Coaching 101 – Mendengarkan secara Aktif

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Saya yakin sudah banyak sekali literatur tentang leadership yang mengatakan bahwa seorang leader itu musti lebih banyak lagi mendengarkan. Berbagai survei juga sudah dilakukan dan salah satu hal yang musti dikuasai seorang leader adalah kemampuan mendengarkan. “Banyak mendengarkan dan berhenti bicara”, begitu saran para guru leadership.

 

Nah, bukankah setiap saat kita mendengarkan? Kalo gak mendengarkan bagaimana kita bisa tahu apa-apa yang disampaikan karyawan? Jadi, kemampuan mendengarkan yang seperti apa lagi?

 

Sekarang saya tanya, ketika sedang mendengar kata-kata karyawan Anda, informasi yang mereka sampaikan, berapa persen yang Anda tangkap? 100%? Yakin? Ada seorang manajer yang bahkan berani mengatakan dia mampu mendengar bahkan mengingat hampir semua yang karyawannya katakan. Oke, dia mungkin memang sanggup mendengar dan ingat hampir semua kata-kata. Dan tahukah Anda, bahkan ketika ingat semua kata-kata yang diucapkan, sebetulnya kemampuan mendengarkan kita baru sekitar 20-30%?

 

Jadi, apa dong yang 70-80%-nya? Nah, ini menariknya. Seorang pendengar yang baik tidak hanya sekedar mendengar semua kata namun juga dia mampu mendengar kata-kata kunci, yaitu kata-kata yang dianggap penting oleh orang tsb. Ini merupakan informasi yang relevan untuk dieskplorasi lebih lanjut.

 

Bagaimana kita tahu kata-kata kunci itu? Kita tahu karena kita mampu mendengar bagaimana kata-kata itu diucapkan. Bagaimana disampaikannya, dikatakannya, dll. Hal ini dipengaruhi beberapa elemen, yaitu suara dan bahasa tubuh yang mengatakannya. Suara bisa dari kecepatan, naik turun, volume, penekanan, dll. Bahasa tubuh terdiri dari ekspresi wajah, gerakan tangan, posisi tubuh, dll. Pendengar yang baik mampu membedakan kata-kata yang diucapkan secara normal, dengan kata-kata yang diucapkan dengan intonasi suara tertentu, ekspresi wajah tertentu, dll, yang artinya kata-kata itu penting buat dia, atau mengandung muatan emosi.

 

Nah, inilah yang seorang coach musti latih. Dia musti menguasai keahlian mendengarkan secara aktif, yaitu mendengar dan aktif menangkap kata-kata kunci yang coachee-nya ceritakan. Bila sudah mampu melakukan ini, maka seorang coach pada akhirnya akan bisa mendapatkan dan mengungkap berbagai perasaan, maksud, values, serta beliefs coachee di balik apa yang dia katakan. Dan ini adalah faktor penting agar bisa menciptakan AHA moment. Kemampuan ini akan banyak dipelajari di program coaching 66 jam.

 

Nah balik lagi sebagai seorang leader. Jadi apa yang disarankan di buku-buku leadership itu bukan hanya mendengarkan apa kata-kata karyawan kita. Kalo hanya itu, namanya mendengarkan secara pasif. Kita juga musti mampu ‘mendengar’ berbagai perasaan, harapan, values, dan beliefs mereka tentang hal yang mereka katakan atau ceritakan, dan menggunakannya untuk memberdayakan kemampuan mereka. Maka tidak heran bila kemampuan ini lah yang membedakan antara leader hebat dengan yang biasa saja.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Kesadaran Baru dalam Coaching

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Teman-teman, saya ingin melanjutkan mengenai AHA Moment. Pada tulisan sebelumnya saya telah menjelaskan pengertian dan proses terjadinya AHA Moment di diri coachee. Kali ini saya ingin menjabarkan secara ringkas faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya AHA Moment.

