatnya self-regulated. Artinya pemerintah mendelegasikan fungsi-fungsi regulasinya kepada pihak-pihak yang memiliki kemampuan dan keahlian coaching. Mereka ini disebut self-regulating organizations. Perannya adalah menetapkan standar-standar teknis, edukasi, dan etika profesi. Penjelasan lebih banyak tentang hal ini ada di tulisan saya sebelumnya, berjudul “Coaching Credential.”

 

International Coach Federation (ICF), sebagai salah satu self-regulating organizations, menetapkan standar-standar yang harus dipatuhi dan dipraktikan oleh para anggotanya. Ini mencakup kode etik, 11 kompetensi inti, dan kurikulum pendidikan sekolah coaching. ICF mengawasi anggota-anggotanya dengan menegakkan standar-standar itu dan mendisiplinkan anggota yang gagal mematuhinya.

 

Untuk para individu yang telah memenuhi dan mampu mempraktikan kode etik dan 11 kompetensi inti, ICF memberikan kredensial kepada mereka sehingga layak disebut sebagai Coach profesional. Agar para Coach terus memiliki kredensialnya, mereka harus terus memenuhi standar etika dan kompetensi ICF.

 

Tertarik untuk menjadi seorang Coach profesional? Berikut adalah 3 level kredensial yang diberikan ICF kepada para individu coach, dengan persyaratan utamanya masing-masing:

 

  1. *ACC (Associate Certified Coach).* Ini adalah kredensial level awal dari ICF. Persyaratannya adalah Anda musti sudah lulus minimal 60 jam pelatihan coaching yang diakreditasi ICF, minimal 100 jam terbang coaching, telah mengikuti 10 jam mentoring, dan mengirim 1 rekaman coaching untuk dinilai.

 

  1. *PCC (Professional Certified Coach).* Ini adalah kredensial level selanjutnya dari ICF. Persyaratannya adalah Anda musti sudah lulus minimal 125 jam pelatihan coaching yang diakreditasi ICF, minimal 500 jam terbang coaching, telah mengikuti 10 jam mentoring, dan mengirim 1 rekaman coaching untuk dinilai.

 

  1. *MCC (Master Certified Coach).* Ini adalah kredensial level teratas dari ICF. Persyaratannya adalah Anda musti sudah lulus minimal 200 jam pelatihan coaching yang diakreditasi ICF, minimal 2500 jam terbang coaching, telah mengikuti 10 jam mentoring, dan mengirim 2 rekaman coaching untuk dinilai.

 

Selain persyaratan tiap level di atas, ada persyaratan umum yaitu lulus ujian online yang disebut Coach Knowledge Assessment. Ini adalah ujian online untuk menilai pengetahuan dan pemahaman Anda tentang kode etik ICF.

 

Mengapa sampai ada 3 level? Tiap level kredensial memiliki level penguasaan 11 kompetensi yang semakin dalam. Hal ini juga untuk memenuhi kebutuhan klien coaching yang berbeda-beda.

 

Jangka waktu tiap level kredensial di atas adalah 3 tahun, lalu musti diperpanjang. Persyaratan untuk memperpanjangnya adalah Anda musti membuktikan komitmen untuk terus pengembangkan kompetensi coaching minimal sebanyak 40 jam dalam waktu 3 tahun tersebut.

 

Jadi, bila memang serius dan berkomitmen untuk menjadi seorang Coach profesional sehingga dapat membuktikan akuntabilitas Anda kepada klien dan masyarakat secara umum, maka musti menjalani sederet persyaratan di atas.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Coaching Credentials

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Beberapa member WAG pernah japri ke saya. Intinya mereka bertanya, “Pak, apakah sembarang orang bisa mengaku sebagai seorang Coach? Apakah menjadi seorang coach itu ada sekolahnya? Bagaimana menjamin coach itu kompeten?”

 

Coaching memang hingga kini masih merupakan ilmu dan ketrampilan profesional yang sifatnya self-regulated. Artinya pemerintah mendelegasikan fungsi-fungsi regulasinya kepada pihak-pihak yang memiliki kemampuan dan keahlian coaching. Mereka ini disebut self-regulating organizations. Perannya adalah menetapkan standar-standar teknis, edukasi, dan etika.

 

Self-regulating organizations menetapkan dan memelihara standar kompetensi dan perilaku.  Mereka mengawasi anggota-anggotanya dan menegakkan standar-standar itu dengan mendisiplinkan anggota yang gagal mematuhinya.

 

Setelah seseorang diterima sebagai anggota melalui berbagai proses pemastian kelayakan, self-regulating organization bertanggung jawab kepada publik untuk terus memastikan anggotanya tsb tetap kompeten. Mereka juga harus terus memenuhi standar profesional dan etika.

 

Salah satu self-regulating organizations untuk profesi Coach atau coaching adalah International Coach Federation (ICF). Di sebut salah satu, karena memang ada beberapa self-regulating organizations untuk coaching. Kebetulan saja ICF adalah yang terbesar dan banyak dipakai sebagai rujukan. Yes, tentunya self-regulating organizations tentang coaching yang lain memiliki strandar profesional dan etika yang berbeda dengan ICF.

 

ICF menetapkan standar-standar yang harus dipatuhi dan dipraktikan oleh para anggotanya. Ini mencakup kode etik, 11 kompetensi inti, dan kurikulum pendidikan sekolah coaching.

 

Apa buktinya bahwa anggota ICF telah memenuhi standar-standar itu? Untuk sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pelatihan yang kurikulum pendidikan coaching-nya telah memenuhi standar, maka ICF memberikan akreditasi. Bagi para individu yang telah memenuhi dan mampu mempraktikan kode etik dan 11 kompetensi inti, ICF memberikan kredensial kepada mereka.

 

Agar seorang Coach terus memiliki kredensialnya, dan agar lembaga pelatihan tetap diakreditasi oleh ICF, mereka harus terus memenuhi standar etika dan kompetensi, atau standar kurikulum ICF.

 

Saya akan menjelaskan lebih rinci mengenai kredensial seorang Coah di tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora coaching practitioner certificatio program

Coaching 101 – Perencanaan Strategis Coaching

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Bagaimana selama ini Anda sebagai seorang Leader mengembangkan team? Apakah dilakukan secara insidentil sesuai kebutuhan, atau secara strategis?

 

Secara insidentil sebetulnya pengembangan yang bersifat korektif. Bila terjadi masalah baru diperbaiki. Strategis maksudnya pengembangan team yang dikaitkan dengan kebutuhan perusahaan, lalu dibuat perencanaan pengembangan jangka panjang, menengah, dan pendeknya. Jadi team dikembangkan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

 

Sebetulnya, jenis pengembangan secara srategis ini juga dicakup di salah satu dari 11 kompetensi ICF. Namanya adalah Planning and Goal Setting. Mengenai Goal Setting pernah saya jelaskan di tulisan sebelumnya. Sekarang saya ingin menjabarkan mengenai perencanaan pengembangan team, khsususnya tentang perencanaan coaching.

 

Coaching yang powerful adalah yang dilakukan secara strategis dan terencana. Tahapan yang biasanya dilalui adalah sebagai berikut:

 

  1. *Sepakati visi bersama.* Gali dari coachee, dia ingin kedepannya menjadi seperti apa? Apakah itu dari sisi peningkatan karir, kepemimpinan, kompetensi, dll. Hal ini juga bisa juga dengan mengkaitkan visi dan strategi perusahaan, lalu ke strategi divisi atau departemen Anda;
  2. *Tetapkan tujuan yang lebih solid.* Gunakan metode SMART Goal, seperti di tulisan saya sebelumnya, “Goal Setting”;
  3. *Susun rencana-rencana untuk mencapai goal tsb.* Pastikan juga rencana-rencana ini memiliki indikator keberhasilannya.
  4. *Susun program coaching.* Ini musti dibuat secara jelas dan detil dalam rangka pencapaian rencana-rencana tsb.

 

Dengan melakukan proses-proses di atas, program coaching Anda menjadi sangat berdampak terhadap karyawan dan perusahaan. Pada akhirnya Anda sebagai Leader akan merasakan manfaatnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Saya sangat Sibuk

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

“Coaching memang bagus, tapi saya sangat sibuk, gak punya waktu untuk coaching karyawan”

 

Ini adalah pernyataan yang umum keluar dari mulut para atasan atau manajer yang berjuang menyelesaikan aktivitas kantor sehari-hari, sekarang malah disuruh untuk memberikan coaching kepada anak buahnya. Apakah Anda salah satunya?

 

Sebagian besar leader sebetulnya sudah tahu, bahwa mengembangkan teamnya adalah tugas mereka. Mereka juga tahu bahwa keberhasilan prestasi mereka sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam mengembangkan teamnya. Namun begitu, sepertinya sulit sekali untuk menyempatkan waktu untuk melakukan itu.

 

Nah, sebelum terburu-buru mengatakan “gak ada waktu untuk coaching”, ada baiknya Anda menjawab setiap pertanyaan di bawah ini, dan mempertimbangkan matang-matang pada jawabannya:

 

  1. Apa untungnya untuk Anda, secara pribadi dan profesional, saat berhasil meng-coaching karyawan?
  2. Sasaran coaching apa yang masih masuk akal untuk dibuat, di tengah kesibukan pekerjaan?
  3. Situasi apa sajakah yang Anda bisa manfaatkan untuk mempraktikan coaching? Misal, saat membantu masalah yang dihadapi karyawan, saat memberikan umpan balik, dll.
  4. Seberapa fleksibel karyawan Anda terhadap jadwal coaching? Contohnya jadwal yang mendadak, dll
  5. Bagaimana Anda bisa menciptakan waktu untuk coaching? Buatkan daftarnya.

 

Apabila Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda sebetulnya tidak ada alasan lagi untuk tidak mulai men-coaching bawahan. Jadi, ini tinggal tentang kemauan Anda saja untuk melakukannya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Primsip Dasar Coaching

Selamat Pagi dan Apa kabar?

Dari banyak pengalaman melakukan coaching, saya menyadari bahwa ada beberapa mindset yang musti dimiliki oleh seorang Coach, agar proses coachingnya efektif. Mindset ini bisa juga disebut asumsi dasar, prinsip dasar, keyakinan dasar, atau apa pun. Yang jelas, bila seorang Coach sedang tidak memiliki mindset ini, kemungkinan besar coachingnya tidak efektif. Ini pernah juga saya alami.

Beberapa mungkin sudah saya sebut di tulisan sebelumnya tentang “Sikap Seorang Coach”. Dan berikut adalah tambahan-tambahannya:

  1. Berkomitmen untuk selalu mendukung coachee.
  2. Coaching dibangun berdasarkan asas kebenaran, keterbukaan, dan kepercayan.
  3. Coachee bertanggung jawab atas hasil-hasil yang dia buat.
  4. Coachee mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik dari saat ini.
  5. Fokus pada apa yang coachee pikirkan, rasakan, dan alami.
  6. Coachee mampu menghasilkan solusi yang terbaik untuk dirinya.
  7. Percakapan coaching berdasarkan kesetaraan dan kemitraan.

Bila Anda ingin menjadi seorang Coach yang berhasil, silahkan bandingkan prinsip-prinsip di atas dengan perilaku kita, mungkin ada hal-hal yang kita bisa perbaiki atau sempurnakan.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Sikap Seorang Coach

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Apakah Anda seorang Leader yang tertarik untuk mempelajari dan menerapkan coaching untuk mengembangkan karyawan? Mungkin Anda ingin tahu, apakah Anda cocok dengan sikap yang semestinya dimiliki oleh seorang Coach.

 

Atau, apakah Anda sedang mempertimbangkan untuk meng-hire seorang Coach untuk perusahaan atau pribadi? Mungkin Anda juga perlu tahu, sikap seorang Coach yang ideal itu seperti apa.

 

Nah, International Coach Federation, sebagai federasi coach terbesar di dunia, juga menstandarkan sikap dan perilaku seorang Coach yang profesional. Ini dituangkan ke dalam Kode Etik ICF. Tentunya saya tidak akan menuliskan kode etik tersebut satu per satu karena akan sangat banyak.

 

Saya akan tulis dalam bentuk kalimat yang simpel dan hanya yang berkaitan dengan interaksi langsung dengan coachee:

 

  1. *Jujur dan terbuka.* Ini termasuk menjelaskan apa itu coaching, kualifikasinya, pengalamannya, saat memberikan feedback, dll;
  2. *Memperlakukan coachee merasa didengarkan, dipahami, dan dihargai.* Sehingga coachee menjadi percaya dan nyaman;
  3. *Positif dan semangat saat sesi coaching.* Hal ini akan menular kepada coachee untuk positif dan semangat terhadap goalnya;
  4. *Menghargai dan mengacu pada agenda coachee.* Tidak berasumsi, tidak memaksakan apa yang menurut coach penting;
  5. *Memberikan contoh.* Datang tepat waktu, melaksanakan komitmen, dst;
  6. *Obyektif dan tidak memihak.* Tanpa prejudice, menilai, atau menghakimi;
  7. *Menjaga coachee akuntabel.* Memastikan agar coachee untuk selalu bertanggung jawab pada pikiran, perasaan, perbuatan, dan hasil-hasilnya.

 

Masih banyak sikap seorang Coach yang disyaratkan oleh ICF, mungkin beberapa yang lain sudah saya masukan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan tambahkan lagi nanti.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Akuntabilitas Coachee

Selamat pagi dan Apa kabar?

 

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan metode yang lengkap. Maksudnya adalah, bukan hanya sampai mendapakan kesadaran baru dan mengetahui solusi yang terbaik untuk dirinya, seorang coachee pun akan difasilitasi agar bisa merancang rencana tindakan (action plan) yang spesifik dan jelas agar solusi yang dia pilih bisa diwujudkan. Bahkan tidak sampai situ. Apakah dengan mendapat kesadaran baru dan sudah membuat action plan berarti sudah dijamin coachee pasti akan melakukannya? Belum tentu. Untuk itu, seorang coach musti memastikan agar coachee pun pasti akan melakukan rencana yang sudah dia buat.

 

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Managing Progress and Accountability, atau mengelola kemajuan dan akuntabilitas coachee. Seorang coach musti mampu memastikan agar coachee-nya tetap disiplin dan mau bertanggung jawab untuk melakukan apa yang dia katakan dan bertanggung jawab terhadap hasil-hasilnya.

 

Jadi, hal-hal apa sajakah yang seorang coach musti lakukan dalam memfasilitasi coachee agar tetap disiplin yang bertanggung jawab melakukan apa yang dia telah rencanakan? Utamanya adalah sebagai berikut:

 

  1. Pertama, pastikan apakah rencana-rencana tsb sangat menarik bagi coachee untuk melakukannya. Apakah dia termotivasi untuk melakukannya?
  2. Lalu pastikan juga apakah akan ada yang dirugikan bila dia benar-benar melakukannya? Apalagi terhadap dirinya sendiri. Karena bila ada, sudah hampir pasti dia tidak akan melakukannya. Oleh karena itu, coachee musti memikirkan apa antisipasinya.
  3. Cek ke coachee, siapa yang akan memantau pelaksanaannya? Bagaimana dia tahu kalau dia sudah benar-benar melakukannya? Dan bagaimana dia tahu bahwa dia sudah berhasil melakukannya?
  4. Bila perlu, fasilitasi dia untuk menentukan apa hukumannya bila dia gagal melakukan rencananya? Dan apa hadiahnya bila dia berhasil melakukan rencananya? Ingat, hukuman dan hadiah musti dari dia sendiri. Serta pastikan bahwa hukuman dan hadiah ini berkaitan dengan berhasil tidaknya dia melakukan rencana tindakannya, bukan tentang dia mencapai goal akhirnya atau tidak. Jadi fokus ke proses.

 

Demikian hal-hal yang musti dilakukan seorang coach untuk menjaga agar coachee tetap berkomitmen menjalankan berbagai action plan yang dia sudah tetapkan sendiri.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.