Coaching 101 – Coaching Mindset

Selamat pagi dan apa kabar? masih mengenai coaching, kali ini akan dibahas mengenai mindset coaching. apa itu? baca ya artikel ini sampai habis.

 

Agar bisa melakukan coaching dengan efektif, kita musti memiliki pola pikir yang paling tepat mengenai kemampuan manusia.

 

Untuk itu, silahkan lakukan aktivitas ini:

mindset

Pikirkan seseorang yang sering bekerja bersama Anda, apakah itu staf atau rekan kerja Anda. Lalu coba memakai beberapa pola pikir berikut ini satu per satu. Tetap menggunakan setiap pola pikir tsb selama beberapa saat, sembari memperhatikan perasaan apa yang muncul dalam diri Anda:

 

  1. “Orang ini adalah sumber masalah”
  2. “Orang ini bermasalah”
  3. “Orang ini sulit berubah”
  4. “Orang ini sedang dalam fasa belajar dan sebenarnya penuh potensi”

 

Apa yang Anda amati mengenai setiap mindset di atas?

Emosi atau perasaan apa saja yang muncul dalam diri Anda?

Pola pikir yang mana yang cenderung Anda gunakan tiap harinya?

 

Bila kita ingin memfasilitasi perubahan positif kepada orang lain melalui coaching, kita mengubah pendapat kita mengenai orang tsb. Apa pun yang kita pikirkan tentang orang tsb maka akan tercermin dari sikap kita kepadanya, baik kita sadari atau tidak, dan hal ini akan membawa dampak yang sangat besar terhadap dia. Bagaimana Anda bisa membina orang lain menjadi lebih baik kalau pikiran Anda tentang dia sudah pesimis?

 

Pilihlah coaching mindset yang paling berguna, yang akan mendukung coachee kita untuk yakin dengan dirinya sendiri dan memotivasinya untuk berkembang.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. ADithia Amidjaya, PCC

Coaching adalah Bentuk Pelaksanaan dari Kecerdasan Emosi

Selamat pagi dan apa kabar? pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai kecerdasan emosi berkaitan dengan coaching yang kita lakukan terhadap coachee.

 

Saya yakin teman-teman sudah sangat familiar dengan istilah kecerdasan emosi (emotional intelligence). Semenjak buku Daniel Goleman tentang hal ini terbit pada tahun 1995,  hal ini menjadi diakui bahkan sampai ke tahap diharuskan dalam dunia pekerjaan dan profesional.

 

Sebelum membahas kaitan coaching dengan kecerdasan emosi lebih lanjut, silahkan lakukan latihan berikut ini:

kecerdasan emosi

Silahkan mengingat kembali seseorang yang Anda merasa nyaman dengannya. Sudah? Nah, ketika dia sedang bersama Anda:

 

  1. Apa yang dia lakukan kepada Anda?
  2. Bagaimana perasaan Anda?

 

Silahkan jawab.

 

Latihan ini sebetulnya sudah digunakan oleh Sir John Whitmore dalam memperkenalkan dan mengajarkan coaching di seluruh dunia. Dari sekian banyak jawaban, berikut adalah yang paling konsisten muncul:

 

Orang tersebut:

  1. Mendengarkan saya
  2. Mempercayai saya dengan tulus
  3. Menyemangati saya
  4. Menghargai saya
  5. Memberikan perhatian penuh pada diri saya
  6. Memperlakukan saya sederajat dengannya.

 

Sehingga saya merasa:

  1. Spesial
  2. Dihargai
  3. Percaya diri
  4. Diperhatikan
  5. Didukung
  6. Bersemangat

 

Jadi, semua jawaban di atas adalah tentang hal tersebut, yaitu tentang ketrampilan sosial dan hubungan antar manusia.

 

Dan ternyata 11 kompetensi inti coaching adalah berkaitan dengan kecerdasan emosi semuanya. Silahkan Anda pelajari kembali definisi dari kesebelas kompetensi tsb, pasti pada prinsipnya adalah kecerdasan emosi.

 

Jadi coaching bukanlah sekedar teknik, ini adalah cara untuk memimpin. Bahkan, ini adalah cara untuk memperlakukan orang lain, bagaimana kita menjalin hubungan di tempat kerja, dan di kehidupan yang lebih luas lagi.