 

Bila mengacu pada 11 Kompetensi Inti dari ICF, terjadinya kesadaran baru di diri coachee merupakan efek atau akibat dari berbagai proses dari berbagai kompetensi lainnya yang musti dikuasai oleh seorang Coach berbasiskan ICF. Jadi, coachee tidak akan mendapatkan awareness apa-apa bila coach-nya tidak bisa mempraktikan berbagai kompetensi tsb.

 

Apa saja kompetensi yang akan berefek pada terciptanya sebuah kesadaran baru?

 

Hal yang paling pertama adalah seorang coach musti mampu mengakses intuisinya dalam proses coaching. Dari sekian banyak informasi yang diberikan oleh coachee, dia musti bisa menemukan yang mana saja yang relevan untuk diproses, yaitu dengan memfasilitasi coachee untuk mengintegrasikannya. Coach melakukan hal tersebut dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ampuh, memberikan umpan balik, atau membingkai ulang (reframing) sehingga akhirnya terciptalah berbagai kemungkinan dan pembelajaran baru yang lebih jelas di kepala coachee. Pada intinya, dia memprovokasi proses berpikir kreatif coachee.

 

Untuk itu, seorang coach musti mempertajam intuisinya, melatih kemampuan mendengarkan secara aktif, selalu mengajukan pertanyaan yang tajam, tidak lupa memberikan umpan balik, dan pandai-pandai membingkai ulang berbagai informasi.

 

Wah, sepertinya banyak sekali kemampuan yang musti dikuasai seorang coach ya. Pada tulisan-tulisan selanjutnya saya akan memberikan berbagai tips untuk tiap hal di atas.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – The AHA Moment

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Teman-teman, hal yang saya suka, dan mungkin yang membedakan metode coaching dengan mode lainnya, adalah penekanan untuk menciptakan AHA moment di diri coachee. Saking pentingnya AHA moment ini, Kompetensi Inti dari ICF menstandarisasikannya sebagai kemampuan yang musti dimiliki oleh seorang Coach profesional yang berbasiskan ICF.

 

Mengapa ICF memandang hal ini penting? Karena AHA moment merupakan bentuk motivasi internal yang akan mendorong coachee untuk melakukan perubahan dan tindakan baru. Bagaimana jadinya bila Anda sebagai leader memiliki kemampuan ini kepada team Anda? Tentu hasilnya akan dahsyat ya.

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga level PCC, kemampuan menciptakan AHA moment di diri coachee masuk ke dalam Kompetensi Inti Creating Awareness atau Meciptakan Kesadaran.

 

Kesadaran baru atau AHA moment dalam diri coachee akan terjadi ketika seorang Coach mampu untuk mengidentifikasi apa yang menjadi masalah coachee yang paling mendasar, mengungkapkan persepsi yang selama ini diyakini coachee tentang diri dan dunianya, serta membuat coachee menyadari bedanya antara persepsinya tsb dengan fakta yang ada.

 

AHA moment juga tercipta ketika seorang Coach mampu memfasilitasi coachee-nya menemukan pemikiran, keyakinan, persepsi, dan emosi baru yang lebih memberdayakan untuk dirinya.

 

Sebetulnya apa sih yang terjadi di dalam pikiran coachee? Pernahkah Anda mendapatkan AHA moment? Bagaimana rasanya?

 

Tahukah Anda bahwa fungsi dasar otak kita adalah mengasosiasikan, mengkoneksikan, dan mentautkan berbagai informasi satu sama lain. Kesadaran baru itu sebetulnya adalah sebuah momen ketika berbagai informasi yang sebelumnya tidak ‘nyambung’ tiba-tiba ‘menyatu’ dan membentuk suatu ide baru. Ini adalah titik terbentuknya peta baru di pikiran kita, sebuah terobosan. Seolah kita melihat sebuah titik terang, membuat ekspresi wajah dan suara kita berubah, sehingga kita pun terdorong untuk melakukan sesuatu.

 

Lalu apa saja yang mempengaruhi terciptanya AHA moment atau kesadaran baru di diri coachee? Saya akan lanjutkan di tulisan berikutnya.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Menunjukan Keyakinan Anda

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Teman-teman, ketika Anda pernah menjadi karyawan, bagaimana atasan Anda memperlakukan Anda? Apakah dia selalu menunjukan keyakinan kita akan berhasil? Ataukah dia menunjukan kesangsian akan kemampuan kita setiap saat? Atasan seperti apa yang Anda suka? Yang memotivasi Anda? Dan yang mana menurut Anda yang akan lebih mungkin meningkatkan kinerja Anda?

 

Pemimpin hebat mampu mengeluarkan kehebatan team-nya. Saya yakin Anda setuju dengan pernyataan ini. Hanya, tidak banyak yang benar-benar mempraktikannya. Bukannya mereka tidak mau, kemungkinan besar mereka tidak tahu caranya. Padahal, pemimpin yang menghasilkan kinerja tinggi sangat dipengaruhi kemampuan dia untuk itu.

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang bagaimana kita bisa mengeluarkan kehebatan coachee, dan ternyata kemampuan tsb sangat bisa diterapkan di di organisasi. Kompetensi inti seorang Coach berkaitan dengan hal ini adalah Establishing Trust and Intimacy, atau Membangun Rasa Percaya dan Keakraban.

 

Satu hal penting agar kehebatan coachee muncul, adalah kita sebagai coach-nya musti YAKIN bahwa coachee Anda adalah hebat. Untuk itu, ada dua perilaku di Membangun Rasa Percaya dan Keakraban, yaitu : Coach musti mampu menunjukan kepedulian yang tulus terhadap coachee dan terus menerus memberikan dukungan terhadap perilaku atau tindakan baru, termasuk yang beresiko tinggi untuk gagal.

 

Jadi berkaitan dengan kompetensi di atas bila diterapkan sebagai seorang leader, jika Anda ingin team Anda berhasil maka pertama Anda HARUS yakin bahwa team Anda hebat. Kemudian jika Anda ingin team Anda hebat, Anda HARUS mengkomunikasikan ke mereka bahwa mereka adalah hebat. Bukan hanya lewat ucapan, namun juga melalui nada suara, postur, bahasa tubuh, ekspresi Anda. Bila Anda yakin team Anda hebat seharusnya kan memang Anda akan memperlakukan mereka seperti itu.

 

Ini merupakan proses berantai: Anda YAKIN dengan kehebatan team Anda, yang membuat sikap dan perilaku Anda kepada mereka menjadi lebih positif sedemikian sehingga mereka menunjukan kehebatannya itu. Ketika Anda meyakini mereka akan gagal, mereka akan gagal, dan ketika Anda meyakini mereka akan berhasil, mereka akan berhasil. Luar biasa kan?

 

Ya pastinya bukan hanya metode di atas yang akan membuat team berhasil. Masih ada faktor-faktor lain yang musti Anda lakukan sebagai pemimpin. Metode di atas lebih kepada pendekatan dari sisi ‘manusiawi’nya. Dan memperlakukan team atau karyawan secara manusiawi menjadi syarat pertama agar mereka mau mengeluarkan potensinya.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Mengetahui Apa yang Memotivasi Seseorang

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Teman-teman, terkadang kita salah sangka, bila seseorang tidak melakukan sesuatu karena dia tidak memiliki ketrampilan atau kemampuan untuk melakukannya, atau bahkan kita biasa melabelnya sebagai pemalas. Padahal, besar kemungkinannya bahwa karena dia tidak memiliki values yang sesuai untuk memotivasinya untuk bergerak.

 

Values adalah hal-hal yang dianggap penting oleh seseorang. Karena seseorang menganggap penting suatu hal, maka tentunya dia akan melakukan segalanya, baik itu yang dia sadari atau yang dia tak sadari, untuk memenuhi values tersebut. Dengan kata lain, values menjadi pendorong motivasi dalam dirinya untuk melakukan suatu kegiatan atau perilaku tertentu.

