Coaching 101 – Membatasi Diri

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Salah satu arti coaching yang terkenal adalah “membuka potensi manusia.” Hal ini dikarenakan masih banyak potensi kemampuan kita yang masih tersembunyi, entah memang kita tidak menyadarinya atau kita yang sengaja menutupinya. corpora coaching practitioner certification program

 

Karena apa? Seringkali kita membatasi diri. Kita terlalu fokus pada masalah sehingga kita “lupa” untuk melihat pada tujuan. Seolah masalah tersebut “menutupi pandangan” kita kepada outcome atau hasil yang kita ingin dapatkan.

 

Apa tanda-tandanya kita “membatasi diri”? Kita membatasi potensi di diri kita dengan mengatakan:

 

  1. *”Saya tidak bisa/tidak mampu/tidak sanggup.”* Contoh: “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.”
  2. *”Tidak mungkin.”* Misalnya dengan berkata: “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!”

 

Ketika kita mengucapkan kata-kata yang membatasi diri, silahkan cek perasaan apa yang dominan? Sensasi apa yang badan kita rasakan? Pasti kita merasakan emosi yang tidak nyaman di tubuh.

 

Mulai sekarang, kita sudah mulai bisa menyadari saat-saat perkataan kita membatasi potensi diri.

 

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Saya akan buka di tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Budaya belajar pada suatu perusahaan

Kemajuan teknologi sangat pesat sekali, yang tadinya tradisional berubah menjadi lebih modern dan digital sekarang ini. Perusahaan yang tidak berkembang siap-siap saja akan habis dimakan jaman. Perusahaan harus belajar untuk bisa menyamakan langkah teknologi ini. Bagaimana budaya belajar kita? Sudah ada kah? Atau malah belum memulai. Tidak ada kata terlambat memulainya. Tidak ada kata untuk henti belajar dan terus belajar.

 

Apa sih manfaat belajar ini untuk kita maupun perusahaan? Banyak sekali manfaat yang bisa didapat. Baik itu untuk diri kita maupun untuk perusahaan. Perusahaan yang paham akan budaya belajar akan memberikan pelatihan kepada para karyawannya. Pelatihan yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

budaya belajar

Keuntungan yang didapat oleh diri kita sebagai karyawan dan perusahaan karena dengan adanya budaya belajar adalah sebagai berikut,

Diri kita / karyawan :

  1. Kemampuan skill kita akan sangat berkembang, dengan belajar dan berlatih kita bisa mengembangkan talent yang kita punyai.
  2. Kita akan lebih setia kepada perusahaan, karena sudah diberikan suatu bekal untuk masa depan kita. Dan perusahaan menganggap kita itu ada dan berarti.
  3. Pola kerja kita pastinya akan mengalami perubahan menjadi lebih baik, pekerjaan tentunya akan lebih mudah dan cepat terselesaikan. Sehingga kita akan terus termotivasi untuk tetap berkarya.

 

Perusahaan :

  1. Dengan para karyawan bekerja sesuai porsinya masing-masing, tentunya hasil yang didapat oleh perusahaan adalah keuntungan.
  2. Kepuasan para klien kita, mereka akan merasa terpuaskan dengan pola kerja yang baru. Karena kemampuan karyawan telah di tambah dengan belajar.
  3. Banyak inovasi baru akan tercipta. Dengan lingkungan kerja yang baik, maka akan banyak ide-ide baru tercipta. Yang efeknya kembali ke perusahaan.
  4. Perusahaan akan dapat terus bertahan mengikuti perubahan jaman, karena dengan terus belajar perusahaan tidak akan ketinggalan metode-metode terbaru untuk kelangsungan perusahaan.

 

 

Itu adalah beberapa hal positif yang bisa didapat oleh perusahaan. Perusahaan yang baik dan sehat akan menjalankan budaya belajar ini. Jadi sudah kah perusahaan anda menerapkan hal ini? Siapkah kita untuk belajar?

 

Coaching 101 – Sudut Pandang Lain

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, seolah dia terkunci dengan kondisinya itu. Dia seperti tidak menemukan jalan keluar. Seringkali hal ini bukan karena beratnya masalah, namun tentang bagaimana dia memandang atau mengartikan masalahnya tsb.