 

Dengan coaching, kita bukan hanya membina dan mengembangkan karyawan. Kita juga belajar mempraktikan kecerdasan emosi secara nyata sehingga menjadi life skill yang dibutuhkan dalam hubungan antar manusia.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Questions Continuum

Selamat pagi dan apa kabar? masih mengenai questions atau pertanyaan, kita akan mempelajari lebih lanjut melalui artikel berikut ini.

 

Di Kompetensi Inti ICF, salah satu kemampuan yang musti dikuasai seorang Coach adalah Powerful Questioning. Faktor utama adalah proses bertanya yang powerful, yaitu yang menciptakan AHA moment atau kesadaran baru. Selain itu, memilih kata tanya dan bentuk pertanyaan yang tepat juga sangat menentukan efektifnya coaching.

 

Mengetahui berbagai jenis dan model pertanyaan itu penting dan bagus untuk seorang coach. Dengan proses yang benar sehingga memberikan dampak yang powerful untuk diri coachee.

 

Sekarang saya memperkenalkan yang namanya *Questions Continumm*. Intinya adalah sederetan kata tanya/bentuk pertanyaan mulai dari yang sangat tidak powerful hingga yang paling powerful.

 

Silahkan lihat gambar di bawah ini:

korpora coaching practitioner certification program

 

Bila kita perhatikan, ujung yang paling kiri adalah bentuk closed questions, atau bentuk pertanyaan yang hanya memberikan jawaban YA atau TIDAK. Ini adalah bentuk yang dianggap sangat tidak powerful. Bukannya tidak boleh digunakan sama sekali. Tetap bisa, biasanya digunakan untuk mengkonfirmasi setelah melakukan probing.

 

Ujung yang paling kanan adalah pola pertanyaan “What if”, dan dianggap paling powerful. Seperti yang telah kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, jenis pertanyaan ini memicu proses berpikir kreatif coachee hingga dia menemukan kesadaran baru.

 

Yang menarik adalah pertanyaan “WHY” karena ada tanda bintang. Kita musti hati-hati menggunakan jenis pertanyaan ini. Bila keliru, malah akan membuat coachee defensif atau akan menjawab sesuai dengan yang dia pikir kita ingin dengar saja. Misal, apa biasanya jawaban dari pertanyaan “mengapa terlambat tiba di kantor?”

questions

Bentuk WHY yang powerful adalah untuk menggali values di balik pernyataan coachee. Misal, “Mengapa mendapatkan promosi manager ini begitu penting buat Anda?”

 

Baiklah, mudah-mudahan dengan penjelasan di atas kita akan lebih efektif lagi untuk menyusun pertanyaan yang paling ampuh memberdayakan coachee. Silahkan berlatih.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Belajar selling dari film Avengers:Endgame (5)

Peran strategi sales yang bagus akan sangat berperan dalam jumlah penjualan. Kita bahas ya mengenai What, where, when, who dan how nya ya. Apa yang bisa kita ambil dari film Avengers:Endgame ini bila dihubungkan dengan dunia sales dan selling.

 

Who / Siapa.

Mereka membagi tim menjadi 4 tim yang terdiri dari,

Tim A. Captain Ameica, Iron Man, Ant Man, dan Hulk

Tim B. Thor dan Rocket

Tim C. Nebula dan War Machine

Tim D. Black Widow dan Hawkeye

Strategi sales

Ini kerja tim, kita tidak bisa pergi ke semua tempat secara bersamaan. Kita melakukan selling pada tempat tertentu. Dengan adanya tim, penyebaran produk akan cepat terlaksana.

 

When & Where, (Kapan dan Dimana)

Disini mereka mengatur ke waktu dan ke lokasi mana mereka harus pergi, karena salah waktu dan lokasi bisa fatal akibatnya.

Tim A, Iron man, Captain Amerika, dan Ant Man pergi ke tahun 2012 New York (saat terjadinya film Avengers 1) dan 1970 (karena adanya masalah, akhirnya diputuskan kembali ke waktu dan tempat batu yang diinginkan itu ada)

Tim B, Thor ke Asgard pada tahun 2013 (ini kejadian film Thor Dark World)

Tim C, pergi ke tahun 2014 (kejadian pada film Galaxy of Guardian 1 dimulai) dan Tim D mereka pergi ke Vormir tahun 2014 juga, mereka kemasa dimana batu soul belum di dapat oleh Thanos. Karena ke efesienan waktu dan resource 2 tim ini pergi kemasa yang sama.

