Cintai pekerjaan sebagai sales

Cintai pekerjaan sebagai sales.

Sudahkah kita mencintai pekerjaan yang kita geluti sehari-hari. Apapun pekerjaan yang kita dalami. Seperti tulisan sebelum nya, sales adalah pekerjaan mulia. Sales adalah ujung tombak suatu perusahaan. Tanpa sales suatu perusahaan tidak akan bisa berjalan. Bila kita tidak mencintai pekerjaan kita sebagai sales, tentunya pekerjaan yang kita geluti tidak akan bisa berjalan dengan sebagai mestinya.

Pahami pekerjaanmu, kenali pekerjaan sales ini, dan tentunya jatuh cinta lah akan pekerjaan mu sebagai sales. Dengan melakukan itu semua. Pekerjaan kita sebagai sales akan berjalan dengan lancar dan baik. Akan berlaku dengan sebaiknya, bila tidak mencintai pekerjaanmu sebagai sales dan malah membencinya, dijamin pekerjaan yang dikerjakan tidak akan pernah beres. Tidak akan mencapai target yang di tentukan oleh perusahaan. Yang akan apa yang dikerjakan selama itu akan sia-sia saja. Buang-buang waktu saja. Lebih baik cari pekerjaan yang lain saja. Jangan memutuskan pekerjaan sebagai sales.

cintai pekerjaanmu

Kita harus bangga sebagai sales. Kita mesti bisa jatuh cinta sebagai sales. Kenapa? Pekerjaan yang di kerjakan dengan cinta apapun itu bidang pekerjaannya apalagi sebagai sales, maka pekerjaan akan sangat mudah dikerjakan. Kita sales akan enjoy melakukannya. Tidak ada beban yang berlebihan dalam pekerjaan sehari-hari ini.

Seperti kita mencintai pasangan kita atau orang tua kita atau keluarga kita. Tentunya kita akan nyaman hidup bersama mereka. Tinggal di 1 atap dengan mereka. Bisa bercanda, bermain, berbicara, dan lain sebagainya dengan mereka. Bila sebalikanya terjadi, jangan pernah bayangkan hal diatas bisa dilakukan dalam 1 rumah. Yang ada malah terjadi keributan dan kekisruhan yang terjadi setiap kalinya.

Sales pekerjaan mudah bila kita sudah mencintainya dengan segala penuh hati. Mencintai itu mudah bila sudah memahami 1 sama lainnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta semua akan mudah dilakukan. Sales itu mudah, bila kita paham akan tanggung jawab sebagai sales itu apa. Pahami produk, pahami cara berjualan, pahami cara berbicara, dan lainnya. Maka semua pekerjaan sebagai sales akan lebih mudah. Hal tersebut akan kita bahas pada tulisan selanjutnya ya.

Ingat, cintai pekerjaan kita sebagai sales. Maka semua pekerjaan akan mudah dilakukan dan dikerjakan. Cintai sales.

Training Catch Your Dream with Recruitment

Training Catch Your Dream with Recruitment yang berlangsung pada tanggal 6 Juli 2019 di Lembah Hijau Ciloto.

Tujuan Training

 

Tujuan diadakannya training ini adalah mengetahui teknik-teknik recruitment.

 

 

 

 

 

 

Berbagai materi Training Catch Your Dream with Recruitment diperkenalkan oleh Coach Rinto Langitan dengan tujuan para peserta dapat lebih memahami teknik Recruitment.

Salam Performance!

Informasi training, coaching, dan consulting hubungi Irena 021-29125627 atau 0813-1009-3855

Coaching 101 – Maksud Positif

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Teman-teman, saya meyakini bahwa di balik perilaku ada maksud positif yang mendorong perilaku tersebut. Positif di sini bukan tentang benar atau salah, namun lebih kepada ada bagian tertentu dari diri kita yang terpenuhi ketika melakukan perilaku tersebut.

Korpora Coaching practitioner Certification Program

Contoh sederhana adalah merokok. Semua juga tahu, bahkan yang merokok itu pun tahu, bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan. Lalu apa yang membuat dia tidak menghentikan kebiasaan tsb? Karena ada bagian dari diri dia yang terpenuhi dengan merokok. Mungkin dia menjadi lebih relaks, lebih fokus, sakit kepala hilang, dll. Bila digali lebih dalam, akan sampai ke value tertentu yang dia capai melalui merokok.