 

Bagaimana cara mengetahui values seseorang?

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang values atau nilai diri. Beragam values tersembunyi di tiap perilaku atau aktivitas yang dilakukan manusia. Values juga digunakan untuk mengambil keputusan manusia. Values membuat seseorang terdorong dan termotivasi kuat dalam sebagian hidupnya. Values adalah motivation driver seseorang. Bayangkan manfaatnya bila Anda mengetahui values para karyawan Anda.

 

Ada berbagai teknik yang kita bisa lakukan untuk mengetahuinya. Yang paling mudah adalah dengan bertanya, “apa yang penting dari…(sebut perilaku, passion, atau impian seseorang). Bila dia masih menjawab dalam bentuk perilaku atau alasan-alasan, terus tanyakan lagi, “apa yang penting dari itu?” “apa yang Anda dapatkan dari semua itu?” “Apa yang Anda kejar?”, “Nilai-nilai apa yang Anda ingin tegakan dengan melakukan itu?” dll. Pastikan dia akhirnya menjawab dalam bentuk kata benda abstrak.

Kita juga bisa mengetahui values seseorang dari pembicaraannya tentang suatu hal. Perhatikan bagaimana intonasinya ketika menyebutkan kata-kata tertentu, atau mungkin dia sering mengulanginya, dan perhatikan juga ekspresi wajahnya atau gerakan tangan/tubuhnya saat dia mengucapkannya. Untuk lebih memastikan, Anda bisa bertanya, “Oh, jadi kesetiaan penting buat Anda?” Bila dia mengkonfirmasinya jelas itu merupakan salah satu values-nya.

Values terdapat di berbagai konteks dalam hidup seseorang. Misalkan apa yang kita anggap penting dalam konteks pekerjaan mungkin berbeda dengan dalam konteks berkeluarga, kesehatan, pengembangan diri, bermasyarakat, dan seterusnya. Sehingga jelaslah mengapa seseorang begitu tegas dan gigih dalam memimpin perusahaannya, namun lembut dan penyayang bila bersama keluarganya. Semua itu karena beroperasi jenis values yang berbeda-beda dalam berbagai konteks yang berbeda.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita

korpora coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Keselarasan Business Mindset

Selamat pagi dan apa kabar?

 

Ada sepasang suami istri yang menjalankan sebuah bisnis bersama di bidang jasa perencanaan keuangan. Untuk memasarkannya, mereka mendatangi target market, baik itu yang individu maupun yang organisasi.

Suatu hari mereka menemui seorang Coach dan menceritakan masalah mereka yaitu sejak 3 bulan terakhir belum berhasil mendapatkan klien ideal.

 

Sang istri memiliki keyakinan bahwa tiap menemui orang itu adalah peluang bisnis. Mungkin tidak closing di pertemuan pertama dan mungkin juga closing. Karena ini adalah jasa profesional dia juga meyakini musti menjalin kepercayaan dan keakraban dulu dengan prospek klien dan hal ini memang perlu waktu, namun tetap berharga untuk dilakukan.

 

Sang suami meyakini semua hal harus dibuat perencanaan yang matang dan pasti sejak awal. Menurutnya menemui seseeorang tanpa tujuan yang jelas dan hanya sekedar “saying hello” adalah buang-buang waktu. Tidak perlu basa basi terlalu lama, langsung saja bahas bisnis.

 

Nah, bisa kita bayangkan apa yang terjadi dengan aktivitas bisnis mereka tiap harinya? Ada value peluang vs kepastian, dan orientasi relationship vs task.

 

Ini adalah salah satu contoh situasi yang biasa terjadi bila kita menjalani bisnis dengan pasangan hidup atau rekan bisnis. Dan pasti juga akan biasa terjadi dalam situasi antara Anda sebagai atasan dengan karyawan, antara karyawan-karyawan Anda, atau bahkan antara Anda dengan atasan yang lain beda divisi.