 

Waktu yang salah dalam melakukan selling hasilnya tidak baik. Timing cukup berperan dalam melakukan selling. Begitu juga lokasi yang dituju, kenapa kita melakukan selling di tempat itu. Tentu ada alasannya misal lokasi nya strategis. pemilihan strategi penjualan yang tepat akan sangat membantu tim sales dalam menjalankan tugasnya.

Kita bahas point yang lain ya pada pembahasan selanjutnya nanti.

Coaching 101 – Memberi Makna

Selamat pagi dan apa kabar? Sebagai mahluk.hidup, manusia suka memberi makna terhadap berbagai peristiwa dan informasi. Contohnya adalah, ketika ada seekor kupu-kupu masuk ke rumah, dimaknai akan ada tamu. Ketika mata kanan kita kedutan, apa yang Anda artikan? Hehe. Belum berbagai simbol, banyak sekali memberi makna yang manusia berikan.

memberi makna

Makna-makna yang manusia berikan terhadap berbagai hal bisa bagus bisa tidak. Ada makna yang memberdayakan dan ada yang malah menghambatnya. Karena apa? Tiap makna tersebut akan men-trigger berbagai emosi, baik itu yang negatif atau positif. Dan tentunya dari emosi akan men-trigger berbagai ucapan dan perilaku, dan akhirnya akan memberikan hasil.

 

Seorang coach musti peka terhadap berbagai pernyataan dan memberi makna yang coachee berikan. Hal ini bisa membuka kesadaran baru buat coachee tsb.

 

Contoh makna yang keluar dari pikiran coachee adalah:

 

“Boss selalu ketus saat bicara dengan saya, dia tidak menyukai saya.”

 

Sebagai coach, kita bisa mengeksplorasi lebih jauh dengan bertanya, misal:

 

  1. “Apakah benar, boss Anda tidak menyukai Anda?”
  2. “Apakah seseorang yang ketus kepada orang lain itu selalu berarti dia tidak menyukainya?”
  3. “Apakah ada/mungkinkah terjadi orang yang ketus kepada orang lain dan sebetulnya dia suka dengan orang itu?”
  4. DLL (mungkin Anda punya contoh pertanyaan lain?)

 

Mungkin coachee tidak langsung mengungkapkan apa yang dia artikan, maka bisa digali lebih jauh. Misal:

 

Coachee: “Boss selalu ketus saya bicara dengan saya.”

Coach: “Dan ketika Anda mengatakan boss selalu ketus saat bicara dengan Anda, apa artinya itu buat diri Anda?”

Coachee: “Dia tidak menyukai saya?”

Coach: melanjutkan dengan salah satu dari 3 contoh pertanyaan di atas.

 

Silahkan Anda latihan untuk mengeksplorasi sendiri berbagai arti yang telah Anda berikan kepada peristiwa dan informasi sehari-hari.

 

Belajar Program Sertifikasi Coaching ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Ekplorasi Agenda Coaching

Selamat Pagi. Saya yakin anda sering sekali membuat rencana mau melakukan apa hari ini yang disebut TO DO LIST. Jika diterjemahkan bebas artinya daftar yang dilakukan khususnya hari ini tapi herannya tidak dilakukan hihihi. Sudah cape cape dibuat dan tidak dilakukan. Kenapa begitu?

Coba ingat deh, ketika membuat TO DO LIST perasaan apa yang muncul? Perasaan dan imajinasi yang muncul pasti perasaan malas dan berat bahkan bisa saja ragu. Kok bisa?

 

Yuk contoh sederhana To Do List

  1. Mencuci mobil. Dijamin saat menulis mencuci mobil (dengan asumsi mencuci sendiri) maka muncul perasaan capek, perasaan malas dan sebagainya. Ya kan? Maka pasti anda tunda deh.
  2. Menelpon prospek. Dijamin muncul adalah mungkin orangnya bakal jutek, bakal galak dan sebagainya. Benarkan? Makanya anda bisa saja menunda mengerjakan sesuatu yang menyenangkan dan akhirnya tidak melakukan.

 

Kok bisa begitu? Bagaimana mengatasinya? Kalau masalah ini terus ada maka otomatis impian tidak akan terwujud dong. Betul banget! Apa nga sebel kaya gitu.

 

Cara mengatasinya ada dikelas NLP Unleashed Genius yang diadakan tgl 4 Mei 2019 yang mau tahu infonya bisa klik http://bit.ly/NLPUnleashedGeniusWithin biar bisa segera di TUNTASKAN.