Misal value ketenangan, fokus, kenyamanan, dll.

 

Begitu pula dengan coachee. Ketika dia kesulitan menghentikan atau mengubah perilaku tertentu, bisa jadi karena bila berhenti atau berubah, ada value yang dirugikan, dan ini lebih mempengaruhi dia secara bawah sadar.

 

Cara yang efektif menangani hal ini adalah:

 

  1. Bantu dia untuk *mengidentifikasi maksud positif dan value* di balik perilakunya tersebut. Sesuatu hal baru kita bisa kendalikan bila pertama kita mengetahui hal tsb apa. Contoh pertanyaannya:

“Apa maksud positif dari merokok?”

“Apa yang Anda dapatkan dengan merokok?”

“Apa yang penting dari hal itu?”

Gali terus hingga dia menemukan maksud positif tertinggi atau value-nya.

 

  1. Pastikan dia menyadari bahwa *bukan perilakunya tsb yang penting, tapi maksud positif atau value-nya tsb yang sebetulnya penting* untuk dia:

“Jadi, sebetulnya mana yang penting untuk Anda: apakah merokoknya, atau supaya fokus berpikir?”

 

  1. Bila perlu ajak dia *memikirkan alternatif perilaku yang tetap memenuhi maksud positif* yang dia kejar:

“Apa yang musti Anda lakukan supaya tetap bisa fokus berpikir walaupun tidak merokok?”

 

Pastikan juga perilaku baru tersebut selain akan memenuhi maksud positif yang dia ingin dapatkan, juga akan memenuhi value-value dia yang lain. Semakin banyak value yang terpuaskan dari perilaku barunya, semakin kuat dan sanggup dia untuk mengubah perilaku lamanya ke yang baru.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Hambatan

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Seorang coachee yang masih bingung terhadap solusi bisa jadi karena dia belum mengidentifikasi hambatan yang sebenarnya. Untuk itu dia musti mengetahui dulu hambatan yang masih tersembunyi agar bisa mengatasinya.

korpora coaching practitioner certification program

Hambatan itu bisa berasal dari luar dirinya, misal waktu atau sistem, dan bisa juga berasal dari dalam dirinya seperti rasa takut atau keyakinan dirinya. Seringkali apa yang pada awalnya merupakan hambatan dari luar ternyata berasal dari hambatan di dalam dirinya.

 

Menemukan hambatan yang sebenarnya ternyata merupakan sebuah bentuk kesadaran baru juga buat seorang coachee.

 

Bagaimana supaya dia bisa menemukan hambatan-hambatan tersebut?

 

Berikut beberapa contoh menggali hambatan coachee:

 

Hambatan luar

 

  1. “Apa yang menghalangi/ menghentikan Anda untuk mencapainya?”
  2. “Apa yang Anda butuhkan yang belum Anda miliki untuk mendapatkannya?”
  3. “Sumber daya apa yang bila Anda miliki akan membuat perbedaan?”

 

*Hambatan dalam diri*

 

  1. “Apa yang terjadi di dalam diri Anda ketika sedang memikirkan tujuan ini?”
  2. “Apa yang Anda dapatkan bila Anda tidak meraih impian Anda?”
  3. “Apa yang Anda tidak dapatkan bila Anda mencapainya?”
  4. “Apa yang mendorong diri Anda untuk tidak melakukannya?”
  5. “Apa yang terlintas di pikiran/hati Anda berkaitan dengan menjalankan impian Anda?”

 

Apabila dia sudah menemukan hambatan yang sebenarnya, Anda bisa memulai memfasilitasinya untuk menentukan apa yang dia akan lakukan selanjutnya. Misal, dia bisa mereframing apa hambatannya tersebut, seperti tulisan saya sebelumnya yang¬† berjudul “Reframing terhadap Membatasi Diri.”

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Sales Baru sebagai pekerjaan

 

Mendapat pekerjaan sebagai sales yang baru, hmmmm kok kayaknya bagaimana ya. Kok sepertinya pekerjaan yang remeh ya sebagai sales. Baru selesai kuliah mendapat pekerjaan sebagai sales. Ada yang salah sepertinya mendapat pekerjaan sebagai sales. Sales? Apa sih pekerjaan sales itu? Berjualan? Menawarkan barang/produk/jasa ke orang lain? Tak kenal maka tak sayang, sepertinya pepatah ini masih berlaku ya untuk sesuatu hal yang baru. Apa sih yang harus teman-teman pahami sebagai sales baru ?

