Coaching 101 – Yang Menentukan Keberhasilan Kinerja

Selamat Pagi dan Apa kabar?

 

Sebagai seorang Leader di perusahaan, saya yakin Anda sudah biasa menghadapi tantangan untuk mencapai kinerja. Baik itu kinerja pribadi, team, atau departemen Anda.

 

Untuk simple-nya, pencapaian kinerja seseorang dipengaruhi dua hal, yaitu kemauan dan kemampuan. Apakah Anda setuju? Nah dari 2 hal tsb kita bisa petakan kondisi team kita seperti apa, dan jenis intervensi apa yang cocok. Ini berkaitan dengan artikel saya sebelumnya yang berjudul “Bedanya Coach dengan Profesi Lainnya.”.

 

Kita mulai ya. Dari sisi Kemauan, seseorang bisa Mau dan Tidak Mau. Dari sisi Kemampuan, seseorang ada yang Mampu dan ada yang Tidak Mampu. Kalo kita kombinasikan, maka akan terjadi 4 kuadran sbb:

 

  1. *Mampu dan Mau.* Ini adalah team yang ideal ya. Sebagai Leader, tugas Anda adalah memberikan *delegasi* kepada dia, dan bila ada kesempatan, mungkin sudah saatnya dia untuk mendapatkan *promosi*. Berarti Anda sudah berhasil dari sisi sebagai seorang Leader.

 

  1. *Tidak Mampu dan Mau.* Walaupun masih punya motivasi atau komitmen untuk bekerja, namun team seperti ini masih kurang kemampuannya baik itu dari sisi pengetahuan atau ketrampilannya. Artinya, dia masih perlu *training* untuk menambah kemampuannya, atau *coaching* untuk menerapkan ilmunya di tempat kerja dengan efektif. Dia mungkin juga butuh *mentoring* dari Anda, supaya pengalaman Anda bisa dia pelajari dan manfaatkan.

 

  1. *Mampu dan Tidak Mau.* Sebetulnya team seperti ini punya kemampuan tapi entah kenapa motivasinya atau komitmennya kok tidak ada. Mungkin dia punya masalah pribadi atau memang gak tertarik dengan tugas-tugasnya? Atau ada hal-hal lain? Sepertinya dia perlu *konseling* untuk menyelesaikan masalahnya. Atau dia mungkin perlu jenis *coaching* tertentu untuk menemukan lagi semangatnya atau motivasinya.

 

  1. *Tidak Mampu dan Tidak Mau.* Nah, seharusnya tipe yang seperti ini sudah difilter sejak tahap rekrutmen ya. Namun namanya manusia bisa saja yang tadinya di kuadran 3, 2, bahkan 1, bisa masuk ke kuadran ini. Sebagai awal, ada baiknya dia mendapatkan *konseling* lebih dulu, paling tidak untuk mendapatkan kemauannya. Setelah itu Anda bisa melakukan cara-cara di kuadran 2. Kalau tidak berhasil, Anda perlu mempertimbangkan untuk *merotasi* dia. Siapa tahu dia lebih cocok di jenis pekerjaan lain. Atau kalau gak ada pilihan, sudah saatnya dia masuk ke tahap *terminasi*. Karena bila kita pertahankan terus bisa jadi kita telah menghalangi rejeki dia dari tempat lain.

 

Nah, dengan cara sederhana di atas, sekarang Anda bisa mulai memetakan tiap team Anda kondisinya lagi di kuadran yang mana. Anda pun mulai tahu jenis perlakuan seperti apa yang cocok untuk dia.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

 

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Bedanya Coach dengan Profesi Lain

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Salah satu kompetensi inti ICF mengharuskan seorang coach bisa menjelaskan perbedaan coaching dengan metode lain, seperti training, consulting, mentoring, dan counseling. Dia musti memastikan agar calon coachee-nya paham dan sehingga bisa menentukan kebutuhannya dengan lebih baik, apakah perlu coaching atau cara lain.

 

Ada berbagai cara menjelaskan perbedaan-perbedaan itu. Kita bisa menjabarkannya dalam bentuk deskripsi, atau dengan cara lain yang lebih menarik. Misalnya dengan pendekatan flow chart. Saya seringkali menggunakan metafora. Ini terbukti menarik, FUN, dan membuat calon coachee paham dengan LENGKAP.

 

Nah, metafora yang saya sering pakai adalah tentang “Anda yang sedang belajar menyupir mobil”. Sebaiknya Anda menemui siapakah? Ternyata tergantunf lho.

 

Apabila Anda menemui seorang:

 

*1. Terapis,* maka dia akan menggali apa yang terjadi di masa lalu Anda yang menghambat untuk sanggup menyetir mobil;

*2. Konselor;* maka dia akan mendengar dan mengeksplorasi kecemasan atau kehawatiran Anda untuk menyetir mobil;

*3. Mentor,* maka dia akan membagikan tips dan strategi dari bertahun-tahun pengalamannya dalam menyetir mobil;

*4. Seorang trainer,* maka dia akan memberikan pengetahuan dan mengajarkan ketrampilan bagaimana menyupir mobil yang efektif;

*5. Seorang konsultan,* maka dia akan memberikan beberapa pilihan tentang cara menyetir mobil, serta mobil seperti apa yang cocok untuk Anda kendarai;

*6. Seorang coach,* maka dia akan memfasilitasi proses menemukan jawaban apa pun mengenai menyupir mobil dan kendaraan, yang paling sesuai dengan kondisi Anda saat ini dan di masa depan.

 

Silahkan temui salah satu dari tenaga profesional di atas, sesuai dengan kebutuhan spesifik Anda berkaitan dengan menyupir mobil.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

 

 

Coaching 101 – Menciptakan Hubungan yang Setara

Apa kabar?

 

Salah satu kata kunci yang terdapat di definisi coaching berbasiskan ICF adalah “kemitraan” dengan klien. Ini artinya adalah proses coaching musti dilandasi oleh kesetaraan antara coach dan coachee. Tidak ada yang lebih berkuasa dalam prosesnya. Ini sangat penting untuk memastikan terbangunnya rasa pecaya dan keakraban di diri coachee terhadap coach-nya, sehingga terjadilah open communication yang sangat efektif untuk keberhasilan proses coaching itu sendiri.

 

Walaupun sepertinya sederhana, pelaksanaannya perlu strategi yang baik. Seorang Coach profesional musti menunjukan kesetaraannya terhadap coachee, tanpa memandang siapa yang membayar. Seorang Leader juga penting mempraktikan hal ini, seberapa tinggi posisi atau jabatannya. Jadi bagi seorang Leader, ini merupakan perubahan mindset yang cukup menantang.

 

Lalu strategi apa sajakah yang LENGKAP dan FUN untuk menciptakan hubungan yang setara antara coach dan coachee?

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang membangun kesetaraan dan kemitraan dengan coachee. Melakukan ini meliputi berbagai hal, mulai dari pola pikir, kata2 yang kita ucapkan, perilaku, bahasa tubuh, hingga suasana lingkungannya.

 

Berikut beberapa tips yang mungkin Anda bisa gunakan:

 

  1. Niatkan di kepala dan hati kita untuk menjadi mitranya dan mendukung coachee dengan tulus untuk berubah menjadi lebih baik. Nyatakan kepada coachee, tunjukan keseriusan Anda tentang hal ini;
  2. Tepat waktu sesuai kesepakatan untuk sesi coaching;
  3. Pastikan coachee siap untuk memulai sesi. Bila dia baru tiba, biarkan dia relaks dulu dan jangan buru-buru untuk memulai sesi apalagi dengan nada memerintah. Gunakan ice breaking. Humor ringan juga membantu;
  4. Praktikan active listening. Beri dia sinyal untuk terus berbicara, misal mengangguk, dengan ekspresi wajah dan eye contact yang tulus untuk menyimak. Jangan menginterupsi;
  5. Gunakan kata-kata dan jargon-jargon yang sesuai dengan dunianya, tidak menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah high level. Dan gunakan intonasi suara yang selevel juga, tidak bernada tinggi apalagi yang berkesan “bossy”;
  6. Sesekali, ucapkan acknowledgment terhadap apa yang dia ungkapkan. Misal, “saya hargai kejujuran kamu ketika menceritakan ….”, dll
  7. Mengatur tempat dan posisi duduk yang menunjukan kesetaraan. Hindari duduk di kursi kerja Anda karena di situ sudah ada anchor state “atasan”. Dan kalau bisa, hindari meja penghalang.

 

Oke. Barusan adalah beberapa tips yang menarik untuk dipraktikan. Mungkin Anda punya usul-usul lain? Mari kita diskusikan.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Memastikan Proses Coaching Sejak Awal

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Oke. Anda sudah menyelesaikan dan lulus pelatihan coaching. Anda begitu takjub dengan ‘kehebatan’ coaching. Anda begitu percaya diri bahwa coaching adalah proses yang luar biasa mengagumkan untuk men-develop orang.

 

Tentunya Anda ingin dengan segera mempraktikannya. Anda ingin mengumpulkan jam terbang (coaching hours) secepatnya. Anda begitu yakin 100 jam bisa dikumpulkan dalam waktu maksimal 3 bulan. Lagipula coaching kan hebat, pasti banyak orang yang membutuhkannya.

 

Anda mulai menawarkan jasa coaching pro bono (gratis) kepada teman-dekat. Sebagai Leader di perusahaan, Anda juga langsung menerapkan coaching ke karyawan Anda. Bahkan menawarkan coaching ke karyawan rekan-rekan leader Anda.

 

Namun apa yang terjadi? Anda mengalami hal-hal berikut:

 

  1. Karyawan Anda kebingunan ketika di-coaching, bahkan mereka malah minta dikasih tahu terus solusi masalahnya;

 

  1. Rekan leader Anda terlalu mendikte goal coaching karyawannya, dan sebagai coachee Anda, karyawannya punya ekspektasi dan goal yamg berbeda dengan kemauan atasannya;

 

  1. Coachee Anda tidak mau melanjutkan sesi, katanya coaching kelamaan, ribet, bikin pusing, dll.

 

Pernah mengalami hal-hal seperti di atas?

 

Ketika mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga level PCC, saya menyadari bahwa kompetensi yang musti dikuasai oleh seorang coach berbasiskan ICF bukan hanya saat dia melakukan proses coaching, namun juga ICF menyadari bahwa persiapan awal sebelum coaching berjalan juga hal yang sangat penting.

 

Berbagai hal yang musti dibahas di awal adalah masuk ke kompetensi inti Establishing a Coaching Agreement, yaitu Membangun Kesepakatan Coaching. Tujuan utama kompetensi ini adalah untuk memahami tujuan klien (atasan dan coachee), membangun kesepakatan hak dan tanggung jawab masing-masing pihak, dan menjelaskan serta mensepakati proses coaching.

 

Jadi, untuk memastikan proses coaching berjalan lancar dan meminimalisir kegagalannya, sebelum sesi coaching ketiga pihak (atasan, coach, dan coachee) musti duduk bersama untuk:

 

  1. Coach menjelaskan definisi dan proses coaching, serta apakah hal ini cocok dengan ekspektasi mereka;

 

  1. Coach menggali kebutuhan/needs calon coachee:apakah dia sesuai untuk coaching atau malah lebih membutuhkan intervensi yang lain (misal training, mentoring, atau konseling);

 

  1. Ketiga pihak mensepakati sasaran dan outcome dari program coaching;

 

  1. Ketiga pihak mensepakati indikator dan ukuran keberhasilan program coaching, dan apa saja yang musti dilaporkan dan yang tidak.

 

Dengan melakukan paling tidak keempat hal di atas, akan semakin memperbesar kelancaranan program coaching dan besar juga kemungkinan tujuan coaching tercapai.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Apakah Semua Orang Cocok dengan Coaching?

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Dari sekian banyak diskusi mengenai coaching, ada pertanyaan mengenai siapa saja orang yang bisa di-coaching? Apakah hal itu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya? Bagaimana dengan tingkat kecerdasan? Atau apakah tergantung dengan jenis pekerjaan? Bahkan apakah level jabatan juga berperan?

 

Dari sekian banyak pengalaman saya melakukan coaching, saya punya pandangan sendiri tentang hal ini. Hingga saya menemukan ada beberapa karakteristik yang menunjukan kesiapan seseorang untuk di-coaching.

 

Berikut karakteristik penting apakah seseorang cocok dengan coaching:

 

  1. Memiliki rasa ownership (kepemilikan) yang tinggi, bertanggung jawab, dan dapat diandalkan terhadap nasib pribadi dan profesionalitasnya;

 

  1. Tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak memiliki banyak alasan, dan tidak suka menyangkal;

 

  1. Memiliki jiwa partnership (kemitraan) dan kolaborasi yang tinggi;

 

  1. Menghargai pandangan dan perspektif orang lain;

 

  1. Siap menerima umpan balik yang kuat dan membangun;

 

  1. Siap memberikan waktu dan tenaga yang maksimal untuk menciptakan perubahan yang sesungguhnya.

 

Ketika seseorang memenuhi seluruh pernyataan di atas, maka saya yakin bahwa coaching adalah metode yang tepat untuknya.

 

Apakah Anda termasuk?

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

Coaching 101 – Model Perubahan dalam Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Salah satu tujuan utama dalam proses coaching adalah untuk membawa klien dari kondisinya yang sekarang ke kondisi yang diinginkannya. Dalam upaya kita sebagai seorang Coach memfasilitasi klien kita mencapai kondisi yang dia inginkan, kita menggunakan berbagai macam model coaching. Ada banyak sekali model coaching yang kita bisa gunakan, namun semuanya memiliki suatu kesamaan, atau yang kita sebut benang merahnya.

 

Berikut beberapa elemen yang kita temukan dari semua jenis model coaching :

 

*1. Menetapkan Kondisi yang Diinginkan.* Kita perlu memastikan agar klien memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dia inginkan. Misalkan bila dia ingin menurunkan berat badannya, pastikan dia ingin mencapai berat badan berapa kilogram. Apa yang akan dia lihat, dengar, dan rasakan ketika dia sudah mencapai berat badan yang dia inginkan, kapan dia ingin mendapatkannya, dll. Bila dia sudah paham dan jelas betul apa yang dia inginkan, dia sebetulnya sudah memulai proses perubahan itu sendiri karena otaknya merupakan sebuah mekanisme sibernetis. Artinya, pikirannya akan mulai mengorganisasikan ulang berbagai perilaku yang dia butuhkan untuk mencapainya, lalu dia mulai mendapatkan umpan balik dari dirinya sendiri secara otomatis untuk membuat dia tetap dalam jalur menuju tujuannya.

 

*2. Menetapkan Kondisi Sekarang.* Setelah klien berhasil memastikan apa yang dia inginkan, kita bisa mulai memfasilitasinya untuk mengumpulkan berbagai informasi seputar situasi dia saat ini. Dalam hal menurunkan berat badan, cek berat badan dia saat ini berapa kilogram, apa saja aktivitasnya, pola makannya, gaya hidupnya, dll.

 

*3. Menetapkan Sumber Daya yang Sesuai.* Dengan membandingkan kondisi yang diinginkan terhadap kondisi sekarang, klien pun mulai menetapkan sumber daya apa saja yang dia butuhkan untuk mencapai kondisi yang diinginkannya. Ada dua jenis sumber daya yang mungkin dia perlukan, yaitu sumber daya eksternal dan internal. Sumber daya eksternal adalah sumber daya yang dia bisa dapatkan di luar dirinya. Sumber daya internal berupa apa yang ada di dalam dirinya seperti perilaku, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan sistem keyakinan dan nilai diri.

 

Sejauh ini, kita bisa formulasikan elemen-elemen di atas sebagai berikut :

 

Kondisi Sekarang + Sumber Daya = Kondisi yang Diinginkan

 

Seringkali, klien menemukan gangguan saat menambahkan sumber daya yang dia butuhkan. Gangguan tersebut bisa berasal dari dirinya sendiri atau dari luar dirinya. Gangguan ini bagaikan “teroris” yang berusaha menghalangi dia untuk mencapai kondisi yang dia inginkan. Tak jarang seorang Coach akan banyak memfokuskan sesi coaching-nya untuk mengatasi dan menghilangkan berbagai gangguan yang klien hadapi.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Agenda Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Salah seorang teman pernah menyangsikan efektivitas coaching. Dia cerita pernah di-coaching oleh seseorang yang pernah belajar coaching, namun dia merasa tidak ada dampaknya. Hanya seperti ngobrol-ngobrol biasa dan prosesnya tidak tentu arahnya. Setelah selesai, dia tambah bingung harus melakukan apa.

 

Lalu saya tanya, “Memangnya apa yang kamu ingin dapatkan dari sesi coaching tersebut?” Teman saya tampak bingung. “Iya yah, sepertinya saat itu saya hanya membahas masalah dan coach-nya hanya bertanya-tanya seputar masalah saya itu.”

 

Coaching itu adalah sebuah proses untuk memaksimalkan potensi seseorang. Jadi, bukan hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul atau sesi curhat saja. Agar coaching ini memberikan dampak yang optimal, perlu ada kesepakatan agenda dan tujuan coaching. Ini yang menjadi acuan coach untuk memfasilitasi prosesnya.

 

Kompetensi Inti ICF mengenai hal ini adalah Establishing the Coaching Agreement, yaitu kemampuan untuk membangun kesepakatan coaching. Artinya, di awal tiap sesi coaching, seorang coach musti memastikan apa yang coachee-nya ingin bahas dan apa tujuan yang dia ingin capai di sesi itu.

 

Langkah-langkah untuk memastikan agenda coaching adalah seperti ini:

 

  1. Pastikan topik yang ingin dibahas. Biasanya seorang coachee membawa sebuah problem atau tantangan ke sesi coaching. Ajak dia untuk mengungkapkan apa yang dia ingin bahas.

 

  1. Cek apa kaitan topik tersebut dengan goal besarnya. Sebuah program coaching yang terdiri dari beberapa sesi pasti dengan sebuah tujuan besar yang coachee ingin raih, apakah itu tentang pencapaian KPI-nya, peningkatan karir, perubahan perilaku, dll. Ini namanya goal atau agenda besar. Ketika dia membahas sebuah topik tertentu di sesi coaching, cek dengan menanyakan, “mengapa ini begitu penting untuk kita bahas?” atau “Bagaimana topik ini berkaitan dengan tujuan Anda di akhir program, yaitu untuk meningkatkan kinerja?” Pastikan dia betul-betul clear tentang hal ini.

 

  1. Tanyakan goal spesifik yang coachee ingin dapatkan di akhir sesi. Pastikan dia menyatakan apa yang dia ingin peroleh di akhir sesi coaching. Misalnya dengan pertanyaan: “Apa yang Anda ingin dapatkan di akhir sesi ini, berkaitan topik itu?” Bila perlu tanyakan juga bagaimana dia tahu bila dia sudah mendapatkan tujuannya itu, dan apa yang menjadi ukuran keberhasilannya. Tahap ketiga ini penting karena akan menjadi acuan utama coach-nya dalam melanjutkan proses coaching di sesi tersebut sehingga tidak melebar kemana-mana.

 

Ketika kita sebagai coach sudah melakukan tahapan-tahapan di atas, maka agenda coaching menjadi LENGKAP sehingga proses sesi coaching akan menjadi FUN dan berdampak maksimal.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

 

Coaching 101 – Bertanya dalam Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Banyak rekan saya bertanya, “benarkah saat melakukan coaching, kita hanya boleh bertanya? Gak boleh kasih tahu sedikit pun? Memangnya apa istimewanya sih bertanya-tanya itu?”

 

Well, itulah yang banyak disangka orang orang, bahwa coaching isinya hanya pertanyaan-pertanyaan saja. Bahkan, banyak banget orang menulis buku-buku tentang berbagai daftar dan jenis pertanyaan dalam coaching.

 

Eh tahu gak, ratusan daftar pertanyaan itu hanya SIA-SIA saja kok, karena ESENSINYA BUKAN SEBERAPA BANYAK atau SEBERAPA KEREN DAFTAR PERTANYAAN yang kita hapal. Nah lho, lalu apanya dong?

 

Di Kompetensi Inti ICF, kemampuan yang musti dikuasai seorang Coach adalah Powerful Questioning. Kalau kita urai, Questioning menggambarkan proses bertanya, atau kata kerja bertanya. Bukan sekedar questions atau pertanyaan-pertanyaan. Jadi bukan pertanyaan (questions-nya) semata, namun lebih ke proses bertanyanya yang powerful, yaitu yang menciptakan AHA moment atau kesadaran baru.

 

Proses bertanya itu terdiri dari:

 

  1. Input: yaitu informasi yang disampaikan coachee. Di sini perlunya mendengarkan dengan aktif. Jadi seorang coach bertanya menggunakan informasi dari coachee sebagai bahannya. Bukan dari daftar pertanyaan yang dia tulis atau hapalkan sebelum sesi coaching. Kalau itu namanya interview atau interogasi;

 

  1. Proses bertanya: yaitu ketika coach memilih kata-kata kunci untuk dieksplorasi lebih jauh. Kemudian mengucapkannya dengan intonasi dan nada suara tertentu, ekspresi, posisi tubuh, dan gesture tertentu, dengan menggunakan kata tanya tertentu. Proses ini pun berlanjut di pikiran coachee, yaitu dia mengasosiasikan, mentautkan, atau mengintegrasikan berbagai informasi di kepalanya;

 

  1. Output terciptanya AHA moment atau kesadaran baru.

 

Memang, mengetahui berbagai jenis dan model pertanyaan itu penting dan bagus untuk seorang coach. Dan pastikan agar menggunakannya dengan proses yang benar sehingga memberikan dampak yang powerful untuk diri coachee.

 

Satu hal penting: bertanya dalam coaching itu bukan agar coach-nya tahu jawabannya. Bukan itu tujuan utamanya. Tapi agar coachee yang tahu dan menyadari jawabannya.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Mendengar Apa yang Tidak Diucapkan

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Pernahkah ketika sedang ngobrol dengan seseorang, Anda merasa bahwa ada ‘sesuatu’ yang dia sembunyikan? Atau Anda merasa dia punya ‘maksud lain’ daripada apa yang diucapkan? Di saat itu Anda seolah mendengar bukan hanya apa yang dia ucapkan, namun juga mendengar apa yang dia tidak ucapkan.

 

Sebetulnya hal itu bukan suatu kebetulan saja. Bukan pula asal tebak. Bisa dipelajari kok. Dan ternyata, ini juga merupakan kemampuan mendengarkan secara aktif, yang saya sudah bahas sebagian di tulisan sebelumnya.

 

Bila sudah mampu melakukan ini, maka seorang coach pada akhirnya akan bisa mendapatkan dan mengungkap berbagai perasaan, maksud, values, serta beliefs coachee di balik apa yang coachee-nya katakan.

 

Caranya adalah:

 

  1. Eye Contact. Pastikan saat Anda sedang mendengarkan, jaga selalu kontak mata Anda dengan dia. Bila sungkan untuk langsung menatap matanya, Anda bisa menatap di bagian “mata ketiga”nya, yaitu di bagian antara alis matanya. Tujuannya agar Anda fokus pada satu titik. Hal ini akan meningkatkan konsentrasi Anda untuk mendengar kata-kata kunci dia melalui perbedaan intonasi, penekanan, dan volume suaranya.

 

  1. Kalibrasi Tubuhnya. Maksudnya adalah selagi menjaga eye contact, Anda juga musti men-scan seluruh badannya, terutama ekspresi wajah, gerakan tangan, dan posisi duduk. Hal ini untuk mengecek kata-kata kuncinya yang diekspresikan dengan suara atau bahasa tubuh tertentu. Apakah selaras atau tidak. Bagaimana hal ini dilakukan? Ada istilah peripheral vision. Contohnya ketika sedang menyetir kendaraan, walau mata menatap ke depan namun Anda juga bisa mendeteksi gerakan kendaraan lain di kiri dan kanan kan? Ini yang Anda harus latih saat Anda mendengarkan.

 

Dengan melakukan tips di atas, kemampuan mendengarkan Anda akan jauh meningkat. Selamat berlatih.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Mendengarkan secara Aktif

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Saya yakin sudah banyak sekali literatur tentang leadership yang mengatakan bahwa seorang leader itu musti lebih banyak lagi mendengarkan. Berbagai survei juga sudah dilakukan dan salah satu hal yang musti dikuasai seorang leader adalah kemampuan mendengarkan. “Banyak mendengarkan dan berhenti bicara”, begitu saran para guru leadership.

 

Nah, bukankah setiap saat kita mendengarkan? Kalo gak mendengarkan bagaimana kita bisa tahu apa-apa yang disampaikan karyawan? Jadi, kemampuan mendengarkan yang seperti apa lagi?

 

Sekarang saya tanya, ketika sedang mendengar kata-kata karyawan Anda, informasi yang mereka sampaikan, berapa persen yang Anda tangkap? 100%? Yakin? Ada seorang manajer yang bahkan berani mengatakan dia mampu mendengar bahkan mengingat hampir semua yang karyawannya katakan. Oke, dia mungkin memang sanggup mendengar dan ingat hampir semua kata-kata. Dan tahukah Anda, bahkan ketika ingat semua kata-kata yang diucapkan, sebetulnya kemampuan mendengarkan kita baru sekitar 20-30%?

 

Jadi, apa dong yang 70-80%-nya? Nah, ini menariknya. Seorang pendengar yang baik tidak hanya sekedar mendengar semua kata namun juga dia mampu mendengar kata-kata kunci, yaitu kata-kata yang dianggap penting oleh orang tsb. Ini merupakan informasi yang relevan untuk dieskplorasi lebih lanjut.

 

Bagaimana kita tahu kata-kata kunci itu? Kita tahu karena kita mampu mendengar bagaimana kata-kata itu diucapkan. Bagaimana disampaikannya, dikatakannya, dll. Hal ini dipengaruhi beberapa elemen, yaitu suara dan bahasa tubuh yang mengatakannya. Suara bisa dari kecepatan, naik turun, volume, penekanan, dll. Bahasa tubuh terdiri dari ekspresi wajah, gerakan tangan, posisi tubuh, dll. Pendengar yang baik mampu membedakan kata-kata yang diucapkan secara normal, dengan kata-kata yang diucapkan dengan intonasi suara tertentu, ekspresi wajah tertentu, dll, yang artinya kata-kata itu penting buat dia, atau mengandung muatan emosi.

 

Nah, inilah yang seorang coach musti latih. Dia musti menguasai keahlian mendengarkan secara aktif, yaitu mendengar dan aktif menangkap kata-kata kunci yang coachee-nya ceritakan. Bila sudah mampu melakukan ini, maka seorang coach pada akhirnya akan bisa mendapatkan dan mengungkap berbagai perasaan, maksud, values, serta beliefs coachee di balik apa yang dia katakan. Dan ini adalah faktor penting agar bisa menciptakan AHA moment. Kemampuan ini akan banyak dipelajari di program coaching 66 jam.

 

Nah balik lagi sebagai seorang leader. Jadi apa yang disarankan di buku-buku leadership itu bukan hanya mendengarkan apa kata-kata karyawan kita. Kalo hanya itu, namanya mendengarkan secara pasif. Kita juga musti mampu ‘mendengar’ berbagai perasaan, harapan, values, dan beliefs mereka tentang hal yang mereka katakan atau ceritakan, dan menggunakannya untuk memberdayakan kemampuan mereka. Maka tidak heran bila kemampuan ini lah yang membedakan antara leader hebat dengan yang biasa saja.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.