 

Sukses tidaknya keberhasilan di pekerjaan satunya dipengaruhi dengan cara-cara dan berbagai keputusan yang kita dan rekan kita buat. Untuk itu keselarasan dalam visi, misi, goals, dan values dalam bekerja antara kita, pasangan, karyawan, dan kolega kita amatlah penting.

 

Jadi mulailah kita evaluasi apakah kita dan mereka sudah memiliki mindset yang selaras dalam bekerja? Bila belum lakukan penyelarasan, paling tidak di dalam diri kita dulu.

 

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang konflik internal dan menselaraskannya. Apa bila ada “suatu bagian” dalam diri kita yang tidak selaras dengan yang lain, akan ada rasa penolakan-penolakan dalam diri kita, seolah diri kita ditarik kesana kesini, seperti terbelah dua. Hal inilah yang biasanya kinerja kita tidak maksimal.

 

Pada intinya, menselaraskan berbagai konflik tersebut adalah sebagai berikut:

 

Tempatkan posisi kita di posisi pihak yang berbeda mindset dengan kita (bisa diri sendiri, rekan kerja, karyawan, dll). Jadilah diri dia. Lalu sebagai dia, kita cari apa niat tertinggi dari mindsetnya itu. Apa yang penting dari mindset dia, mengapa itu penting, dan terus gali lagi apa pentingnya itu hingga sampai level tertinggi.

 

Setelah itu, kembali ke posisi diri kita dan hadirkan mindset kita sendiri. Dengan cara yang sama, kita cari apa niat tertinggi dari mindset kita itu. Apa yang penting dari mindset kita, mengapa itu penting, dan terus gali lagi apa pentingnya itu hingga sampai level tertinggi.

 

Lalu, selaraskan antara dua niat tertinggi ini. Caritahu bagaimana keduanya akan bisa saling menunjang dan saling melengkapi. Sadari bahwa kedua niat tertinggi itu sebetulnya adalah positif dan tidak saling bertentangan.

 

Bila sudah ketemu, tentukan langkah action plan selanjutnya. Mudah kan? Tentunya dalam pelatihan coaching 66 jam akan dipandu langkah-langkah melakukannya dengan LENGKAP dan FUN.

 

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Motivasi

Selamat pagi dan apa kabar?

Sebelum sesi coaching, seorang klien saya mengatakan bahwa dia berhasil mencapai prestasinya di pekerjaan melalui proses yang penuh perjuangan. Dia pun mengatakan bahwa untuk sukses memang perlu dijalankan dengan penuh kerja keras. Saya menggali lebih jauh apa yang dia maksud dengan “penuh perjuangan”, dia pun menjelaskan dalam prosesnya, leadernya selalu mem-followup tiap hari, menegurnya dengan keras dan tidak jarang menyindir bahkan mendendanya bila tidak menjalani komitmen. Menurutnya cara seperti itu efektif untuk dia.

Ketika kami diskusikan lebih dalam, ternyata dia mengakui bahwa sebetulnya dia tidak begitu “enjoy” dengan cara itu karena dia termotivasi oleh atasannya atas dasar “tidakenakan”, bahkan “keterpaksaan”. Ini yang biasa dinamakan “motivasi eksternal”. Dia ingin agar prosesnya lebih nyaman namun tetap dengan “kecepatan tinggi”.

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang motivasi. Pada dasarnya ada jenis motivasi yang sifatnya sementara, dan ada juga motivasi yang sifatnya lebih permanen. Dan dalam peran kita sebagai pimpinan atau leader, kemampuan untuk menemukan dan menggunakan “hot button” yang memotivasi karyawan kita adalah ketrampilan yang sangat berguna, sehingga kita mampu menggerakkan mereka untuk berkinerja dengan lebih mudah dan nyaman.

Apakah Anda tertarik?

Nah, mari kita kembali ke cerita klien tersebut:

Selama beberapa kali sesi coaching, kami berhasil menemukan cara agar klien mengejar prestasinya dengan lebih menyenangkan dan tidak se-“painful” sebelumnya. Saya memfasilitasi dia untuk menselaraskan pentingnya mengejar prestasi terhadap values dan jati dirinya, bahkan terhadap visi dan misi hidupnya.

Dia pun melaporkan bahwa sekarang hidup dia jauh lebih menyenangkan, leadernya heran karena dia mengejar prestasinya dengan kecepatan tinggi tanpa harus terus menerus dipantau. Dia bilang arti hidup dan pekerjaannya jauh lebih “clear” karena dia telah menemukan motivasi internalnya yang bekerja dengan lebih permanen.

Saya yakin, Anda pernah melakukan sesuatu atas dasar “keterpaksaan”, atau istilah halusnya “keharusan”. Kita berhasil mengerjakannya, namun at the end of the day kita merasa letih secara mental. Bahkan, ketika apa yang menjadi “keharusan” itu sudah tidak ada, maka kita pun berhenti melakukan hal tersebut, ini adalah motivasi yang sifatnya sementara.

Di lain pihak, saya juga yakin Anda pernah melakukan sesuatu pekerjaan yang kesannya ‘gak ada capek”nya. Bersemangat terus dan fokus hingga berhasil. Ini artinya Anda bekerja berdasarkan apa yang disebut “motivasi internal”. Sifatnya lebih permanen, bahkan bila “keharusan” sudah tidak ada namun karena sudah clear dengan motivasi internal Anda, maka sifatnya akan jauh lebih permanen.

Bagaimana caranya agar kita bisa menggunakan motivasi internal karyawan untuk bekerja? Tahapannya cukup simple kok.

Pertama, Anda musti menemukan apa yang menjadi nilai-nilai penting dalam hidupnya, apa yang dia anggap penting. Anda juga perlu mengetahui citra diri dia, bahkan bila pelu visi dan misi hidup dia.

Setelah dapat, tugas Anda selanjutnya adalah mengkonekkan kesemua itu dengan pekerjaan yang dia harus lakukan. Fasilitasikan dia agar bisa melihat dengan jelas “untungnya” melakukan pekerjaan tsb dikaitkan dengan apa yang penting dalam hidup dia, citra diri dia, serta vis idan misi dia.

Rasanya rumit ya melakukannya, dan dalam program coaching 66 jam Anda akan belajar tentang hal ini dengan LENGKAP dan FUN kok.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora coaching pratitioner certification program

Coaching 101 – Membangun Kepercayaan

Apa kabar?

Pernahkah Anda berada di dalam sekumpulan orang yang saling curiga? Bagaimana rasanya berinteraksi dengan mereka? Atau pernahkah Anda merasa kurang percaya dengan atasan? Apakah Anda bisa bekerja dengan optimal dalam situasi seperti itu? Apakah Anda akan nyaman dan terbuka dengan dia?

Sekarang, kebalikannya: apakah karyawan Anda merasa nyaman dan percaya dengan Anda?

Setiap hubungan antar manusia, selalu musti diawali dengan rasa saling nyaman dan percaya agar bisa berjalan dengan baik. Dengan kadar yang tepat, rasa nyaman dan percaya akan memperlancar pekerjaan lho. Karyawan Anda akan terbuka menceritakan berbagai permasalahan dan kendala, dan Anda bisa mendapatkan informasi yang akurat untuk bisa mengambil kesimpulan dan tindakan yang paling tepat.

Bila kita mengacu ke kompetensi inti yang musti dikuasai seorang Coach, membangun rasa percaya masuk dalam kompetensi inti Establishing Trust and Intimacy, atau Membangun Rasa Percaya dan Keakraban.

Ini adalah kemampuan sangat penting dan musti dipraktikan oleh seorang Coach mulai dari perkenalan awal dengan klien, menggali kebutuhan, menjelaskan coaching, bahkan musti terus menerus dilakukan di setiap sesi coaching.

Tanpa mempraktikannya, maka semua kompetensi lainnya akan tidak maksimal. Misal, semua teknik bertanya tidak akan berdampak, klien tidak akan mendapatkan kesadaran baru, dll. Bahkan klien yang pasif atau resisten dalam sesi coaching, besar kemungkinan karena dia belum merasa percaya dan akrab dengan Coach-nya. Masuk akal kan?

Apabila sudah berlatih membangun rasa percaya dan keakraban di program coaching 66 jam, maka kita akan bisa mempraktikannya di berbagai gaya kepemimpinan, jadi bukan hanya saat sedang meng-coaching saja.

Ada banyak cara mempraktikan kompetensi ini sebagai atasan di perusahaan Anda diantaranya adalah:

Tunjukkan kepedulian yang tulus, terutama kepada masa depan dan kondisi karyawan.

Praktikan integritas diri Anda. Buat aturan-aturan yang transparan, penuhi janji-janji, lakukan apa yang kita katakan, serta jujurlah kepada mereka.

Walaupun tidak selalu sepakat, tetap hormati dan hargai sudut pandang karyawan.

Apabila kita terus menerus menerapkan hal-hal di atas, maka level kepercayaan karyawan dengan kita akan meningkat sehingga akan berdampak positif pada kinerjanya.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

korpora Coaching practitioner certification program

Coaching 101 – Melatih Team Anda Berpikir Kreatif

Coaching 101 – Melatih Team Anda Berpikir Kreatif

Selamat pagi dan apa kabar?

Teman saya yang seorang manajer di sebuah perusahaan perkapalan pernah curhat: “Bro, anak buah gue kok pada sulit berkembang ya? Maksud gue, mereka terlalu bergantung dengan gue. Tiap ada masalah selalu nanya padahal gue udah sering ngajarin dan kasih tahu ke mereka. Tapi bila mereka menghadapi masalah baru, pasti tanya ke gue lagi gue lagi. Lama2 capek juga dan hanya memikirkan hal itu itu aja, kayak gak ada kemajuan gitu. Gimana nih kalo kayak gini?”

Saya yakin Anda pasti pernah mengalami hal seperti ini, kan?

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan banyak hal menarik tentang meningkatkan proses berpikir kreatif. Sebagai seorang atasan atau Leader, tugas Anda bukan hanya memastikan pekerjaan selesai namun juga musti mendidik team Anda agar lebih mandiri dan kreatif.

Mengapa? Karena bila team sudah mampu berpikir kreatif secara mandiri, mereka akan sanggup menyelesaikan problem-problem sehari-hari, sehingga tidak banyak bergantung dengan Anda. Akibatnya Anda menjadi punya banyak kebebasan waktu untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang lebih strategis untuk memajukan perusahaan. Akhirnya peran Anda sebagai atasan dan leader akan dipandang berhasil oleh perusahaan. Menarik kan?

Lalu bagaimana caranya?

Sebelum saya jelaskan, ini ada testimoni dari salah satu manajer sales yang pernah belajar coaching skill 6634 jam (saya sudah ringkaskan):

“Pak, ternyata cara-cara bertanya yang diajarkan di kelas coaching program memang ampuh ya. Gak nyangka juga. Padahal saya gak lengkap mempraktikan cara meng-coaching-nya, hanya dengan bertanya-tanya. Awalnya sih memang lama ya prosesnya, sekitar 45 menitan untuk menggali solusi dari team saya. Biasanya klo saya langsung kasih jawaban paling hanya 5 sampai 10 menit. Setelah 2 bulanan baru kelihatan kemajuannya. Sekarang kalo saya gali mereka dengan 3-5 pertanyaan aja mereka sudah langsung dapat solusinya, jadi tanya jawab hanya 10 menitan. Dan frekuensi mereka datang untuk minta solusi jauh berkurang daripada dulu.”

Jadi apa bedanya? Tujuan utama coaaching adalah memfasilitasi self discovery melalui proses berpikir kreatif yang di-coaching. Namanya juga self discovery, pasti maksudnya adalah dialah yang akan menemukan solusinya sendiri. Lalu proses berpikir kreatifnya dengan cara apa? Yaitu dengan teknik dan cara bertanya yang ampuh, yang diajarkan di kelas coaching 66 jam itu, yang merupakan salah satu dari 11 kompetensi inti seorang coach.

Bila yang di-coaching sudah semakin sering kita latih dengan ditanya-tanya seperti itu, neurologi pikirannya akan terbiasa untuk berpikir kreatif. Setelah beberapa lama, pikirannya malah melakukan self coaching. Makai gak heran nanti ketika hanya dipancing dengan beberapa pertanyaan saja pikirannya langsung aktif berpikir secara kreatif untuk menemukan beberapa alternatif solusi. Hebat ya.

Dan apa efeknya ini untuk Anda sebagai leader atau pimpinan? Lama kelamaan waktu Anda untuk mengurusi problem solving sehari hari akan semakn berkurang, sehingga Anda bisa mulai memikirkan hal-hal yang lebih Hb sebagai seorang leader.

Ya. Belajar Coaching Skill 66 Jam secara lengkap dan fun akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

Coaching 101 – Tips memberikan feedback

Selamat pagi dan apa kabar?

Bayangkan bahwa Anda baru saja memberikan feedback kepada karyawan Anda. Anda memberi tahu dia bahwa laporannya bagus, lalu Anda juga memberi saran agar dia memperbaiki cara dia menelepon customer. Lalu Anda mengecek satu bulan kemudian, namun belum ada perubahan. Laporannya bulan ini tidak sebagus laporan sebelumnya. Dan cara dia menelpon customer semakin buruk. Ketika Anda tanya, ternyata dia tidak paham apa yang musti diperbaiki.

Apakah Anda pernah mengalami hal seperti ini?

Ketika saya mempelajari ketrampilan coaching dan mendalaminya hingga ke level PCC, saya menemukan hal-hal menarik tentang memberikan umpan balik. Saran atau pujian, yang merupakan suatu bentuk umpan balik, ternyata musti dilakukan dengan cara yang benar sehingga memberikan dampak positif untuk team kita.

Mengapa? Karena memberikan umpan balik dan apresiasi merupakan sarana yang sangat bagus untuk men-develop kinerja team kita. Dan apabila team kita sudah menjadi lebih baik kinerjanya, pada akhirnya kita juga yang akan menikmati hasilnya.

Lalu bagaimana caranya?

Bila kita mengacu ke kompetensi inti yang musti dikuasai seorang Coach, memberi umpan balik adalah masuk dalam kompetensi inti Direct Communication.

Kompetensi Inti dari ICF ini ada 11, dan ternyata selain merupakan standar yang musti dikuasai oleh seorang Coach profesional, ternyata semuanya itu bisa lho diadopsi oleh para Leaders di perusahaan. Begitu juga tentang Direct Communication, dalam hal ini memberikan umpan balik.

Direct Communication pada intinya adalah sebuah kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan memberikan dampak positif yang besar.

Nah, artinya seorang Leader musti mampu memberikan umpan balik yang efektif dan berdampak positif yang besar untuk team-nya.

Efektif itu yang seperti apa?

Pertama, kita musti pastikan waktu dan suasananya paling tepat, jangan terlalu lama dan jangan juga saat suasana hati kita sedang panas.

Lalu jelaskan secara spesifik dan jelas apa yang sudah bagus dan apa yang musti ditingkatkan, sehingga team kita paham apa yang mereka musti lakukan selanjutnya. Jangan lupa untuk memberi tahu mereka mengapa itu penting dan apa dampak-dampaknya.

Sudah banyak para manajer perusahaan yang telah belajar coaching skill 66 jam telah membuktikan aplikasinya, bukan hanya saat melakukan coaching namun saat memimpin.

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara lengkap dan fun akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.