Sebelum teman-teman memutuskan suatu keputusan dalam bekerja sebagai sales, pastikan teman-teman sales memahami pekerjaan yang akan teman sales kerjakan. Pahami job desk nya, pahami pekerjaannya. Bila tidak yakin, jangan teman-teman terima pekerjaan sales. Karena itu harus dikerjakan dengan tanggung jawab penuh, bukan coba-coba. Baru tentukan bila sudah memahami apa itu sales.

Teman-teman harus tahu, sales adalah ujung tombak suatu usaha. Tanpa hasil dari seorang sales, perusahaan tidak akan berjalan. Pekerjaan yang tidak mudah dan tidak juga sulit bila sudah jatuh cinta akan dunia sales. Untuk teman-teman yang baru saja mengerjakan sales ini, mungkin masih bingung dan banyak pertanyaan yang timbul. Apakah bisa mengerjakan sebagai sales ini.

kerja sebagai sales baru

Sales adalah pekerjaan yang menawarkan atau menjual suatu produk / jasa kepada seseorang atau sekelompok orang yang bisa disebut instansi atau tempat usaha lainnya. Berhadapan dengan orang lain dan membantu pekerjaan orang lain yang membutuhkan suatu produk / jasa. Dengan adanya sales pekerjaan mereka akan terbantu. Dengan menawarkan ke mereka yang membutuhkan, kita sales artinya sudah meringankan beban mereka.

Yang harus kita pahami terlebih dahulu adalah apa sih yang harus kita persiapkan sebelum terjun kebidang sales ini. Jangan kita bermodalkan nekad saja dan belum paham akan semuanya, main nekad ke lapangan. Sales baru mesti banyak belajar dari para senior yang sudah berkecimpung di bidang ini. Belajar lah dari mereka. Ilmu sales mereka sudah banyak tinggal diserap oleh kita sebagai sales.

Pada tulisan selanjutnya akan kita bahas mengenai mencintai pekerjaan sales ya.

Coaching 101 – Ownership

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Ketika menghadapi suatu situasi atau masalah, seorang coachee seringkali menyalahkan orang lain atau keadaan. Seakan seluruh masalahnya tsb adalah gara-gara mereka atau keadaan eksternal, dan dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk memperbaikinya. Secara tidak sadar, dia memposisikan dirinya sebagai korban. Istilahnya adalah “playing victim.” Dengan melakukan itu dia mendapat semacam kepuasan semu.

korpora coaching practitioner certification program

Dalam kondisi seperti itu, dia tidak akan mungkin mencapai goal atau sasarannya. Dan sesi coaching tidak akan berjalan dengan efektif. Untuk itu kita perlu memfasilitasinya agar dia kembali ke posisi ownership.

 

Kita dapat men-challenge coachee dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

 

  1. “Bagian mana yang menjadi kontribusi Anda terhadap masalah ini?”
  2. “Seandainya Anda punya kemampuan untuk memperbaikinya, apa yang akan dilakukan?”
  3. “Seandainya dia gak mungkin berubah, dan satu-satunya yang bisa memperbaikinya adalah Anda, apa yang Anda akan lalukan?”
  4. “Pura-puranya Anda diberi wewenang penuh, apa ide Anda?”
  5. “Jadi menurut Anda, emosi Anda, pikiran Anda, dan perilaku Anda di bawah kendali orang lain? Dan Anda tidak punya kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali?”

 

Hati-hati untuk menggunakan challenge yang terakhir. Kita baru bisa menggunakannya bila sudah terjalin rapport dan trust yang sudah dalam dengan coachee.

 

Coaching adalah suatu metode untuk melatih seseorang untuk bersikap ownership terhadap kehidupannya. Dengan menggunakan contoh-contoh di atas, maka akan membuat coachee semakin terlatih untuk bertanggung jawab 100% atas dirinya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

Coaching 101 – Reframing untuk Positive Challenge

Selamat Pagi dan Apa Kabar ? Kita lanjutkan membahas tentang positive challenge. Metode yang efektif melakukannya adalah dalam bentuk pertanyaan yang membuat coachee berpikir lebih dalam. kita akan sedikit mempelajari mengenai reframing pada bahasan selanjutnya.

reframingSelain digunakan untuk reframing, what-if frame bisa dipakai untuk men-challenge, karena pada dasarnya men-challenge adalah mengajak coachee untuk me-reframe persepsi yang dia masih pakai.