 

Ketika dia berhasil mengartikan kondisinya secara berbeda, atau memandangnya dari sudut pandang yang lain, bisa jadi dia menemukan solusinya.

 

Dalam proses coaching, hal ini bisa dilakukan dengan sebuah strategi yang sederhana. Tertarik?

korproa coaching practitioner certification program

Nah, proses ini dinamakan reframing. Di kompetensi inti ICF, kemampuan ini masuk ke kompetensi Direct Communication. Tujuannya adalah agar memfasilitasi coachee melihat dan memahami situasinya dalam sudut pandang yang lain sehingga dia mendapatkan makna baru yang berdampak positif.

 

Caranya bagaimana?

 

Ada dua cara reframing yang paling dasar:

 

  1. Content Reframing. Prosesnya adalah dengan melihat suatu keadaan dari sudut pandang yang berbeda. Misalkan “Sepertinya saya tidak jadi mendapatkan project itu. Atasan saya sudah gak percaya lagi dengan saya.” Maka kita bisa reframe pandangannya tersebut dengan men-challenge seperti: “Apa lagi yang Anda bisa artikan dari kejadian itu?” atau “Dalam bentuk apa kejadian itu menjadi hal yang positif untuk diri Anda?”

 

  1. Context Reframing.” Prozesnya adalah dengan melihat kapan dan/atau dimana lagi keadaan tsb menjadi positif. Contoh “Atasan saya terlalu pelit dalam hal keuamgan.” Maka kita bisa bantu dia dengan pertanyaan: “Di situasi seperti apa perilaku dia bisa bermanfaat?”

 

Apakah kondisinya langsung berubah? Apakah masalah dia langsung selesai? Tidak juga. Paling tidak ketika dia telah mampu melihat situasi atau problemnya dari sudut pandang yang berbeda, dia bisa mengartikannya secara berbeda pula. Hal ini akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya secara positif. Bila sudah positif, kemungkinan besar pula akan menemukan berbagai alternatif solusi.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Leadership Nick Fury karakter film avengers (5)

Nick Fury adalah seorang pemimpin yang hebat, yang banyak belajar dari pengalamannya. Leadership nick fury tidak perlu diragukan lagi. Dia adalah orang biasa, yang tidak mempunyai super power seperti karakter lainnya. Tapi dialah yang mampu memimpin para super hero lainnya. Mereka menjadi 1 visi dibawah naungan dia. Kok bisa ya? Manusia biasa bisa memimpin para jagoan hebat. semuanya patuh dan takjub akan kepemimpinannya. Kita belajar yuk sosok 1 ini.

leadership Nick Fury

Dia seorang agent terlatih, dari sinilah dia belajar dunia kepemimpinan dan leadership. Dari dialah project Avengers terbentuk. Dia mempunyai visi dan misi yang jauh kedepan, bahwa dunia akan memerlukan super hero. Jauh sebelum ada kejadian nyata yang terjadi. leadership nick fury sangat dibutuhkan oleh para anggota shield. banyak orang hebat yang bernaung dibawah kepemimpinan sang direktur Nick Fury.

Seorang leader yang baik akan menciptakan leader-leader yang baik pula. Sebut saja beberapa superhero hebat yang juga seorang leader, Captain America dan Iron Man. Mereka patuh dibawah naungannya. Aura kepemimpinannya membuat bawahannya segan. tidak ada yang bisa membantahnya. bila sudah diperintahkan atau diminta, pasti akan dijalankan langsung. karena mereka tahu apa yang diminta itulah adalah yang terbaik bagi diri mereka dan keberlangsungan SHIELD.

Pada saat civil war terjadi, kita tidak melihat keberadaan sosok ini. Bila saja ada disana, mungkin pertikaian antara tim Iron Man dan tim Captain America akan terhindari. Karena mereka akan patuh dengan perintahnya. perpecahan ini bisa terjadi karena kekosongan leadership nick fury.

Shield

Sebagai manusia dia juga tidak luput dari kesalahan, seperti tidak menyadari Shield bisa disusupi hydra. Tapi dia bertanggung jawab penuh akan hal tersebut dan memperbaikinya. dengan caranya sendiri, nick fury menyelesaikan semua masalah yang terjadi.

Hubungan nya dengan para superhero amat baik. Dia bisa bersahabat dengan siapa saja. Dia bisa menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan para pemimpin dan leader hebat lainnya, seperti Captain Marvel. akhirnya kita tahu, dari nama julukan captain marvel lah, nama AVENGER didapatkan.

Luar biasa sosok 1 ini. Manusia biasa tapi bisa memimpin para super hero. Apakah teman-teman bisa meneladani dan belajar leadership dari dia?

Coaching 101 – Mengambil Keputusan 2 (menentukan pilihan)

 

menentukan pilihanSelamat pagi dan apa kabar!

Apakah Anda pernah merasa bingung dalam menentukan pilihan? Walaupun sudah ada kriterianya, Anda tetap saja tidak bisa memilih? Kebingungan yang amat sangat dan merasa stuck tidak mampu melakukan pilihan satu pun dari pilihan-pilihan yang ada. kita tahu bahwa melakukan pilihan itu penting tapi karena satu hal, itu menjadi hal yang paling sulit untuk dilakukan.

 

Kemungkinan besar ada 2 atau lebih kriteria yang konflik, Anda tidak tahu yang mana yang musti diprioritaskan. sepertinya ada masalah yang amat sulit sekali sehingga, tidak mudah untuk melakukan pilihan tersebut. berada ditengah-tengah tidak tahu harus memilih yang mana. bisa saja dia merasakan ke dua pilihan itu sama pentingnya.

 

Misal kasusnya adalah seorang coachee bingung menentukan pilihan untuk memutuskan apakah memilih pekerjaan A atau B. Ternyata kebingungan dia karena ada dua kriteria yang dia anggap sama pentingnya, yaitu penghasilan dan waktu kerja. Pekerjaan A menawarkan penghasilan yang lebih besar namun membutuhkan waktu kerja yang juga lebih banyak. Pekerjaan B menawarkan penghasilan yang lebih kecil namun waktu kerjanya fleksibel.

 

Lalu bagaimana solusinya?

 

Prosesnya adalah mirip dengan tulisan sebelumnya yang berjudul “Konflik Batin”, yaitu sbb:

 

  1. Gali niat tertinggi dia untuk masing-masing kriterianya, yaitu niat tertinggi terhadap penghasilan, dan niat tertinggi terhadap waktu kerja. Niat tertinggi adalah dalam bentuk value, yaitu apa yang dia anggap paling penting;
  2. Bila kedua niat tertinggi sudah didapat, tunjukkan ke dia keduanya dan minta dia untuk mempertimbangkan mana yang lebih penting dalam hidupnya;
  3. Bila dia sudah memutuskan, kemhalikan lagj kepada kedua pilihan pekerjaan A dan B, yang mana pilihan dia?

 

Bila coachee sudah melakukan proses di atas, dia akan lebih mudah memutuskan pilihan pekerjaan yang mana yang dia akan ambil. tugas kita sebagai coach adalah mempermudah pilihan sang coachee. sehingga tidak kehilangan arah lagi.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Kapan pelatihan karyawan diperlukan ?

Sering terlintas oleh perusahaan, kapan pelatihan karyawan itu diperlukan ya? Pelatihan untuk karyawan tidak bisa dihindari oleh karyawan pada posisi apapun. Mulai dari dia masuk ke kantor dengan status sebagai karyawan baru sampai dengan para Manager level tinggi pun tidak bisa luput akan pelatihan ini. Banyak hal yang menyebabkan pelatihan ini memang harus dilakukan. Yang kesemuanya itu adalah untuk kemajuan perusahaan tempat dia bekerja. Karena perusahaan memerlukan kemampuan para karyawan dalam bekerja untuk mendapatkan hasil yang baik dan sesuai dengan harapan pemilik perusahaan.

Sebagai karyawan baru, mereka sangat perlu diberikan pelatihan pada awalnya. Dengan tujuan, mereka paham akan epos kerja di tempat baru ini. Mulai dari orientasi kerja sampai dengan pelatihan mengenai pengetahuan yang sesuai dengan tempat dimana mereka akan bekerja. Jadi pertanyaan kapan pelatihan karyawan diperlukan? mungkin ini saatnya dilaksanakan.

pelatihan karyawan

Karyawan yang sudah bekerja lama pun akan mendapatkan pelatihan juga tentunya. Bila HRD menganggap mereka melakukan pelatihan, karena beberapa hal. Seperti :

  1. Diantara 1 tim terlihat ada kejomplangan cara kerja. Terlihat kebingungan seperti kehilangan arah dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Artinya sang karyawan tidak paham dalam melakukan pekerjaannya atau ada hal lain yang perlu digali lebih dalam.
  2. Adanya aturan baru dalam menjalankan strategi perusahaan, yang mau tidak mau seluruh karyawan mesti diupgrade lagi supaya bisa memahami kembali.
  3. Perusahaan ingin menaikan citra nya lebih luas lagi. Kembali supaya bisa mengejar hal tersebut. Para karyawan perlu diberikan pelatihan yang sesuai dengan bidang masing-masing. Dengan tujuan, mereka bisa ikut berpartisipasi untuk menaikan citra perusahaan.
  4. Karyawan yang pindah posisi. Tentunya mereka memerlukan sebuah pelatihan baru. Dimana mereka akan pindah posisi di tempat yang baru. Bisa saja mereka akan mengerjakan pekerjaan yang berbeda dari tempat asalnya. Ada baiknya mereka mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan di tempat yang baru.
  5. Untuk para manager pun wajib melakukan pelatihan untuk menghadapi anak buahnya atau tim. Kemampuan untuk memanage tim, mulai dari mementor, mencoach, komunikasi dan lainnya.
  6. Bahkan para petinggi di perusahaan, juga wajib melakukan pelatihan. Dengan tujuan bisa mengatur jalannya perusahaan.

 

Bisa dibilang pelatihan untuk karyawan sangat penting sekali artinya untuk kemajuan sebuah perusahaan yang ingin tetap bertahan dan berkembang. Sudah kah tempat teman-teman mengadakan pelatihan?

Coaching 101 – Mengambil Keputusan

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Banyak orang yang menjadi coachee memiliki berbagai tujuan. Salah satu yang paling sering adalah keinginan mereka agar bisa mengambil keputusan terhadap satu, dua, atau lebih pilihan.

 

Mengapa seseorang bingung untuk memilih? Apa yang menyebabkan dia kesulitan untuk mengambil sebuah keputusan?

mengambil keputusan

Pada dasarnya, orang tidak bisa memutuskan terhadap beberapa pilihan karena dia tidak punya kriteria yang jelas mengenai hal tersebut. Dia tidak mengacu kepada value atau hal-hal yang penting untuk dirinya. Misal, ketika seseorang bingung apakah dia musti menerima tawaran pekerjaan A atau pekerjaan B, kemungkinan besar karena bingung kriteria atau nilai-nilai yang dia anggap penting dalam sebuah pekerjaan.

 

Jadi, bila coachee Anda sedang bingung memutuskan pilihan, berikut langkah-langkah melakukannya:

 

  1. Kembali ke contoh di atas tentang bingung memilih pekerjaan, tanyakan ke dia, apa saja yang saat ini dia anggap penting dalam konteks pekerjaan;
  2. Setelah dia menyebut beberapa kriteria yang penting tsb, minta dia memprioritaskan mulai dari yang paling penting dst sampai yang paling kurang penting;
  3. Kemudian minta dia mengevaluasi kedua alternarif pekerjaan A dan B, terhadap kriteria penting tsb. Yang manakah yang paling banyak memenuhinya?

 

Bila coachee sudah melakukan proses di atas, dia akan lebih mudah memutuskan pilihan pekerjaan yang mana yang dia akan ambil.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Leadership dari karakter film Avengers (4)

Leadership dari karakter film avengers (4)

Thor

Sosok ini cukup menarik kita pelajari mengenai kehidupan leadership nya. Dia banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Secara fisik, Thor bertubuh tegap, kokoh, kuat, dan tampan. Menurut mitologi nordik dia adalah dewa petir yang memegang palu mjolnir dan anak dari Odin raja di Asgard. Yang otomatis dia adalah seorang pemimpin dan calon raja masa depan. Karena sebagai penerus tahta dari Asgard. yang otomatis dia belajar leadership dari sang ayah.

Ini yang membuat dirinya menjadi manja dan seakan-akan yakin bahwa tahta pemimpin akan jatuh ke tangan dirinya. Karena suatu kesalahan dia dibuang ke bumi bersama palunya. Disana dia harus belajar bagaimana supaya dirinya bisa layak menjadi pemimpin dan leader yang siap dan bijaksana. Dia rela menjadi tameng bagi teman-temannya yang sedang dalam bahaya.

Hal ini lah yang membuat dirinya layak menjadi seorang leader. Yaitu sanggup rela berkorban demi anak buah atau tim nya. Melihat itu, rekan-rekan seperjuangannya salut dan menyegani Thor. Dia pemimpin yang baik dan siap memegang tahta Asgard.

Kepercayaan dirinya berkali-kali diuji, dimulai dari hancurnya palu Mjolnirnya. Dia merasa tanpa daya tanpa palunya. Dan akhirnya sadar, dia tidak memerlukan palu untuk menjadi pemimpin. Karena leadership itu berasal dari dirinya sendiri.

Thor juga kembali diuji dengan cobaan yang berat, dia melihat rakyatnya dibantai Thanos begitu juga dengan adik angkatnya. Dan merasa menjadi penyebab hilangnya separuh penduduk dunia, karena tidak bisa membunuh Thanos. Walau begitu, dia tetap memimpin sisa rakyatnya yang tersisa. Tetap bertanggung jawab akan kelangsungan hidup rakyatnya.

Seorang leader berani bertanggung jawab akan perbuatannya yang dia lakukan. Berani memperbaikinya, ini yang di lakukan oleh Thor. Dia belajar bagaimana menjadi leader yang baik.

Inilah beberapa tindakan Thor sebagai seorang pemimpin dan leader. Berani bertanggung jawab, melindungi rekan dan rakyatnya, dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Semoga kita bisa belajar hal leadership tersebut dari karakter ini.

Coaching 101 – Konflik Batin

Selamat siang dan apa kabar?

 

Dalam suatu sesi pro-bono coaching di event International Coaching Week 2019, coachee saya adalah seorang mahasiswi program beasiswa. Dia sangat cerdas, dan perfeksionis. Karena itu, dia mengeluh suka terlambat menyelesaikan tugas-tugasnya. Bukan karena tidak mampu menyelesaikannya, namun dia ingin agar hasilnya sesempurna mungkin. Bila dia tidak yakin, dia akan mengulang lagi atau mendalami lebih banyak literatur-literaturnya hingga dia merasa puas. kita mesti paham sebagai coach akan permasalahannya tersebut.

coaching

Di lain pihak, dia merasa lelah dengan kebiasaanya ini. Dia sebetulnya ingin seperti teman-temannya yang bisa menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, dan tidak terbebeani dengan keharusan agar hasilnya perfect.

 

Sekarang dia mengalami stres, karena di satu sisi dia ingin hasil tugas-tugasnya perfect, di sisi lain dia ingin agar bisa menyelesaikannya tepat waktu dan tidak selalu terbebani dengan keharusan agar hasilnya sempurna.

 

Sebagai seorang Coach, tugas saya adalah memfasilitasi dia untuk mendapatkan kesadaran baru terhadap kondisinya. Singkat cerita, yang akhirnya saya lakukan adalah:

 

  1. Menggali niat tertinggi dia untuk masing-masing keinginannya, yaitu niat tertinggi terhadap hasil yang perfect, dan niat tertinggi terhadap menyelesaikan tugas tepat waktu. Niat tertinggi adalah dalam bentuk value, yaitu apa yang dia anggap paling penting;
  2. Bila kedua niat tertinggi sudah didapat, saya menunjukan ke dia keduanya dan meminta dia untuk mempertimbangkan mana yang lebih penting bila dikaitkan dengan goal hidupnya;
  3. Lalu saya memfasilitasikan dia untuk mengintegrasikan kedua value tersebut, agar keduanya bisa sama-sama dipenuhi kebutuhannya;

 

Setelah melalui ketiga proses di atas, dia akhirnya menyadari sendiri bahwa kesempurnaan itu mustahil untuk dia dapatkan, yang dia bisa lakukan adalah melakukan sebaik mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Apabila hasilnya sudah memenuhi syarat dari dosennya, dia akan mengumpulkannya tanpa perlu terobsesi untuk memperbaikinya sampai dia anggap sempurna. Toh, menurut dia, nilai yang dia dapat bukan seberapa sempurnya tugas tersebut namun seberapa sesuainya terhadap kemauan dosennya.

 

Berdasarkan ilustrasi di atas, kita bisa simpulkan bahwa tugas seorang Coach jangan terjebak dengan konten atau isi dari pemasalahan coachee. Tugas kita adalah bermain di level struktur berpikirnya, yaitu memicu proses berpikir kreatif coachee sehingga dia bisa menemukan dan memilih solusinya sendiri.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Strategi coaching terhadap yang belum terbuka

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Setelah memberikan sesi coaching, salah seorang leader cerita kepada saya bahwa dia mengalami kesulitan karena karyawannya itu seperti menutup-nutupi permasalahannya. Dia masih belum cukup terbuka untuk menceritakan kondisinya. “Apakah karena saya atasannya ya?” Leader tersebut merenung.

Pernah mengalami hal yang sama?

 

Sebetulnya ada satu strategi yang cukup ampuh untuk men-coaching seseorang yang masih menyembunyikan kondisinya.

 

Seperti yang sebelumnya saya tulis, resistensi atau ketidakterbukaan seorang coachee bisa diakibatkan dua faktor:

 

  1. Coach kurang membina kepercayaan, kenyamanan dan keakraban. Dalam hal ini musti memperkuat rapport terus menerus.
  2. Coachee kesulitan untuk memverbalisasikan kondisinya. Hal ini bisa disebabkan karena dia tidak bisa menatanya dalam bentuk kata-kata. Bisa juga karena dia masih denial terhadap kondisinya, atau karena masalahnya terlalu berat untuk dia ungkapkan.

 

Kita sudah sering berdiskusi mengenai no. 1. Kali ini mari kita bahas faktor kedua.

 

Ada sebuah strategi yang cukup ampuh untuk membereskan kasus no. 2, yaitu menggunakan metafora. Maksudnya? Ya metafora atau analogi atau perumpamaan.

 

Fasilitasi coachee untuk menceritakan kondisinya dalam bentuk metafora atau perumpamaan. Misal dengan bertanya¬† “apabila kondisi Anda diumpamakan sebagai hewan, tumbuhan, atau simbol-simbol tertentu, Anda akan menganalogikannya seperti apa ya? Mohon ceritakan.”

 

Setelah dia berhasil mengumpamakannya, kita bisa mengeksplorasi metaforanya lebih lanjut. Contoh perumpamaannya adalah “bagai burung elamg yang kakinya terikat tali sehingga gak bisa terbang tinggi”, kita bisa gali, “apa yang burung elang itu inginkan? Apa yang dia butuhkan”, dll.

 

Secara tidak disadari, coachee mulai menceritakan kondisinya dalam bentuk cerita metafora, dan dia tidak kesulitan lagi atau tidak menghindar lagi untuk mengatakannya. Toh, saat ini yang di-coaching adalah si burung elang, bukan dia.

 

Ketika si burung elang tsb sudah menemukan alternatif solusi, jangan lupa kembalikan dia ke kondisi nyata: “Apabila keadaan burung elang tsb kita hubungkan dengan kondisi Anda, apa yang Anda bisa ceritakan atau simpulkan?” Dll.

 

Mudah-mudahan dengan strategi di atas, coachee kita akan semakin mudah terbuka kepada kita