 

Nah bagi yang belum PUTUSKAN, saya sharingkan caranya.

 

Dalam NLP ada konsep yang namanya Outcome list. Apa sih outcome ? Outcome adalah tujuan. Dan setiap outcome mempunyai 4 unsur didalamnya. Dimana salah satunya adalah dapat dinyatakan dengan panca indera dan dinyatakan dalam positif.

 

Nah ketika membuat Outcome list yang ditulis adalah hasil akhirnya bukan yang harus dilakukan (baca : To Do List) maka kita pakai contoh diatas

Mencuci mobil maka diganti menjadi melihat mobil telah bersih dan betapa menyenangkannya jika dilihat orang mobil bersih. Hmmm berbeda kan rasanya? 🙂

 

Jika memahami cara kerja pikiran dengan PAS dan TEPAT maka hidup menjadi LEBIH MUDAH tentunya. Lesatkan keGENIUSan anda maka hasil berbeda.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Coaching Outcome

Selamat pagi dan apa kabar? Coaching itu adalah sebuah proses untuk memaksimalkan potensi seseorang. Jadi, bukan hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul atau sesi curhat saja. Agar coaching ini memberikan dampak yang optimal, perlu ada kesepakatan agenda dan tujuan coaching. Ini yang menjadi acuan coach untuk memfasilitasi prosesnya. pada akhirnya akan dihasilkan outcome yang akan dicapai coachee. itu yang disebut coaching outcome.

 

Kompetensi Inti ICF mengenai hal ini adalah Establishing the Coaching Agreement, yaitu kemampuan untuk membangun kesepakatan coaching. Artinya, di awal tiap sesi coaching, seorang coach musti memastikan apa yang coachee-nya ingin bahas dan apa tujuan yang dia ingin capai di sesi itu.

coaching outcome

Biasanya, walaupun tidak selalu, seseorang yang datang ke sesi coaching dengan membawa masalah yang sedang dihadapi. Ketika ditanya apa yang dia ingin bahas, dia akan menceritakan masalahnya dengan panjang lebar.

 

Ini bisa menjadi jebakan untuk coach-nya. Ketika terbawa ke dalam konten, coach-nya hanya mengeksplorasi masalah tsb, dan lebih bahayanya adalah dia tanpa sengaja me-“leading” coachee ke solusi yang dia asumsikan sesuai dengan kebutuhan coachee.

 

Bila terjadi seperti itu, berarti coach-nya telah melanggar kode etik dan kompetensi Establishing Coaching Agreement di atas karena coaching berjalan menurut pada agenda coach, padahal seharusnya sesuai dengan agenda coachee.

 

Caranya agar mendapatkan agenda coachee adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sbb:

 

  1. “Berdasarkan apa yang Anda ceritakan tadi, apa yang Anda ingin dapatkan dari sesi kita hari ini?”
  2. “Berkaitan dengan pencapaian target Anda di akhir tahun, lalu hasil apa yang Anda inginkan dari coaching kita sekarang?”
  3. “Bila Anda tidak ingin [sebutkan inti masalah yang dia ceritakan], lalu apa yang Anda inginkan?”

 

Bisa jadi coachee tidak memahami pertanyaan kita. Misal, dari pertanyaan no. 2 di atas, coachee menjawab dengan tetap mengatakan, “ya itu tadi pak, saya ingin target saya tercapai di akhir tahun.” Maka kita bisa lanjutkan dengan:

 

Coach: “Menurut Anda, apakah setelah sesi kita ini selesai maka target Anda langsung tercapai?”

Coachee: “Ya enggaklah Pak, kan sekarang masih bulan Mei.”

Coach: “Nah, kalo gitu, apa yang Anda mau dapatkan di akhir sesi ini, berkaitan dengan keinginan Anda untuk mencapai target di akhir tahun nanti?”

Coachee: “Ooh iya. Saya ingin tahu bagaimana caranya…”

 

Pada akhirnya coachee akan jelas apa agenda yang dia ingin capai di akhir sesi coaching.

 

Yang musti diingat, jangan pernah melanjutkan percakapan coaching sebelum coachee bisa mengutarakan agendanya dengan jelas. Bila tidak, apa yang akan dibahas nantinya akan melebar bahkan mungkin akan mengarah kepada agenda yang coach-nya asumsikan saja.

 

Belajar Coaching Skill ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaa, PCC

Generalisasi – Coaching 101

Selamat Pagi dan Apa kabar? pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai Generalisasi dari sisi coaching. baca sampai selesai ya.

Teman-teman, pernah tidak terpikir bagaimana kita bisa tahu bahwa yang kita lihat di jalan itu adalah mobil? Walaupun bentuk, ukuran, suara klakson, dan warnanya berbeda-beda, kok kita yakin bahwa semua yang kita lihat itu adalah mobil? Lalu kenapa ada yang kita sebut bus, motor, atau truk? Kok kita bisa yakin bahwa semua itu tadi bukan termasuk mobil?

generalisasi

Salah satu cara otak kita memproses informasi adalah generalisasi. Generalisasi artinya adalah ketika satu atau beberapa peristiwa dianggap mewakili keseluruhan. Jadi beberapa hal disamaratakan bahwa hal-hal lain pun sama. Ini dikarenakan ketika pertama kali belajar mengenali beberapa peristiwa yang sama, otak kita mengidentifikasi ada ciri-ciri yang sama. Sehingga, ketika melihat peristiwa lain yang punya ciri-ciri yang sama, maka otak kita langsung menyimpulkan bahwa itu sama dengan peristiwa yang pertama kali dia kenali.

 

Oke, kalau jadi bingung, silahkan baca lagi dan cerna paragraf di atas pelan-pelan ya, hehe..

 

Dengan generalisasi kita bisa tahu dari sekian banyak kendaraan yang lewat itu adalah mobil, karena semua punya ciri yang sama, yaitu rodanya empat. Ketika ada kendaraan beroda tiga lewat, otak kita agak bingung, “eh, ini mobil bukan ya?” Lalu menyimpulkan, “ah mobil juga kok, karena digerakan mesin dan ada ruang di dalamnya tempat supirnya duduk,” Nah, otak kita ternyata menemukan ciri-ciri lain yang ada di seluruh mobil.

 

Sebetulnya proses generaliasi ini berguna. Kalau tidak ada proses ini, kita pasti kerepotan karena setiap kendaraan itu kita anggap gak ada kesamaan sama sekali sehingga kita harus memberi nama yang berbeda beda terus. Ribet kan hidup seperti itu?

 

Bagaikan dua sisi mata uang, ternyata generalisai juga bisa tidak berguna, bahkan membatasi hidup kita. Karena hanya dari satu atau beberapa kali peristiwa, kita bisa menganggap itu menjadi sebuah kebenaran absolut. Terutama bila peristiwa tersebut adalah yang menimbulkan emosi negatif.

 

Contoh, karena seorang wanita pernah dikecewakan pacarnya, dia langsung menyimpulkan semua laki-laki buaya, hehe. Semakin kuat emosi negatifnya, semakin menyamaratakanlah kita terhadap kejadian atau hal tertentu.

 

Gemeralisasi yang seperti ini menggunakan kata-kata seperti semua, tidak sama sekali, selalu, tiap orang, tak seorang pun, tak satu pun, dll.

 

Dalam konteks coaching, seorang Coach musti mampu mengidentifikasi pernyataan generalisasi coachee yang dia yakini sebagai kebenaran absolut, terutama yang tidak efektif untuk mendukungnya mencapai goal. Apabila goalnya adalah mencapai target penjualan dan dia punya keyakinan bahwa tak seorang pun tertarik dengan produknya, tentu ini tidak akan membuatnya mencapai tujuan tsb kan?

 

Lalu bagaimana selanjutnya? Tugas Coach adalah men-challenge pernyataannya tersebut, apakah itu adalah kebenaran absolut atau tidak. Caranya akan akan saya jabarkan di tulisan berikutnya ya.

 

Belajar Coaching Skill ACSTH 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

M. Adithia Amidjaya, PCC

Coaching 101 – Follow Through

Selamat Pagi dan Apa kabar? kita akan membahas mengenai follow through, apa ya itu? ikuti ya artikel ini.

Sebuah program coaching pasti terdiri dari beberapa rangkaian sesi hingga coachee mencapai tujuannya. Biasanya di akhir sebuah sesi coaching, coachee akan merumuskan action plan. Agar coachee tetap ‘on track’ terhadap tujuannya, seorang coach perlu memastikan hasil-hasil action plan tsb.

 

Kemampuani ini disebut Managing Progress and Accountibility, yang merupakan satu dari sebelas kompetensi inti dari ICF. Dalam hal ini, seorang coach musti mampu menindaklanjuti pelaksanaan rencana-rencana coachee. Istilahnya adalah ‘follow through.”

follow through

Model yang saya ajarkan di program ACSTH 66 Jam untuk melakukan follow through adalah FEELING. Ini adalah sebuah singkatan, sbb:

 

  1. FACTS. Pada sesi berikutnya, coach menggali fakta-fakta mengenai apa yang coachee sudah atau belum berhasil  lakukan atau selessikan semenjak sesi sebelumnya;
  2. EMOTIONS. Cek emosi atau perasaan coachee mengenai fakta-fakta di atas;
  3. ENCOURAGE. Puji usaha coachee. Hargailah perubahan yang dia telah buat. Akui tantangan yang dia hadapi saat menjalankan action plan tsb;
  4. LEARNING. Cek pelajaran apa yang coachee dapatkan saat mengerjakannya. Fokuskan pada perilaku barunya;
  5. IMPLICATIONS. Setelah itu dapatkan implikasi dari apa yang coachee telah pelajari. Bantu dia untuk melebarkan pelajaran atau perilaku barunya ke konteks yang lebih luas;
  6. NEW GOAL. Akhirnya, temukan sasaran baru untuk coachee fokuskan. Lakukan coaching terhadap hal ini, sebagai agenda coachee di sesi ini.

 

Dengan menjalankan model di atas, bukan hanya sesi-sesi coaching tetap ‘on track’, juga coachee akan mengalami kesadaran baru mengenai dirinya. dengan adanya konsep follow through ini diharapkan seorang coach mampu memonitor rencana-rencana sang coachee dengan baik.

 

Belajar Coaching Skill 66 Jam secara LENGKAP dan FUN akan memberikan hasil perbaikan di kehidupan pribadi dan profesional kita.

 

M. Adithia Amidjaya, PCC

 

Mengembangkan Bisnis yang baik

Cita-cita pebisnis dimana pun pasti ingin tetap mendapatkan dan mengembangkan bisnis nya sehingga penghasilan tetap mengalir dari bisnisnya itu. Tidak ada orang di mana pun yang ingin bisnis nya merugi dan akhirnya bangkrut. Jadi bagaimana cara nya supaya bisnis ini bisa mengembang dengan baik dan menghasilkan income ya.

Bisa dilihat dari beberapa factor. Untuk memastikan bisnis ini berkembang dan tetap berjalan dengan baik, periksa beberapa hal ini :

Mengembangkan Bisnis

  1. Orang yang tepat.

Pastikan orang yang menjalankan bisnis ini adalah orang yang tepat. Yang artinya adalah orang yang mempunyai kemampuan dan ilmu pengetahuan mengenai bisnis yang dijalankan. Siapa orang ini? Bisa diri kita sendiri sebagai owner atau pemilik. Dan bisa juga orang yang kita percayai dalam menjalankannya. Mengembangkan bisnis menjadi baik hal mudah bila dijalankan oleh orang yang tepat pada posisinya.

  1. Pahami produk

Bagaimana kemampuan para pebisnis dalam mendalami produk yang mereka kelola? Apakah sudah benar-benar memahami akan produknya. Mengembangkan bisnis akan menjadi mudah bila produk yang dijual itu bisa kita pahami secara detil apa yang kita jual. Hal yang paling basic adalah, apa sih manfaat dari produk yang di jual ini untuk para pembeli. Jangan sampai begitu ditanyakan oleh calon pembeli, kita tidak mampu menjelaskannya dan malah kebingungan sendiri. Yang ada calon pembeli malah menjadi ragu akan produk tersebut dan akhir malah mundur dan membeli dari competitor kita. Artinya bisnis kita bukannya mengembang malah menurun.

  1. Kemampuan para Marketing dalam menjual

Sudah tepatkah para marketing yang kita punyai dalam mengembangkan bisnis yang kita jalani menjadi lebih baik ? bisa dilihat dari bagaimana mereka menawarkan produk kepada calon klien. Bukan hanya kepada calon klien baru tapi juga bagaimana mereka para marketing menjalin hubungan dengan para klien lama. Jangan-jangan mereka malah kebingungan bagaimana menjualnya. Berarti sudah waktu nya mereka di berikan pelatihan untuk hal ini.

 

Bila hal tersebut diatas sudah berjalan dengan baik. Berarti kita sebagai pebisnis bisa sedikit bernafas lega. Karena bisnis kita akan berkembang dengan baik.