 

Ini contoh-contohnya kalimat yang bisa digunakan untuk menanyakan kepada coachee, yang bisa digunakan dalam me reframing pikirannya :

 

  1. “Seandainya Anda sudah berada di masa depan, apa pendapat Anda dari masa depan terhadap keputusan yang Anda buat saat ini?”
  2. “Seandainya idola Anda ada di sini, apa pendapat beliau terhadap cara Anda menghadapi masalah tsb?”
  3. “Seandainya Anda sanggup meraih goal ini jauh lebih cepat, apa yang akan terjadi?”
  4. Seumpamanya mati hidup Anda tergantung dari keputusan Anda hari ini, keputusan apa yang akan anda ambil untuk menjawab tantangan itu?”

 

Jadi kegunaan what-if frame adalah tidak terbatas untuk men-challenge coachee. Yang penting kita melakukannya untuk kepentingan coachee berkaitan dengan goal atau tujuan coaching. pentingnya melakukan reframing pada saat sesi coacnhing.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

 

Potensi / Positive Challenge – Coaching 101

Selamat Pagi dan Apa kabar? Kita masih membahas tentang arti dan tujuan coaching, yaitu “membuka potensi manusia”. Coaching meyakini bahwa potensi kita sebetulnya jauh lebih besar daripada apa yang kita sudah tunjukan atau yang kita sadari ada. Hanya sebagian besar masih tersembunyi atau “tertutup”, menunggu untuk diberi kesempatan menunjukan dirinya. Oleh karena itu, dengan coaching, berbagai potensi itu “dibuka” agar kita menyadari dan memanfaatkannya untuk kepentingan positif kita.

potensi manusia

Istilah lain “membuka potensi” ini adalah “push the limit” atau “enforce your boundaries”.¬† Metode yang sangat efektif adalah men-challenge coachee. Bahkan, men-challenge adalah service yang seorang coach musti berikan kepada coachee-nya. Ini adalah kemampuan yang mampu menciptakan kesadaran baru bahwa coachee memiliki berbagai potensi yang kemudian membangkitkan motivasinya untuk melakukan tindakan yang berbeda.

 

Apa pun bentuk dan caranya, men-challenge dalam coaching memiliki syarat sebagai berikut:

 

  1. Membuat coachee untuk *bergerak maju*, bukan yang menunjukan betapa salah atau lemahnya mereka. Jadi seorang coach men-challenge agar coachee tergerak, bukannya malah membuat dia menyerah;

 

  1. Memposisikan Coach-nya sebagai *mitra mereka*, bukannya sebagai musuh atau lawan mereka. Coachee tahu bahwa coach-nya melakukan itu bukan supaya dirinya gagal, namun dengan intensi positif untuk mendukung dia mencapai tujuannya.

 

Bentuk men-challenge yang memenuhi syarat di atas saya sebut sebagai *positive challenge*. Ini akan membuat coachee menyadari blind spot-nya secara positif dan efektif, sehingga akhirnya dia mau bangkit untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi lagi.

 

Saya akan jabarkan berbagai teknik melakukan positive challenge di tulisan berikutnya.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Ide Selling dari Avengers:Endgames (1)

Mumpung filmnya lagi booming dan tentunya sudah pada nonton kan ya. Jadi ini bukan spoiler lagi ya. Kita bahas yuk mengenai film ini. Ini cocok untuk teman-teman para sales yang ingin melakukan ide selling produknya. Mungkin teman-teman sedikit bingung kok avengers dihubungkan dengan sales dan selling sih?

Tidak apa-apa, kalau teman-teman sudah mulai bingung artinya teman-teman mau belajar nih. Para sales tentunya bertanggung jawab dalam menjual atau selling usaha dagangannya atau produknya. Apa yang kita lakukan sebelum melakukan selling? Coba kita list yuk apa sih kebutuhan para sales.

