korpora Coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Tetap pada Center Anda

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Tahukah Anda, bahwa di diri kita ada yang namanya “center”, atau pusat diri kita. Ini merupakan titik esensi dari siapa diri Anda. Center bukan tempat fisik, melainkan sebuah tempat yang Anda yakini ada di diri Anda. Lalu ada istilah “centering”, yang berarti menenangkan pikiran, emosi, dan pernapasan Anda, sampai ke suatu titik dimana Anda dapat “merasakan” apa yang terjadi di sekitar dan di dalam diri Anda.

 

Apa keuntungannya dengan berada pada “center” Anda? Pada intinya Anda akan tetap berada dalam kondisi “tenang”, apa pun yang terjadi di sekitar Anda. Apabila Anda kombinasikan dengan Learning (Hakalau) State, tentu hasilnya akan lebih efektif.

 

Berikut tahapan-tahapan untuk mencapai center Anda:

 

  1. Duduk dengan nyaman, dengan kaki menapaki lantai dan rasakan seperti menempel dengan bumi. Boleh menutup atau membuka mata;
  2. Fokus pada napas. Tarik napas selama 5 hitungan, lalu hembuskan selama 10 hitungan. Lakukan berulang-ulang;
  3. Rasakan ketika sedang bernapas punggung Anda menjadi santai;
  4. Perlahan-lahan, Anda mulai menyadari letak center di dalam tubuh Anda;
  5. Lepaskan segala pikiran, dan rasakan setiap tarikan napas masuk dan keluar di center Anda;
  6. Sambil terus melakukan tahap 5, rasakan Anda semakin terkoneksi dengan center Anda;
  7. Anda tahu bahwa Anda telah mencapai kondisi center ketika Anda merasa tenang dan damai.

 

Lakukan proses ini setiap sebelum sesi coaching, dan ketika memulai coaching, masuk ke kondisi learning atau hakalau. Selamat menikmati prosesnya.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Lakukan Grounding

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Semakin sering Anda melakukan coaching, baik itu kepada klien atau karyawan, Anda akan menghadapi beragam kondisi coachee, baik itu yang positif maupun yang negatif. Mungkin saja, coachee Anda memunculkan emosi yang kuat, sehingga Anda terpengaruh. Hal ini bisa jadi akan mengganggu kefektivitasan proses coaching Anda.

 

Salah satu dari 11 kompetensi inti ICF adalah Coaching Presence. Hal ini berarti seorang coach musti selalu hadir dan sadar sepenuhnya dalam proses coaching. Seorang coach musti menunjukan kepercayaan diri dan mampu mengendalikan diri ketika coachee-nya sedang mengeluarkan emosi yang kuat sehingga tidak terpengaruh.

 

Salah satu teknik yang berguna adalah “grounding”. Grounding adalah istilah yang sebagian besar digunakan untuk proses yang  berkaitan dengan energi. Grounding berarti menyingkirkan energi berlebih di tubuh Anda dan menyediakan jalan bagi energi baru yang bersih untuk masuk. Sangat penting untuk selalu memiliki aliran energi yang baik masuk dan keluar ketika melakukan aktivitas apa pun terkait dengan muatan emosi, pada khususnya proses coaching.

 

Bagaimana caranya melakukan grounding energi negatif yang ada di diri Anda?

 

Anda musti melakukan centering dan dilanjutkan dengan grounding. Ini adalah proses yang alamiah untuk melakukannya. Pertama Anda menenangkan energi, lalu Anda memindahkan energinya.

 

Berikut ini adalah sebuah latihan yang sangat sederhana untuk melakukan grounding, yang dapat dilakukan ketika Anda merasa tidak seimbang atau kelebihan emosi negatif di tengah-tengah sesi coaching:

 

  1. Lakukan proses centering seperti yang diarahkan di tulisan saya sebelumnya, tentang “Tetap pada Center Anda”;
  2. Anda tahu bahwa Anda telah mencapai kondisi center ketika Anda merasa tenang dan damai;
  3. Tarik napas Anda tetap dalam hitungan 5, lalu hembuskan dalam hitungan 10;
  4. Sembari menghembuskan napas, bayangkan ada akar-akar yang tumbuh ke bawah dari diri dan kaki Anda;
  5. Visualisasikan akar-akar ini terus tumbuh dan masuk menuju bumi semakin jauh hingga mencapai bumi di bawah Anda;
  6. Jika Anda berada di lantai yang tinggi atau lantai rumah yang lebih tinggi, Anda harus memvisualisasikannya sampai Anda merasa telah mencapai “bumi” di bawah Anda;
  7. Ketika Anda merasa terkoneksi dengan bumi, bayangkan emosi negatif di tubuh Anda bergerak turun melalui sistem akar ini dan masuk ke bumi, kemudian energi baru yang bersih masuk melalui bagian atas kepala Anda.

 

Hal ini akan memberikan aliran merata yang mengalir ke seluruh tubuh untuk membantu dalam proses coaching yang Anda sedang lakukan dengan coachee. Anda pun tidak akan terganggu dengan berbagai emosi negatif yang coachee munculkan.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Menghentikan Dialog Internal

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Mungkin Anda pernah mengalami ketika sedang ngobrol dengan teman, beberapa detik pikiran Anda seolah menghilang dan Anda miss banyak kata-katanya, hingga Anda minta dia mengulangi lagi. Ini juga bisa terjadi saat proses coaching. Ketika Anda fokus menyimak apa yang coachee ceritakan, tiba-tiba pikiran Anda seolah ‘terlempar’ ke hal lain. Begitu sadar, Anda melewati banyak key words coachee. Ini artinya Anda berada dalam kondisi yang tidak ‘presence’, yaitu tidak hadir dan sadar sepenuhnya.

 

Untuk hal-hal seperti itu, teknik Learning State sangat berguna. Teknik ini berasal dari metode Hakalua, Hawaii. Learning State akan membantu pikiran Anda untuk relaks namun fokus, sehingga Anda bisa lebih full memberikan perhatian Anda kepada teman bicara atau coachee.

 

Berikut langkah-langkahnya untuk masuk ke Learning State khusus saat di sesi coaching:

 

  1. Ketika sudah duduk dan memulai percakapan, pastikan eye contact dengan coachee. Bila Anda sungkan menatap matanya, bisa dengan menatap titik imajiner di keningnya (area “mata ketiga”);
  2. Fokuskan semua perhatian Anda pada titik ini. bila muncul pikiran datang dan pergi, biarkan saja;
  3. Ketika Anda menatap titik ini, perluas pandangan Anda ke seluruh coachee. Terus lakukan. Anda mulai menyadari apa yang Anda mulai lihat di peripheral (sisi-sisi mata) penglihatan Anda;
  4. Sekarang berikan perhatian pada bagian peripheral penglihatan Anda lebih banyak daripada bagian tengahnya;
  5. Mulailah sadari bahwa walaupun tetap eye contact, Anda dapat mendeteksi ekspresi wajah, gerakan tubuh, tangan, bahkan kaki coachee. Semuanya tanpa menggerakkan penglihatan Anda dari titik imajiner tadi.

 

Ketika sering berlatih dalam kondisi ini, Anda akan merasa jauh lebih relaks, suara-suara di kepala menghilang, dan semakin banyak kata-kata kunci coachee yang Anda ingat.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Learning State

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Teman-teman, apakah Anda pernah kesulitan untuk relaks karena pikiran sibuk terus? Atau, pernahkah sulit konsentrasi untuk mempelajari hal baru karena sedang memikirkan hal lain? Saat coaching, pernahkah Anda tidak bisa hadir sepenuhnya di sesi tersebut karena pikiran penuh?

 

Untuk hal-hal seperti itu, saya ingin memperkenalkan sebuah teknik yang bernama Learning State, yang berasal dari metode Hakalua, Hawaii. Learning State akan membantu pikiran Anda untuk relaks sehingga bisa mempelajari hal-hal baru dan presence sepenuhnya saat coaching.

 

Berikut langkah-langkahnya untuk masuk ke Learning State:

 

  1. Sambil menghadap lurus ke depan, pandanglah sebuah titik imajiner di dinding. Lebih baik titik tsb berada di atas ketinggian mata sehingga menghasilkan penglihatan penuh;

 

  1. Fokuskan semua perhatian Anda pada titik ini. bila muncul pikiran datang dan pergi, biarkan saja;

 

  1. Ketika Anda menatap titik ini, sebarkan penglihatan Anda. Terus lakukan. Anda mulai menyadari apa yang Anda mulai lihat di peripheral (sisi-sisi) penglihatan Anda;

 

  1. Sekarang berikan perhatian pada bagian peripheral penglihatan Anda lebih banyak daripada bagian tengahnya;

 

  1. Mulailah menyadari bahwa Anda dapat melihat sudut-sudut ruangan, langit-langit dan lantai, semuanya tanpa menggerakkan penglihatan Anda dari titik imajiner di dinding tadi.

 

Ketika Anda tetap dalam kondisi ini, perhatikan bagaimana perasaan Anda, karena Anda akan merasa jauh lebih relaks, dan Anda mulai lebih biasa menyadari apa saja yang dapat Anda lihat.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Tips untuk bisa Presence

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Kemampuan agar selalu hadir dan sadar sepenuhnya saat proses coaching sangat penting. Berdasarkan kompetensi inti ICF, kemampuan ini disebut Coaching Presence, yaitu kemampuan untuk hadir dan sadar sepenuhnya di dalam proses coaching.

 

Manfaatnya adalah kita jadi mampu mempraktikan berbagai kompetensi coaching lainnya secara maksimal.

 

Nah, berikut adalah beberapa metode untuk melatih presence kita:

 

  1. *Mindfulness.* Ini maksudnya adalah

kesadaran untuk memberikan

atensi penuh pada pengalaman

saat ini, di sini, tanpa penilaian. Metode ini melatih kita untuk mengamati dan menerima suatu kejadian sebagaimana apa adanya. Bentuk paling dasar dari mindfulness adalah meditasi;

  1. *Centering.* Di dalam diri setiap orang, ada yang namanya “Center”, yang merupakan titik esensi dari siapa diri Anda. Center bukan tempat fisik, melainkan sebuah tempat yang Anda yakini ada di diri Anda. Dengan berlatih centering, Anda akan merasa lebih stabil dan ‘firm’ walau seperti apa pun kondisi eksternalnya;
  2. *Grounding.* Ini adalah kelanjutan dari centering. Intinya kita berlatih untuk mengalirkan berbagai emosi negatif keluar diri kita;
  3. *Learning State.* Disebut juga peripheral vision atau hakalau state. Metode ini diadopsi dari Hawaii. Ini adalah suatu proses yang luar biasa untuk menempatkan diri Anda dalam keadaan di mana tidak ada emosi negatif dan Anda memiliki kesadaran penuh.

 

Masih banyak lagi berbagai metode untuk meningkatkan presence. Kebanyakan diadopsi dari berbagai kearifan lokal dan budaya. Mungkin Anda juga tahu. Jadi apa pun caranya asalkan nyaman dan efektif untuk Anda, silahkan lakukan.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Hadir Sepenuhnya

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Kali ini saya ingin cerita tentang hal yang sangat menarik tentang manfaat lebih apabila kita belajar dan mempraktikan coaching. Inilah alasan utama saya sering mengatakan bahwa coaching itu bukan hanya membuat coachee bertumbuh, namun coach-nya juga ikut bertumbuh dalam prosesnya.

 

Ya, mungkin Anda semua sudah paham bahwa fungsi utama coaching adalah menciptakan kesadaran baru di diri coachee. Dan ini baru terjadi bila kita sudah mampu menstimulasi proses berpikir kreatif mereka. Ini pun baru terjadi bila kita dengan luwes mampu mempraktikan pertanyaan-pertanyaan yang ampuh, dengan gaya komunikasi yang langsung dan tepat sasaran. Kedua hal ini pun sangat dipengaruhi kemampuan kita mendengarkan secara aktif. Dan apakah syarat agar kesemua hal di atas terjadi dengqn efektif? Yaitu apabila kita mampu “hadir” sepenuhnya. Apa maksudnya ini?

 

Berdasarkan kompetensi inti ICF, kemampuan ini disebut Coaching Presence, yaitu kemampuan untuk hadir dan sadar sepenuhnya di dalam proses coaching. Manfaatnya adalah kita jadi mampu mempraktikan berbagai kompetensi coaching lainnya secara maksimal.

 

Apa tanda-tandanya kita tidak ‘presence’ saat melakukan coaching?

 

  1. Pikiran kita jadi sering nge’blank. Kita jadi kelihatan bengong di mata coachee;
  2. Fokus kita gampang teralihkan. Kita bisa larut dalam konten yang dibicarakan coachee, tahu-tahu percakapan coaching jadi melebar dan gak jelas arahnya;
  3. Pikiran kita jadi melamun, atau muncul ‘drama-drama’ di kepala yang mengganggu;
  4. Kita jadi terpengaruh oleh emosi klien, yang akhirnya peran kita menjadi tidak obyektif.

 

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi-kondisi seperti di atas?

 

Ketika mulai melatih ‘presence’, saya mendapati manfaat yang bukan hanya berguna saat coaching, namun juga ke kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah:

 

  1. Pikiran saya menjadi lebih jernih sehingga bisa melihat sebuah kejadian dengan lebih apa adanya;
  2. Saya jadi gak gampang kehabisan ‘energi’, gak cepat lelah karena ‘roller coaster emosi’;
  3. Intuisi saya semakin tajam, seolah-olah jadi seperti punya indra keenam;
  4. Kamampuan saya dalam mengambil keputusan semakin tepat sasaran; serta
  5. Saya lebih yakin apa yang saya mau.

 

Wuih, banyak banget ya manfaatnya, dan kayaknya seru juga kalau diri kita semakin bertumbuh karena manfaat presence.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Yang Menentukan Rencana Tindakan

Selamat sore dan Apa kabar?

 

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan metode yang lengkap. Maksudnya adalah, bukan hanya sampai mendapakan kesadaran baru dan mengetahui solusi yang terbaik untuk dirinya, seorang coachee pun akan difasilitasi agar bisa merancang rencana tindakan (action plan) yang spesifik dan jelas agar solusi yang dia pilih bisa diwujudkan. Bahkan, proses pembelajaran coachee bukan hanya ketika dia mendapatkan kesadaran baru, bahkan saat menyusun rencana tindakan pun merupakan peluang untuk pembelajaran.

 

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Designing Actions, atau merancang rencana tindakan. Seorang coach musti mampu memfasilitasi coachee-nya untuk menyusun hal ini, yang memperdalam proses pembelajarannya.

 

Jadi, hal-hal apa sajakah yang seorang coach musti lakukan dalam memfasilitasi coachee menyusun rencana tindakan? Utamanya adalah sebagai berikut:

 

  1. Melakukan *brainsorming* dengan coachee untuk menentukan tindakan apa saja agar solusi yang dia pilih bisa terealisasi;
  2. Memprovokasi coachee untuk terus mengeksplorasi *berbagai ide-ide alternatif*, selain dari tindakan atau sudut pandang yang selama ini dia ketahui;
  3. Mendukung coachee untuk berani mengambil tindakan-tindakan yang selama ini *belum terbukti* atau *belum dilakukan*, sebagai bentuk proses pembelajaran; dan
  4. Membantu coachee untuk mempertimbangkan* potensi peluang dan resiko* dari tiap tindakan yang dia rencanakan.

 

Demikian hal-hal yang musti dilakukan seorang coach agar coachee jelas tindakan apa saja yang dia musti lakukan, dan pembelajaran apa yang dia akan dapatkan selama proses mengerjakannya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Just SPIN It…!

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Oke, Anda sudah menemui seseorang yang tertarik dengan coaching, dan Anda sudah menjelaskan definisinya, dan Anda sudah yakin bahwa dia memang cocok untuk mendapatkan program coaching. Selanjutnya gimana?

 

Kali ini saya mau berbagi hal mengenai strategi apa yang musti kita terapkan, agar seseorang tertarik untuk memutuskan untuk mau mengambil program coaching kita.

 

Jadi, strategi apa sajakah yang kita bisa pakai supaya closing..?

 

Baiklah, saya akan share sebuah tahapan praktis untuk melakukannya. Saya mengadopsi strategi ini dari sebuah teknik consultative sellin, dan ternyata cocok juga dipakai di konteks coaching.

 

Namanya adalah SPIN, dan YES, ini adalah singkatan, yang tdd:

 

  1. *Situation.* Ini adalah tahapan pembuka, yaitu menanyakan topik apa yang dia ingin bahas;

 

  1. *Problem.* Lalu lanjut untuk menggali problemnya. Dari situasi yang dia sedang hadapi, apa yang jadi masalah? Apa tantangan terbesar?

 

  1. *Implication.* Nah, di tahap ini kita cari tahu apa dampak-dampaknya bila dia tidak berubah. Apa akibatnya ke dirinya, keluarganya, anaknya, karirnya, dll. Ini adalah pain dia bila tidak berubah; dan

 

  1. *Need Pay-off.* Tahap ini kita mengangkat pleasure apa saja yang dia akan dapatkan bila dia berubah. Apa saja keuntungan yang dia dapatkan. Semakin kuat pleasure-nya, semakin termotivasi dia untuk berubah.

 

Nah, silahkan Anda praktikan, mudah-mudahan akan bisa meningkatkan closing Anda dalam program coaching ^_^

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – The Speed of FORD

Selamat pagi dan Apa kabar?

 

Coaching sebagai alat intervensi pengembangan SDM, merupakan proses percakapan yang aktif. Yang namanya percakapan tentunya melibatkan paling tidak dua orang. Agar dua orang bisa bercakap-cakap dengan lancar, mustilah diawali dengan rasa nyaman dan percaya di antara mereka.

 

Kompetensi inti ICF berkaitan dengan hal ini adalah Establishing Trust and Intimacy, atau membangun rasa percaya dan keakraban. Proses ini musti kita bina secara terus menerus, mulai dari pertama kali kita bertemu dengan calon klien, sampai ke tiap sesi coaching.

 

Tentunya ada banyak cara untuk membangun rasa percaya dan keakraban kepada seseorang, yang akhirnya merasa nyaman untuk terbuka. Saya sepertinya pernah berbagi hal ini di tulisan saya sebelumnya. Yang ingin saya bagi kali ini, adalah tentang ice breaking. Esensinya, ice breaking kita gunakan sebagai pembuka, pencair suasana, sehingga klien atau coachee kita merasa nyaman dan siap untuk proses coaching.

 

Jadi, topik apa sajakah yang kita bisa pakai untuk bahan ice breaking? Saya menggunakan akronim *FORD*, yaitu _Family_, _Organization_, _Recreation_, dan _Dream_:

 

  1. *Family.* Anda pasti setuju bahwa ini adalah bahan yang paling umum digunakan untuk mencairkan suasana. Anda bisa mulai dari membicarakan keluarga sendiri, lalu ajak dia untuk menceritakan tentang keluarganya, biasanya topik anak sangat bagus untuk digali. Puji dia tentang keluarganya, ucapkan pengakukan, dll;
  2. *Organization.* Topik ini juga cukup ampuh untuk ice breaking. Ajak dia bicara mengenai pekerjaannya, tanggung jawabnya, lama bekerja, tantangan-tantangannya, dll. Puji dan akui dia tentang prestasi-prestasinya, lama bekerjanya, dll;
  3. *Recreation.* Nah, ada juga orang yang senang membicarakan tentang hobi, rekreasi, dan bagaimana mereka meluangkan waktu senggang. Mungkin juga kita bisa gabungkan dengan topik Family, terutama buat mereka yang sudah bekeluarga. Berikan pengakuan tentang hobi mereka. Kalau perlu, cari kesamaan dengan hobi atau tempat rekreasi favorit Anda;
  4. *Dream.* Nah, topik ini bisa dipakai ketika mereka sudah mulai cair dengan kita. Galilah apa yang menjadi cita-cita mereka, baik itu di karir atau di aspek kehidupan lain. Apa yang mereka anggap penting dalam hidup? Beri pengakuan tentang hal itu. Tentu kita merasa senang bila ada seseorang yang memberikan apresiasi terhadap apa yang kita hargai dan kita anggap penting kan?

 

 

Demikian beberapa topik yang kita bisa gunakan untuk ice breaking, yang kita singkat menjadi FORD. Silahkan Anda latihan agar semakin lancar.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

 

 

 

 

Coaching 101 – Goal Setting

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Hal yang penting untuk dipahami dari coaching adalah ini berfokus pada outcome atau tujuan. Namun demikian, tidak jarang terjadi klien yang datang pada awalnya akan menceritakan problem atau masalah yang dia sedang hadapi. Untuk itu, sangat perlu untuk mengarahkan mind set klien yang tadinya fokus pada masalah menjadi fokus pada goal atau tujuan yang dia ingin dapatkan.

 

Kompetensi Inti ICF mengenai hal ini mengharuskan coach untuk mampu memfasilitasi kliennya menyusun tujuan coaching yang dapat dicapai, dapat diukur, spesifik, dan punya tenggat waktu.

 

Mungkin teman-teman sudah biasa dengan istilah SMART Goal ya. Sekarang saya ingin menjabarkan SMART Goal dengan tambahan beberapa hal yang akan membantu klien:

 

*1. Specific.* Goal klien musti dinyatakan secara spesifik, yaitu jelas dan fokus ke satu hal. “Saya ingin bahagia” tentu bukanlah goal yang spesifik. Selain itu, alangkah baiknya Goal-nya dalam kalimat yang *Simple*, tidak berbelit-belit dan mengandung sub goal-sub goal yang membingungkan dia sendiri;

 

*2. Masurable.* Sangat penting untuk memiliki goal yang ada ukurannya. Semakin kuantitatif semakin baik. Hal ini membantu klien untuk memonitor progress-nya dan untuk mengetahui bila goal tsb sudah tercapai. “Saya ingin langsing” bukanlah goal yang ada ukurannya. Sebaiknya diubah menjadi “Saya ingin mencapai berat badan 65 kg”, yaitu jelas ukurannya, dalam hal ini berat badan. Selain itu, Goal klien mustilah yang *Meaningful* untuk dirinya. Cek mengapa goal ini begitu penting untuk dirinya, apa yang terjadi bila dia tidak mencapai goal ini, dst. Goal yang bermakna akan memotivasi dia untuk mengejarnya;

 

*3. Attainable.* Pastikan agar goal yang klien inginkan adalah hal yang dia bisa capai, bukan hayalan dan tidak masuk di akal. Jadi goal itu adalah sesuatu yang klien bisa capai atau raih. Selain itu, goal akan semakin kuat bila dinyatakan dalam kalimat yang *As if now*. Nyatakanlah dalam present tense atau kalimat saat ini. Hindari kata “akan”;

 

*4. Relevant.* Pastikan juga agar goal tersebut relevan dengan kehidupan dia secara keseluruhan, dengan visi dia, dll. Fasilitasi dia untuk memastikan agar tidak ada goalnya yang saling konflik atau tidak selaras. Dan cek juga apakah klien adalah yang *Responsible* untuk melakukannya. Dia yang harus bertanggung jawab mengerjakan dan mencapainya, bukan orang lain. “Saya ingin anak saya lulus ujian” bukanlah goal yang Responsible;

 

*5. Time-bound.* Artinya, goal yang efektif adalah goal yang punya tenggat waktu. Kapan akan dimulai, dan kapan akan dicapai. Kalau perlu, pastikan tanggal, bulan, dan tahunnya. Selain itu, pastikan goal-nya adalah *Toward what you want*. Yaitu, goalnya menyatakan hal yang klien inginkan, bukan yang tidak diinginkan. “Saya tidak ingin gemuk” bukan yang bersifat toward what you want.

 

Nah, mari kita diskusi dengan mengganti goal berikut dengan goal yang SMART:

 

“Suatu saat, saya tidak akan miskin lagi”

 

Silahkan tulis di group, seharusnya ditulis seperti apa goal di atas agar menjadi SMART?

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.