 

  1. Ide Selling atau Produk
  2. Mewujudkan ide menjadi produk.
  3. Uji coba / test market
  4. Strategi dalam menjual produk tersebut
  5. Kesiapan mental para sales menghadapi tantangan.

Ide Selling

Adakah teman-teman mulai melihat korelasinya dengan film Avengers : Endgame? Bila belum, tidak usah kawatir. Kita lanjutkan pembahasannya sehingga bisa paham, apa hubungan antara film tersebut dengan selling para sales.

Kita bahas dari list diatas ya satu per satu.

  1. Ide Selling / Produk.

Dalam film avenger, produk apa yang ditawarkan ya? Yaitu sebuah jalan atau cara bagaimana mengembalikan keadaaan seperti semula sebelum kejadian jentikan jari Thanos.

Ide Selling / Produk itu datang dari Ant-Man. Dia muncul setelah terperangkap di quantum realm. Dimana didalam itu waktu ada relative. Dia merasa terperangkap disana hanya 5 jam padahal itu sudah selama 5 tahun. Yang artinya sangat dimungkinkan dengan adanya perjalanan waktu. So apa artinya? Ini adalah sebuah ide dalam menciptakan suatu produk untuk terjadinya selling atau penjualan. Suatu harapan yang ditunggu-tunggu oleh dunia.

Ide selling kepada investor

 

Pertanyaannya, apakah sudah bisa kita melakukan berjualan atau selling dengan hanya ide yang tercipta tersebut? Bila dihubungkan kembali dengan avengers:endgame adalah apakah AntMan bisa mewujudkan gagasan atau idenya tersebut? Apakah dia bisa langsung mengembalikan penduduk dunia ini kembali ke asalnya yang tidak berkurang separuhnya?

Tentunya belum, ini baru sekedar wacana atau ide yang masih kasar dan belum teruji.

 

Jadi harus bagaimana selanjutnya dari wacana atau ide ini sehingga bisa masuk ke tahap penjualan atau selling?

Kita bahas point berikutnya di tulisan selanjutnya ya. Sabar ya.

Coaching 101 – Reframing terhadap Membatasi Diri

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Pada tulisan sebelumnya kita membahas tentang membatasi diri. Apakah ini terjadi pada diri kita atau pada coachee kita.

 

Seringkali kita atau coachee membatasi diri karena terlalu fokus pada masalah sehingga kita “lupa” untuk melihat pada tujuan. Seolah masalah tersebut “menutupi pandangan” kita kepada outcome atau hasil yang kita ingin dapatkan.

Korpora Coaching Practitioner Certification Program

Contohnya ketika dalam suatu percakapan coaching, coachee kita menyatakan kalimat yang membatasi dirinya seperti sbb:

 

  1. “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.”
  2. “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!”

 

Sebagai seorang Coach, kita tentu bertugas untuk memastikan agar coachee kita bergerak semakin ke arah goalnya, bukan menjauhinya. Untuk itu, kita reframing ucapannya tsb. Metode reframing yang sering saya pakai adalah *what-if frame*. Atau dalam bahasa sederhananya: *apa yang terjadi jika* atau *seandainya*.

 

Ayo kita reframe kata-kata coachee di atas, menjadi:

 

  1. “Saya tidak sanggup untuk melakukannya.” *Reframing:* “Seandainya sanggup, apa yang Anda akan lakukan?”
  2. “Wah, saya gak bakal mungkin menyelesaikan proyek ini dalam waktu yang sangat sempit!” *Reframing:* “Seandainya Anda mungkin menyelesaikannya, apa yang akan terjadi dengan diri/karir Anda?” Lalu “Apa yang Anda lakukan?”

 

Lalu apakah persoalannya tiba-tiba selesai? Tentu tidak. Untuk itu coachee masih membutuhkan alternatif solusi dalam bentuk sumber daya yang dia butuhkan:

 

  1. “Apa yang Anda butuhkan / apa yang perlu ada agar Anda sanggup melakukannya / mungkin menyelesaikannya?”
  2. “Bagaimana Anda akan mendapatkannya?” Dst

 

Dengan cara-cara di atas, kita atau coachee akan lebih mungkin untuk fokus pada solusi yang dibutuhkannya.

 

Ingat: Selalu mengacu pada goal coachee untuk melakukan reframing.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC